Part 40

1250 Kata

"Apa yang aku lakukan ini sudah benar?" Genggaman tangan Rafli menguat, sejak kemarin pasca pertemuannya dengan Raka, Rafli sama sekali tidak berbicara, bahkan padaku dan Aura. Rafli seakan berada di lema besar, tatapannya begitu kosong saat dia menatap potret cantik Ibunya, terdiam sibuk dengan dunia dan pemikirannya sendiri. Terbiasa melihat Papanya yang selalu mengajaknya bercanda usai sampai di dirumah, mendapati Papanya begitu gamang tak urung membuat Aura bertanya-tanya, sedangkan aku pun tidak berani membuka suara mengusik lamunan dari seorang yang seperti mayat hidup tersebut. Dan sekarang, hampir saja kami sampai di rumah sakit tempat Om Fadil dirawat, memenuhi permintaan Raka kemarin untuk menemui Om Fadil yang sakit keras, Rafli baru mau membuka suara. Aku berusaha tersenyu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN