“Aku tidak akan mengakui anak itu!” Octavius, dalam balutan seorang pria berusia di pertengahan usia tiga puluhan menggeram marah. Ia menghisap kuat cerutu yang terselip di bibir, sementara wanita tua yang sedang bicara padanya tampak mengiba. Hari itu cuaca mendung. Awan gelap menutupi hampir keseluruhan Oraca, dan angin yang bertiup lembap mulai menandakan akan datang badai. Ombak di laut selat Oalia mulai tenang. Mungkin tak lama lagi, sampai langit menurunkan beribu pasukannya untuk membasahi Tanah Mounia. “Biar bagaimanapun dia adalah anakmu.” Wanita tua itu berucap pelan, berusaha menjaga nada bicaranya tetap tenang. “Bukankah kau bilang akan mengambil tanggung jawab sepenuhnya ketika mengambil anakku sebagai istri?” Lelaki itu terdiam, sorot matanya menerawang jauh. Teringat pad

