Again

2663 Kata
     Tak terasa sepekan telah berlalu, hari ini adalah upacara penutupan MPLS. Aku gugup sekali, entahlah tapi jantungku benar-benar berdebar, karena hari ini ketua OSIS dan seluruh ketua koordinator dari semua seksi akan menyampaikan pesan dan kesan kepada seluruh siswa-siswi baru. Dan tentu saja kami sudah berubah status menjadi siswa kelas XII alias murid tingkat akhir.      Kami masih bersiap-siap di ruang OSIS. Berkali-kali aku menarik nafas panjang dan memainkan jari-jari ku. Aku selalu seperti ini tiap kali akan tampil di depan publik. Dani menghampiriku.     "Sya.. kamu kenapa? kamu sakit? nggak usah ikut upacara."    "Enggak.. aku cuma gugup aja, nanti harus berdiri diatas pentas dan lihat banyak orang." aku mencoba tersenyum kepadanya.     "Yakin? kamu nggak sakit?"      "Enggak kok aku emang sering kaya gini, nggak tau kenapa." ucapku sambil memegangi dadaku yang kurasakan debaran jantungku begitu keras. Aku duduk di kursi, sementara yang lain menyiapkan pidato mereka.     "Udah kamu nggak usah ikut upacara kalau sampek kaya gini."      "Enggak papa kok, ini kan tugas terakhir." jawabku.      "Aku hanya gugup." tambahku.      "Okke kalau kamu nggak sanggup nanti kasih tau aku." katanya. Aku mengangguk.     Dan acara hari ini setelah Upacara penutupan adalah pensi, dimana sebelum acara dimulai kami para ketua koordinator dan ketua OSIS akan menyampaikan pesan-pesan dan kesannya terhadap acara kami.      Giliran kami pun tiba, kami naik ke atas pentas yang begitu megah dengan segala strip light dan spotlight nya, walaupun siang hari namun mereka mempersiapkan panggung pentas sedemikian rupa.      Kami berdiri berjajar sesuai urutan, diujung Dani, kemudian kami ketua koordinator mulai dari seksi 1 sampai 10.     Aku berada di urutan ke tujuh. Perasaan gelisah dan cemas tadi kini semakin memuncak, perutku kram, kupengangi dan berusaha mengatur nafas, karena dadaku sakit sebab nafas pendek tak beraturan. kepalaku pusing dan mual mulai kurasakan, keringat dingin merayapi sekujur tubuhku. Bella yang berada di dekatku menyadari kalau aku sedang tidak baik-baik saja. Dan aku lupa tidak membawa obatku tadi tertinggal di mejaku.     "Sya... mending kamu turun dan istirahat, lihat udah Sampek kaya gitu." aku membalasnya dengan senyum yang masih bisa kupaksakan.     Namun aku sudah tidak tahan lagi. Sesaat setelah Bella kembali menghadap kedepan kupegangi tangannya sambil sebelah tanganku menekan dadaku.         Bella melihat kearah ku dan dia mulai panik.      "Dani... Dani..." panggilnya.     "Dann..." panggilnya sekali lagi, dan dia menoleh.                       "Syaluna kayanya sakit deh." bisiknya. Dani mendekat ke arahku dan memegangi pundakku.      "Ayo kamu udah nggak bakal kuat berdiri lebih lama." dia berusaha mengajakku turun dari pentas.      Tapi aku sangat lelah, dan tidak bisa merasakan kaki ku melangkah kemana. Aku hilang keseimbangan bersamaan dengan dunia yang tampak gelap di mataku.      Dalam kesadaran yang tersisa, Dani segera menangkap ku dan membopong turun dari pentas. Petugas PMR segera mendekat dan memberikan pertolongan pertama.       "Tolong ya." ucap Dani pada mereka sebelum dia ninggalin aku buat melanjutkan tugasnya. Petugas PMR menanduku menuju pos medis mereka.     Sampai disana aku benar-benar tidak ingat berapa lama aku pingsan, yang jelas saat aku sadar udah ada Dito dan Vika di sebelahku.     "Nih minum..." Vika memberikan sekotak s**u UHT yang menjadi sponsor acara pensi kami.     "Panic attack? lagi-lagi?" tanyanya kemudian.     "Iyaa kaya gitu mungkin, nggak tau aku nggak bisa kontrol, semakin aku berusaha melawan nafasku makin pendek-pendek, perutku kram dan kaki ku lemas." terangku.     "Tapi kamu nggak phobia kan sama keramaian?" tanya Dito padaku.     "Enggak kok, aku nggak phobia, ya tapi gitu Suka tiba-tiba panic attack." ucapku sesaat setelah menyesap s**u UHT.     "Udah kuat belum? kita keluar yuk, apa mau disini dulu." ajak Vika.     "Keluar aja yuk." ucapku. Kami meninggalkan pos PMR.     "Ke kantin aja, aku belum makan." tambahku kemudian.     "Okke aku juga lapar kok." sahut         Kami bertiga menuju kantin yang lumayan sepi karena semua berpusat di halaman sekolah.     "Ehh Dito... itu apaan?" aku lihat dia makan sesuatu yang krispi.     "Jamur krispi, mau?" tanya Dito.     "Boleh deh ambilin dua dong tolong, kesukaannya Dani tuh." pintaku.     "Kalian berdua baru jadian tau kalau Dani suka ginian?" tanya Dito.     "Iya nih, jadi aneh, jangan-jangan kalian udah lama jadian." tambah Vika.     "Ng.. nggak kok, emang baru aja jadian masih beberapa waktu yang lalu kan, tapi sewaktu kita makan, dia nambah-nambah terus jamur krispi nya, jadi kupikir dia suka." jawabku gelagapan, gimana nggak ngerti, dirumah tiap kali aku bikin jamur krispi belum juga selesai nggoreng udah habis sama dia.      "Kirain... Backstreet sama kita udah lama." kata Vika.      "Enggaklah..." jawabku. Bersamaan dengan itu ponselku bergetar, kulihat pada display ponselku ternyata Dani is calling.      "Kamu dimana?"      "Lagi makan di kantin."      "Sama siapa?"      "Dito sama Vika? kamu nggak makan?"      "Iya aku nyusul, tungguin ya."      "He em..." Dani mengakhiri panggilannya. Dan aku melanjutkan makan bakso yang sudah aku pesan tadi.     "Udah gitu doang?" tanya Vika.      "Apanya?" aku balik bertanya.       "Nelpon nya, gak ada panggilan sayang, gak ada romantis-romantisnya." jawabnya. Aku yang sedang menyeruput kuah pedas, auto tersedak, gak bisa bayangin kaya gimana sayang-sayangan sama Dani, tiap hari ketemu dirumah sampek bosen, ngajakin berantem gak ada alasan yang jelas, tiba-tiba jadi pacar aja udah nggak ngerti lagi harus gimana bersikap.       "Ohhh itu... ya nggak tau Vik, enakan gini sih menurutku."      "Ya terserah ya, tapi setahuku cowok gampang bosen dengan hubungan yang monoton." lanjut dia.      Aku sendiri masih nggak tau dengan hubungan kami, mungkin rasa sayang rasa, cinta emang beneran ada, tapi buat kedepan aku nggak ngerti bisa gak sih bertahan atau hanya jadi kisah cinta sesaat aja.       Dari jauh aku lihat Dani datang kearahku. Dia tersenyum sambil sesekali menengok ke arah pensi anak-anak yang baru saja dia tinggalkan.      Tuhan... jika aku boleh meminta, aku ingin dia selalu ada disisiku, aku ingin dia jadi bagian dari hidupku, aku suka sama dia, sejak dia masih suka bikin aku marah, kesel dan nangis-nangis.     Ctakk... Dani yang baru aja sampai dan duduk di dekatku, menjentik dahiku.    "Ngelamun aja."    "Enggak aku lagi menghayati kenikmatan kuah bakso."    "Kok aku nggak dipesenin?" tanya dia kemudian.    "Aku pikir kamu makan catering di bawah, aku nggak makan karena gak suka daging."    "Mau aku pesenin sekarang?" tanyaku.    "Enggak deh, ini aja buat aku ya." ucapnya sambil nyomot jamur krispi yang aku siapkan untuknya tadi.    "Iya tadi emang aku ambil itu buat kamu."    "Hmmm pengertian banget, makasiih ya." ucapnya mulai melahap camilannya.    "Kurang asin sih, enakan buatan kamu."     "Oh ya... masa sih?" aku mengambil satu untuk mencicipi dan membandingkan dengan resepku.    "Iya sih... terus kurang kering juga." jawabku.    "Kalau udah senggang kamu mau nggak bikin lagi, biar aku yang belanja, kamu dirumah aja, terima beres tinggal masak."     "Bolehh..."    "Wait.... Syaluna sering kerumah kamu?" tanya Vika, nggak tau telinganya sengaja nguping atau emang beneran denger dari tempatnya.     "Iya... kenapa?"     "Baru jadian udah sering kerumahnya Dani nggak gugup emangnya? terus pertama kali ketemu orang tuanya gimana?" lanjutnya yang lebih ditujukan padaku.     "Ehmmm..." aku masih berpikir nyari alasan yang tepat.    "Sebenarnya, sebelum Syaluna pindah sekolah kesini, aku sama dia udah kenal dari kecil, makanya gak heran kan gimana aku perlakukan dia kaya adik aku sendiri, ya emang gitu, udah kenal dari kecil, udah sering maen kerumah." jelas Dani.      "Wait... perlakukan kaya adek gimana, kamu suka gangguin dia, usilin dia tanpa perasaan..." bantah Vika.     "Ya maap soal itu." jawab dengan Dani sambil tertawa.     Perlakukan aku kaya adiknya, ya emang dia Abang ku. Tapi aku suka sama dia. Seandainya ini emang salah, Tuhan tolong kasih waktu buat aku sebentar saja untuk merasakan cinta.      "Kenal dari kecil, pantesan deketnya kalian natural, nggak dibuat-buat." tambah Dito.     "Ehh kita mau diajak tour kemana nih, usai tugas terakhir?" aku mencoba mengalihkan topik pembahasan.     "Seandainya ke Bali." jawab Vika.      "Ngarep dah ah, berapa emang dana kesana buat kita semua." sela Dito.      "Berharap kan boleh Dit." potong Vika.      "Iya emang kita mau kesana." Dani menengahi mereka.      "Serius??"tanya Vika.      "Iya... Pak Agus udah kasih tau aku, kita mau kemana."       "Yeiiiyyy... Bali I'm coming" seru Vika. Aku juga senang, kita bisa liburan ke Bali.       Walaupun udah pernah kesana, tapi kalau bareng-bareng Dani mungkin akan jadi kenangan yang beda. Tak terasa aku senyum-senyum sendiri, dan Dani liatin aku dong. Malunya sampek ke nadi. Aku buru-buru mengalihkan perhatian darinya.      Ehhh nih anak bukannya peka aku malu kalau dilihatin malah dia angkat dagu ku dan dia diliatin sepuasnya sambil menahan tawa.      "Apaan siihh..." aku membuang tangannya.      "Kamu lucu kalau salah tingkah, dari dulu suka gemes kalau liat kamu kaya gitu." terangnya.     Aku udah nggak bisa tahan lebih lama duduk disini, aku buru-buru membayar makananku dan pergi dari sana.     "Sya... mau kemana? lahh ditinggalin kita." kata Vika.    "Bentar ke toilet doang." jawabku. Usai dari toilet aku ngajak mereka kembali ke acara, udah tinggal penutupan doang, sayang sekali kalau dilewatkan.     "Paling juga lagu SHAUN sebagai penutup." Dito nyengir. Dan benar saja dong, suara mereka pecah mengikuti alunan lirik SHAUN Way Back Home. Termasuk aku dan Vika. Suasana tambah meriah saat party popper sebagai penutupan diiringi pelepasan ratusan balon biru putih ke udara. Kami berempat menyempatkan diri berfoto di tengah momen tersebut.      "Akhirnya nugas setahun berakhir dengan sukses." Ucap Dani.      "Siapa dulu dong ketua OSIS nya." kata Dito sambil tepuk tangan.     "Siapa dulu dong seksi seni nya,makasihh buat kerja keras kalian nyusun ini semua." ucapnya kemudian.      "Iya kita bela-belain nggak tidur semaleman cuma buat mikirin konsep." celetuk Vika.      "Tenang aja, kalian bakalan dapat reward yang setimpal." kata Dani.      "Habis ini kita ngapain? masih harus kumpul lagi nggak?" tanya Vika.      "Enggak udah capek kalian aku ngerti kok, langsung pulang aja." jawab Dani.      "Sya... pulang bareng aku aja." ajaknya.     "Nggak papa, aku juga capek mau jalan ke halte." jawabku.       "Biar ada faedahnya tuh si Dani selalu bawa-bawa dua helm sejak kamu pindah kemari." sela Dito.      "Oh ya masa sih?" Vika jadi kepo.      "Iyaaaa tuh tanya aja orangnya."      "Emang bener? sejak aku pindah kesini kamu selalu bawa dua helm." tanyaku langsung membuatnya tersipu.      "Kamu mau tau? ya aku ngarep aja, kayak kamu sekali-kali berangkat atau pulang bareng aku." jelasnya.       "Ternyata Dani udah bucin sebelum jadian woee." Vika ketawa ngakak.       "Gimana nggak bucin, asal kalian tau mau nyepik dia dari awal-awal dulu susahnya kek mo meninggal." Jawab Dani hingga tawa kami berempat pecah.  ***            Aku dan Dani sampai rumah, kulihat ada tiga mobil berjajar di depan garasi. Sepertinya yang satu milik papa Dani dan 2 lainnya milik tamu beliau.     "Kaya nya papa udah pulang deh."     "Ada tamu juga." tambahku.     Begitu masuk, memang papa Dani sedang bersama dua orang tamu, satu bapak-bapak dan satu lagi sekitar 2-3 tahun diatas ku usianya. Aku memberi salam pada mereka saat melewati mereka di ruang tamu, sedangkan Dani ngeloyor gitu aja. Tiba-tiba Om manggil aku.       "Sya... habis ini kamu ganti baju, terus antar David ke Gramedia, dia baru pulang dari Kanada, dan mau kuliah disini, David anaknya Om Ferdi temen om, kamu nggak keberatan kan?" tanya om Angga.      "Ehh... sama Syaluna om?"      "Iya... kamu nggak sibuk kan."      "Oh iya nggak kok om." jawabku.      "Kenapa nggak nyuruh Dani aja pa?" sahut Dani.      "Udah kamu tidur aja." jawab om Angga. Aku mengisyaratkan Dani untuk diam dan jangan membantah.       "Nggak sopan tau, kaya gitu, di depan tamu pula." ucapku sambil naik ke kamar kami.      "Kesel aja, dan kamu kenapa mau aja disuruh sama papa?"      "Melihat gimana om Angga berlaku sedemikian pasti mereka tamu pentingnya om, jadi aku menghargai aja." jawabku. Tiba-tiba Dani menarik lenganku begitu kami melewati kamarnya. Kemudian merapatkan ku ke dinding di sebelah pintu. memposisikan kedua tangannya berada di sisi kanan kiri kepalaku.       "Kalau kamu ngerasa gak nyaman, atau perlu bantuan, kamu chat aku ya." aku hanya menganggukkan kepala dan buru-buru memalingkan muka saat dia berniat menciumku. Benar-benar cari mati ini anak, gimana kalau om Angga tiba-tiba nyusulin aku dan berada diambang pintu, mana pintu gak ditutup lagi.       "Aku balik ke kamar ya, iya nanti kalau perlu bantuan aku chat kamu." pamitku. Dan baru pertama kalinya dalam hidup, aku melihat Dani dengan wajah seperti itu. Kaya takut banget aku bakalan pergi ninggalin dia.      Setelah ganti baju, aku mendekat ke cermin dan siap memoleskan liptint di bibirku sampai tiba-tiba Dani muncul dari pintu balkon dan mengejutkanku.     "Udah nggak usah dandan." dia merebut kuas liptint yang aku pegang.     "Ya ampun Dan... ini cuma liptint yang biasa aku pakek." ucapku. Nggak ngerti lagi ini bentuk cemburu sebagai pacar atau protect sebagai kakak.      "Iya deh iya... nih kamu tutup gih." ucapku seraya memberikan wadah liptint nya. Dia mengambil lalu menutupnya.      "Aku cuma pergi bentar doang." aku menepuk-nepuk pundaknya kemudian mengambil tas dan melambaikan tangan padanya.       Aku dan David pergi dengan mengendarai mobil David yang tadi aku lihat di depan rumah. Sepanjang perjalanan aku hanya diam dan mendengarkan David bercerita alasan kenapa dia pulang ke Indonesia, dan lain sebagainya.      Mobil kami tiba disebuah area parkir Mall yang aku maksud di David tadi. Aku membimbingnya ke Gramedia, Dia mencari banyak banget buku. Hampir setengah jam, tapi kurasa lama banget, setelah dia membayar semua bukunya, dia ngajak aku foodcourt buat cari makan.      Aku terus teringat wajah Dani yang entahlah, kayanya sedih banget tadi. Sampai tiba-tiba David menarikku karena seseorang yang tinggi besar mau menabrak ku. Kemudian dia terus melingkarkan tangan dipinggangku. Jantungku terpacu dengan kencang, langkahku terhenti tiba-tiba aku ngerasa takut berada di tempat ramai, asing, bersama orang-orang asing. Kulepaskan pelan-pelan tangan David dari pinggangku. Membuat dia bertanya-tanya.      "Kamu nggak papa?" Aku mengangguk lalu melanjutkan jalanku. Tapi nafasku udah pendek perutku kram, kayanya aku beneran mengalami gangguan kecemasan. Aku mencoba mengatur nafas dan kupegangi perutku namun nihil.        Ku keluarkan ponselku dan Shareloc ke Dani, aku hanya berharap ada dia disaat seperti ini. Aku mencari tempat duduk yang masih kosong.      "Kamu mau makan apa biar aku yang pesenin?"      "Aku tadi udah makan kok, kamu pesen aja." jawabku.      "Oh gitu, ya udah aku pesen dulu ya." pamit dia. Gak berapa lama, Layaknya Ok Google Dani langsung ada di tempatku. Tanpa banyak bertanya dia sudah paham. dia genggam sebelah tanganku dan mengusap punggungku. Untuk menenangkan ku. Ku pegangi d**a ku yang terasa sesak untuk beberapa saat. Lalu kuletakkan kepala diatas meja, mau nyandar kedia takut jadi perhatian orang.      "Kamu ngapain disini?" tanya David yang balik ketempat kami.      "Kamu nggak liat adikku kesakitan."      "Aku nggak ngapa-ngapain, dan dia tadi baik-baik aja kok."      "Bukunya udah dapat kan, biarin aku bawa adekku pulang."      "Yah... yaudah deh."kata David kemudian.      "Ok... kami pulang, sorry ya, tapi adikku suka mengalami panic attack, dan itu sakit banget buat dia." terang Dani yang emosinya mulai mereda.      "Oh gitu ya udah, nggak papa, maaf Syaluna aku nggak tau." ucap David. Aku hanya mencoba tersenyum dan menganggukkan kepala. Dani merangkulku dan membawaku pergi dari sana.      "Kamu bawa mobil?" tanyaku saat dia mengajakku ke tempat parkir mobil.      "Iya aku bilang ke papa, tentang kondisi kamu, terus papa suruh jemput dan kasih kunci mobilnya." jawab Dani.      "Maaf ya jadi ngerepotin kamu."       "Iya nggak papa, aku suka kamu masih bergantung padaku." dia tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.      Aku masuk, duduk lalu pasang safety belt. Kemudian Dani mulai memutar kemudi meninggalkan area parkir.      "Dan... aku mau tanya." ucapku.      "Apa?"      "Yang tadi itu..."      "Yang tadi apa?"      "Bentuk perhatian sebagai adik atau sebagai pacar?"      "Nggak bisa dijelasin dengan kata-kata yang pasti aku sayang banget sama kamu." aku terdiam memikirkan kata-kata nya, mungkin saja benar, dia saat ini sayang sebagai pacar, tapi seiring berjalannya waktu saat dia lebih dewasa nanti, akan berubah jadi sayang seorang kakak ke adiknya aja.     Detak jantungku mulai normal, suhu badanku menghangat, dan perutku kembali tenang.     "Ehmm barangkali lebih ke calon suami kali ya." lanjutnya.      "Ehhh???"     "Iya perhatian buat calon istri." lanjutnya, yang langsung membuatku tersipu.      "Kenapa? wajah kamu merah tuh."     "Apaaan siih."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN