Chapter 19: Keith and Aurora

1330 Kata
Under the arch of a starry sky With a temperature well below zero I touched your soul with my warm hands Like a round aura, you reflected the universe Of our love... A labyrinth of roads that lead In stardust, your thoughts whirl as Small particles, and with pure reflection My Aurora Borealis you're so beautiful, robust And longing… I take you into my warm cabin Where we drink hot chocolate The icicles are in your unshaven beard I find you charming with your red hands I'll warm you up… The cold wind makes cracking our wooden hut And along the windows shrilled the sound In contrast with our warm fireplace The crackling of the wood is divine I look at you… My Aurora Borealis, you are so handsome With your thick winter coat still on, As purple and green sparks reach our Living room, where your dark hair glistens I kiss you… It will never be really dark In days of love, where the light shines And see your reflection sparkle Where I could rest by your presence I am with you… a poem by  Elisa Laura   ◇•◇•◇   Ellen meniup coklat panas yang baru saja Frita sajikan untuknya. Asap yang mengepul dari cangkir nampak berbayang di kaca jendela. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke luar, dan menyadari bahwa musim telah berganti lagi. Sejak terakhir kali ia pergi keluar dengan Ravi sekitar seminggu yang lalu, salju pertama sudah turun. Dan sekarang tumpukan es itu menutupi hampir seluruh daratan di Tanah Mounia. Putri Mahkota membalik lembar demi lembar halaman buku sihir yang tengah ia baca. Sudah lewat sebulan sejak hari pertama Ellen mencoba sihir untuk yang pertama kali. Juga, sudah lewat seminggu Ravi lebih sering menghabiskan waktunya untuk bekerja. Padahal ini musim dingin, akan sangat nyaman kalau saja lelaki itu bisa berduaan dengannya di Istana Spica sambil minum coklat panas. “Ravi, kau mau pergi lagi?” Baru saja Ellen mau menunjukkan perkembangan hasil belajarnya, akan tetapi sang Putra Mahkota justru berjalan cepat-cepat melewati ruang tengah. Dia kelihatan sibuk sekali, mungkin tidak akan sadar ada Ellen disana kalau wanita itu tak menegurnya. “Ada beberapa hal yang harus dibicarakan dengan para menteri, Ell, “ Ravi menghentikan langkahnya, diikuti Jayden yang tersentak mundur sepuluh langkah, “Maaf ya, belakangan ini aku tidak punya banyak waktu untukmu.” Ellen menarik napas, berusaha memaklumi, “Baiklah, hati-hati.” Ravi tersenyum lembut kemudian mengecup kening istrinya sebelum beranjak, “Aku janji akan mengabulkan permintaanmu, tapi setelah ini semua berakhir, ya ….” Ellen cuma mengangguk, kemudian memandang kepergian Ravi dan Jayden yang melangkah terburu-buru menembus hujan salju yang masih turun. Sebagian besar tugasnya sebagai Putri Mahkota adalah menemani jadwal sang Putra Mahkota, akan tetapi terkadang ada pekerjaan yang harus dilakukan sendiri oleh lelaki itu tanpa ditemani. “Apa, ya, yang bisa kulakukan di hari sedingin ini?” Perempuan itu menarik napas, kemudian menyandarkan tubuhnya ke sofa. Dia mulai bosan lagi, padahal biasanya hari-hari di Orient terasa menyenangkan. Tapi di saat-saat seperti ini rasanya Ellen mendadak merindukan New York. Kalau seandainya ia masih di kota metropolitan itu sebagai aktris, pasti di penghujung tahun seperti ini akan ada banyak acara penghargaan. Juga setidaknya akan banyak sekali jadwal yang membuatnya sibuk, bukan malah kebosanan seperti ini. Dulu Keith akan langsung membawanya pergi ke Pulau Georgia Selatan. Mereka punya agenda tahunan khusus, yaitu melihat aurora. Ellen kerap kali menyetujui ajakan sang manajer sebagai ajang berlibur, sementara Keith … dia sangat menyukai aurora. Hampir setiap tahun mereka bertandang kesana, terlebih kalau Ellen tak punya jadwal syuting khusus. “Aku tidak menyangka kau menyukai hal-hal seperti ini, Keith.”  Kalimat itu meluncur dari bibir Ellen sekitar empat tahun lalu, saat Keith bilang mengetahui tempat liburan yang bagus dan menenangkan. Waktu itu Ellen masih mengemis peran-peran kecil dari sutradara, dan puncaknya mereka kerap kali tidak mendapatkan job apa-apa. “Katanya Aurora adalah jalur yang dengan sengaja diciptakan dewa untuk menuntun arwah ke surga.” Keith menatap Ellen lekat, ia ingat betul bagaimana bersinarnya bola mata sang manajer sewaktu netra mereka beradu dulu. “Memangnya kenapa?” Cuma itu yang bisa ia tanyakan saat itu. Keith tertawa, ia lantas berbisik pelan dengan penuh keyakinan, “Kau tidak penasaran, apakah orang tuamu ada di sana atau tidak?” “Keduanya sedang menyebrang jembatan akhirat untuk ke neraka.” Ellen menjawab acuh. “Eiy, jangan begitu!” Keith berdecak gemas. “Mereka itu tetap orang tuamu, Ell.” “Lantas kenapa membuangku?”  Keith terdiam. Setiap kali membahas soal ini, akhirnya sudah bisa di tebak. Ellen benci sekali pada kedua orang tua kandungnya. Mereka sama-sama tumbuh di panti asuhan. Bedanya, Keith mendapatkan orang tua asuh yang sangat baik padanya, sedangkan Ellen … tidak ada satu orang pun yang menganggapnya pantas, bahkan hanya untuk di pungut sebagai anak. Seandainya bukan dia penyebab kecelakaan maut itu, mungkin hidupnya tidak akan menyedihkan seperti sekarang. “Aurora adalah fenomena yang tercipta dari interaksi medan magnetik bumi dengan partikel energi yang dipancarkan matahari.” Keith bicara lagi. Kali ini lebih pada dirinya sendiri. “Hal yang menarik darinya adalah … bahwa mereka tetap cantik, meski dunia yang dinamis ini berubah tanpa batas.” Ellen mengikuti pandangan mata Keith pada hamparan langit berbintang yang luas. Bersamaan dengan warna-warni aurora yang melenggang indah, melukis langit tanpa batas. “Kalau kau terkenal nanti, cahayamu harus seperti aurora. Cantik, langka, dan bertahan tanpa batas. Hanya itu satu-satunya cara agar kau bisa memaafkan orang tuamu. Buktikan bahwa kau tidak menyebabkan mereka mati. Buktikan bahwa … impian yang mereka tentang itu adalah bakat alami seorang Eleanor Thyra.” Ellen mendengkus. “Itu terlalu muluk-muluk. Bukan salahku kalau mereka mati karena kecelakaan itu. Impianku sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan hal itu.” “Tenanglah, masih ada beberapa orang yang masih percaya bahwa remaja sebelas tahun tidak mungkin nekad membelokkan setir hanya karena orang tuanya melarang ia masuk kelas akting.” Keith melanjutkan, “Salah satunya adalah aku.” “Semua orang bilang kalau aku adalah bocah tak tahu diri. Padahal Ibu sendiri yang bilang kalau ia akan benar-benar membuangku jika masih bersikeras ikut kelas akting.” Ellen tertawa hambar. “Lalu dia benar-benar membuangku, pergi begitu saja tanpa pamit di dunia yang menakutkan ini.” “Ell, aku tidak akan meninggalkanmu.” Kalimat itu adalah yang paling melekat di kepala Ellen. Dari semua kalimat yang manajernya katakan selama bertahun-tahun membangun karir bersama, kalimat yang berasal dari empat tahun lalu sukses mengusik kerinduannya. Entah mengapa ia jadi lebih melow akhir-akhir ini, terutama saat tidak ada aktivitas atau obrolan. Persis seperti sekarang. Tapi sejauh ini menjadi Putri Mahkota tidak buruk juga. Semua orang menghormatinya dan apa pun yang Ellen inginkan bisa dengan mudah dia dapat. Gadis itu juga tidak perlu bersusah payah menjilat para produser, sutradara, atau senior, apalagi menghadapi komentar pedas dari para haters. Dan yang paling Ellen sukai dari semua itu adalah … dia bisa menjadi dirinya sendiri. Tak ada lagi topeng aktris perfeksionis nan sombong yang biasa ia kenakan dulu. Walaupun tidak berarti dia benar-benar sombong, akan tetapi perempuan itu menyombongkan diri demi bertahan hidup. Jadi, seharusnya aku bersyukur atau menyumpah serapah? Sebaiknya kutentukan lagi saat Isabella datang. Karena dia mungkin saj-- “Tuan, berita dari perbatasan!” Ellen hampir terlonjak saat seorang prajurit berlari panik menghampiri Jayden yang tengah berjaga di depan pintu. Keningnya berkerut ketika mendapati sang Prajurit mengepal tangannya kuat-kuat sambil meremas sebuah gulungan kertas. Begitu Ellen memungutnya, ia terbelalak. ================================================= Kode merah! Perbatasan diserang, kami butuh bala bantuan! ================================================= Akankah peperangan pecah di sini? ◇•◇•◇   Hai~ aku kembali! Adakah yang menunggu bagian seru? Uwuuu~ Akhirnya ada part yang bikin Ellen mengingat masa lalunya waktu amsih di New York. Kira-kira dia bakalan minta balik nggak ya? Hihi. Yuk, pastikan jawabannya di chapter selanjutnya. Jangan lupa tap LOVE untuk cerita FAKE PRINCESS LOVE, agar kamu selalu dapat info setiap kali cerita di update. By the way, aku mau kasih spoiler, loh.... SEBENTAR LAGI ISABELLA MUNCUL!! So, stay tune. See you on next chapter~!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN