Wanita itu terpejam, kemudian sadar bahwa atmosfer di sekitar sudah berubah. Sepersekian detik berikutnya Ellen merasakan embusan angin yang silir-semilir di kulit, bersamaan dengan perasaan bahwa ia akan jatuh. Bola mata karamel itu membulat sempurna, tepat saat ia menyadari posisi yang sangat tidak menguntungkan itu. Sang Putri menutup rapat matanya saat ia terjun bebas di udara dari ketinggian diatas rata-rata. “Hey, Tuan Penyihir, kenapa jadi begini?!” Ellen berseru panik, “Kita akan jatuh, kyaaa!!” Yonathan tertawa, kemudian membentangkan tangannya lebar. Ellen memeluk erat tubuh lelaki itu, berpegangan pada satu-satunya hal yang bisa dia andalkan. Pria itu mengulum senyum kemudian menarik tangan sang Putri dan melepaskan pelukannya dengan sengaja. “KYAAA!!!” Ellen berteriak sejad

