LC 24

698 Kata
Hari yang ditunggu Reya tiba, langit pagi ini biru terang, seakan ikut merayakan keberhasilan para sarjana baru. Gedung kampus dipenuhi toga dan bunga-bunga plastik yang dijual di gerbang. Tawa riuh para keluarga mengiringi langkah-langkah mahasiswa yang siap naik ke panggung, memegang map biru berisi sertifikat perjuangan. Di antara mereka, Reya berdiri sendirian. Toga hitam menutupi gaun sederhana yang ia beli dari hasil menabung lemburan kantor. Senyumnya kaku, matanya sesekali menyapu sekeliling mencari sosok yang ia tahu tak akan datang, Tak ada Ayah. Tak ada ibu. Tak ada kerabat. Dan tentu saja, tak ada Barat. Dia menarik napas panjang, mencoba menguatkan dirinya. "Ini hari yang gue tunggu, semangat Reya. Walaupun sendiri, lo tetap berhasil." Ia menunduk pelan, menatap sepatunya yang mulai usang. Sebuah suara memanggil dari belakang, "Reya!" Reya menoleh dan terkejut melihat Satrio berdiri di sana, membawa sekotak kue kecil dan senyum tulus di wajahnya. "Mas Satrio?" Reya terbelalak. "Kok kamu bisa di sini?" Satrio menyodorkan kuenya. "Pak Barat nyuruh saya buat nemenin kamu hari ini." Reya tersenyum, separuh lega, separuh kecewa. Namun sungguh dia bersyukur karena Satrio ada di sini bersamanya hari ini. Setidaknya, dia tidak benar-benar sendirian. "Makasih ya, Mas Satrio udah mau datang." Satrio mengangguk pelan. "Sama-sama, Rey. Aku senang kok, bisa lihat kamu pakai toga. Keren." Untuk sesaat, dunia Reya jadi sedikit lebih ringan. Setelah prosesi selesai, Satrio mengajak Reya makan es krim di taman dekat kampus. Keduanya berjalan di taman depan kampus. sebelumnya membeli es krim tak jauh dari sana. "Dulu, waktu aku lulus, enggak ada yang datang juga," cerita Satrio. "Tapi aku tetep bahagia,. langsung langsung makan es krim sendiri. Rasanya bebas, kayak gini." Reya tertawa kecil, menyeruput cone rasa cokelat. "Kamu ngasih ide bagus, Mas. Aku benar-benar berterima kasih soalnya kamu mau nemenin aku di sini.'" "Sama-sama Rey. Habis ini aku fotoin kamu ya? Di depan kampus pakai toga, buat kenang-kenangan." Satrio memberikan ide yang segera disambut Reya dengan anggukan. Mereka duduk di bangku taman, menatap langit yang semakin redup menjelang sore. Reya tahu hari ini tak sempurna, tapi setidaknya dia punya kenangan manis di hari wisudanya. Di sisi tempat yang berbeda, Barat sedang belanja bersama Tania di sebuah mall. Tania tertawa sambil menunjuk satu per satu gaun dan sepatu di etalase. "Yang ini lucu, enggak sih? Buat kita ke Bali lusa. Jadi kan Bar?" Barat mencoba tersenyum, "Jdi lah, baby. Kita kan udah prepare." Meskipun tersenyum pikirannya mengawang. Mereka terus berjalan lalu, di salah satu rak, Barat melihat sebuah tas kerja berwarna cokelat muda. Simpel, tapi elegan. Entah kenapa bayangan Reya muncul di kepalanya. Tas Reya yang usang. Ritsletingnya pernah macet, dan warnanya sudah mulai memudar. "Tania," kata Barat tiba-tiba. "Tas itu bagus ya." Tania menoleh. "Yang itu? Buat siapa?" Tania bertanya karena itu jelas bukan seleranya. Barat menggaruk tengkuknya, sedikit canggung. "Reya, sekretaris aku. Dia wisuda hari ini. Aku cerita tadi pagi ke kamu kan." Tania menyipitkan mata. "Bar, kamu terlalu perhatian sama dia." "Dia kerja keras buat aku. Dia pantas dapat sesuatu," elak Barat cepat. Tania menghela napas, tapi kemudian berjalan ke arah rak tas dan memilihkan satu yang lebih mahal. "Kalau gitu yang ini aja. Lebih bagus lebih awet juga nanti." "Oke kita beli itu ya?" Tania mengangguk tak menyimpan curiga meski merasa Barat berlebihan. Malam harinya Barat mengetuk pintu kamar apartemen. Reya sudah mengenakan baju rumah, mata sayunya menatap datar saat melihat siapa yang datang. "Ada apa, Pak?" tanyanya pelan. Barat mengangkat tas kado yang dibungkus rapi. "Ini..." Barat diam, seolah berpikir. "Ini dari Tania. Tadi saya cerita kamu wisuda." Reya mengambil kado itu, senyum tipis menghiasi wajahnya. Tapi dadanya sedikit terasa sakit. Tania? "Dia yang pilih ini buat kamu," tambah Barat. "Katanya, selamat wisuda." Reya mengangguk. "Terima kasih, sampaikan ke ibu Tania juga." Reya membuka bungkusan itu setelah Barat pergi. Matanya menangkap tas cokelat elegan. Persis seperti yang pernah ia suka di etalase mall, tapi tak pernah ia sanggupi harganya. Seharusnya dia senang. Tapi ada ruang hampa dan luka di dadanya yang menganga lebar. Tas itu ia letakkan di kursi. Dia menatapnya lama, lalu memejamkan mata. Ia malas merasakan sakit hati, meski jelas itu ia rasakan. Tapi percuma juga ia bicara, lebih baik diam. Dan malam ini, ia merasa lebih baik karena tidur sendirian. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN