Pertemuan Kilat

1113 Kata
 Suasana di sekitarnya begitu menenangkan. Alunan musik yang dipilih sebagai teman santap santai dan minum kopi terasa seperti lagu pengantar tidur bagi Bisma. Dia memilih tempat duduk di dekat dinding kaca bagian depan. Supaya mudah terlihat bila ada seseorang yang datang dan bermaksud menemuinya. Karena hari ini ada seorang wanita yang ingin menemui Bisma. Dan sebaliknya. Bisma ingin bertemu dengan orang itu. Lebih tepatnya seorang wanita yang belum dia kenal.   Entah kenapa Bisma memutuskan untuk membalas pesan wanita itu kemudian berangkat ke Kediri. Bisma ingat, seminggu yang lalu, dia menerima beberapa pesan w******p. Semuanya dari nomor asing. Empat pesan dari nomor Kirana —yang masih belum dibalas— dan satu lagi pesan asing dari seseorang yang memperkenalkan diri sebagai staf rumah makan Omah Lemper.   “Permisi,” sapa seorang wanita yang beberapa detik lalu memasuki kafe untuk kemudian menghampiri Bisma. “Mas Bisma ya?”   Bisma menengok, “Iya. Mbak Trisna, kan? Sepupunya Melly?” tanya Bisma.   “Iya,” jawab Trisna. “Maaf ya, Mas, udah nunggu lama ya?” sesal Trisna sembari duduk di hadapan Bisma.   “Nggak apa-apa, Mbak. Maaf juga ya, aku ngajak ketemunya mendadak kayak gini. Oh ya, mau pesan apa?” Bisma memanggil pramusaji perempuan yang kebetulan lewat di dekat meja mereka. Trisna menyebutkan salah satu menu makanan ringan dan minuman dingin kepada pramusaji. Setelah mengangguk dan mencatat pesanan Trisna, pramusaji berlalu.   Dari penampilan Trisna, Bisma menduga bahwa selain Trisna bekerja di Omah Lemper, dia juga memiliki profesi lain. Kemeja polos merah jambu lengan panjang dipadu jeans biru gelap merupakan outfit Trisna sore ini. Rambutnya lurus pendek sebahu tanpa poni. Gaya potongan bob sangat pas membingkai kontur wajah Trisna yang oval. Polesan lipstik tipis warna merah jambu membuat wajahnya yang terlihat lelah dihantam rutinitas menjadi lumayan segar dipandang. Bisma mencium aroma vanilla yang makin kuat setelah Trisna duduk di hadapannya. Mungkin aroma itu berasal dari parfum yang dipakai Trisna.   Sementara itu, sembari sibuk mengeluarkan beberapa lembar berkas yang terbungkus map dari dalam totebag, Trisna sesekali mencuri-curi pandang ke penampilan Bisma. Dari penampilan Bisma, Trisna tidak menyangka bahwa Bisma sebenarnya memiliki sebuah tato di bagian lengan kiri bawah dekat pergelangan karena Bisma mengenakan kaus lengan pendek warna hitam. Tatonya dibuat melingkari pergelangan sehingga jika dilihat sekilas seperti Bisma sedang mengenakan gelang permanen. Namun entahlah, tetapi tato itu terlihat aneh menurut Trisna. Seperti sebuah gambar yang sengaja dibubuhkan bukan untuk sekadar bergaya, tetapi untuk menutupi bekas luka lebam yang tidak bisa hilang atau apapun itu. Trisna penasaran, sebenarnya itu gambar apa.   “Primrose dan tempurung kura-kura,” kata Bisma memecah kesunyian di antara keduanya.   “Ya?” Trisna tersentak. Dia kaget karena tertangkap basah. Bisma menyadari arah pandang Trisna yang sedari tadi tertuju pada tato.   “Kamu penasaran sama ini, kan?” tebak Bisma sembari mengulum senyum. Trisna seketika salah tingkah. Tetapi pada akhirnya mengaku juga. Trisna mengangguk.   “Maaf, Mas. Salah fokus,” kata Trisna. Dia membalas senyum Bisma. Lebih tepatnya tersenyum karena sungkan. “Tapi tatonya bagus. Unik.”   Bisma tidak mengatakan apapun. Hanya anggukan sopan sebagai tanda terima kasih karena Trisna sudah repot-repot melemparkan pujian untuk tato miliknya. “Penampilan kamu di Rumah Asuh Asih juga keren kok. Cerdas banget,” kata Bisma balas memuji.   Trisna tersipu. Tidak menyangka bahwa dia bisa jadi seterkenal itu. Bahkan keviralannya menyebar hingga ke Surabaya. “Makasih.”   “Oh ya, terpilih nggak?” tanya Bisma.   Trisna menggeleng. “Pengumumannya baru keluar lusa, Mas.”   “Oh, belum ya? Semoga terpilih ya. Tapi aku yakin kamu pasti terpilih sih.”   “Mas Bisma bisa aja. Makasih doanya.” Trisna tertawa.   “Bisma aja. Nggak usah pakai ‘Mas’. Kayaknya kita seumuran, kan ya?” Bisma menanyakan tahun kelahiran Trisna. Ternyata tebakan Bisma keliru. Trisna lebih muda dua tahun dari dirinya. “Nggak masalah. Panggil Bisma aja. Biar lebih akrab.” Lagi-lagi Trisna melihat senyum Bisma. Kali ini senyum Bisma terasa berbeda. Seperti lebih bersahabat. Lebih hangat dan terasa dekat.   Seorang pramusaji laki-laki mengantarkan pesanan Trisna. Piring kecil berisi roti bakar selai cokelat-kacang telah tersaji di atas meja. Disusul kemudian segelas jus mangga. Trisna mengucapkan terima kasih, kemudian pramusaji berlalu setelah berkata ‘selamat menikmati’.   “Kalau gitu panggil nama aja. Nggak perlu pakai ‘Mbak’. Biar impas.” Trisna mengatakan hal yang sama seperti maksud Bisma.   “Okay, deal,” angguk Bisma. “Oh ya, silakan kamu duluan yang jelasin. Setelah itu aku.”   Trisna mengikuti arah pandang Bisma. Lembaran map di atas meja. Kemudian Trisna mulai menjelaskan panjang lebar mengenai kelanjutan acara seleksi pembaca dongeng yang diadakan oleh Rumah Asuh Asih. Untuk itu, dia segera menghubungi Bisma. Trisna kagum dengan penampilan Bisma di Omah Lemper tempo hari. Dia mengaku mendapat nomor ponsel Bisma dari Melly.   “Nah, karena kamu jago main gitar dan nyanyi, kira-kira kamu mau nggak, ngisi acara penutupannya? Ini rincian acaranya,” kata Trisna sembari menyodorkan sebuah pamflet kepada Bisma.   Bisma hanya melihat sekilas, seperti tidak membacanya secara mendalam, kemudian langsung menyetujui tawaran Trisna. “Oke, boleh.”   “Wah, seriusan?” seru Trisna dengan muka semringah. Tidak menyangka akan semudah itu mengajak Bisma berkerjasama. Padahal yang dia dengar dari Melly adalah Bisma terkenal susah diajak atau dimintai sesuatu. Sekalipun diberi honor, Bisma menolak tawaran apapun bila sedang dalam mode tutup mulut atau ketika suasana hatinya sedang buruk. “Makasih ya, Ma.”   “Sama-sama, Tris,” balas Bisma. “Oh ya, maaf untuk beberapa hari kemarin. Aku lagi bed rest jadi nggak pegang ponsel sama sekali. Pesan dari kamu jadi terabaikan selama berhari-hari. Maaf ya.”   Trisna mengangguk mafhum. Dan keduanya kembali melanjutkan obrolan ringan tentang perjalanan Bisma ke Kediri atau tentang keseharian Trisna di Omah Lemper. Tidak lama kemudian, keduanya begitu asyik dan tenggelam semakin dalam dengan obrolan masing-masing. Hingga tiba-tiba dari arah belakang, Bisma dikagetkan oleh suara wanita yang memanggil namanya. Ketika wanita itu menghampiri meja, Trisna berdiri.   Bisma menoleh mencari sumber suara. Dan seketika matanya terbelalak mendapati siapa yang baru saja memanggil namanya.   “Bisma, kan?” ulang wanita itu hingga berulang kali seperti belum percaya bahwa yang ada di hadapannya saat ini adalah benar seorang laki-laki bernama Bisma. Setitik air mata mendesak keluar. Binar matanya mengundang rasa iba bercampur kerinduan yang telah beku.   Sementara itu, Bisma tidak bisa mengalihkan tatap matanya dari wanita itu. Sontak Bisma berdiri. Namun kakinya terasa berat. Seperti ada batu yang menghalanginya melangkah. Wanita itu masih menyebut nama Bisma berulang kali hingga Trisna pada akhirnya yang angkat bicara.   “Kamu kenal sama Mbak Rana?” tanya Trisna kepada Bisma.   Rupanya keberadaan Trisna baru disadari oleh Kirana. Kirana mendadak seperti orang linglung ketika dia melihat sosok Bisma. Seketika Kirana menoleh dan tiba-tiba rasa cemburu menyelimuti dirinya. “Trisna? Sejak kapan kamu ada di sini?”     **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN