Pagi itu, sekitar pukul tujuh kurang sepuluh, Dhannis baru saja selesai mandi di kamar mandi kecil apartemen Ina. Wajahnya segar, tapi matanya masih memerah. Bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena semalaman berjuang melawan krisis biologis yang tak ia duga datang dalam bentuk pelukan spiritual yang terlalu.. efektif. Ia menatap cermin dan menghela napas panjang. "Pelukan damai... tapi efeknya kayak kerusuhan hormon nasional," gumamnya lirih, sambil menggeleng pelan. Saat keluar dari kamar mandi, Dhannis melihat Ina masih meringkuk di tempat tidur. Selimut melilit sampai dagu, dan poni acak-acakan menutupi sebagian wajahnya. Dari bibir mungil yang mengintip di balik guling, terdengar dengkuran kecil yang sangat tidak konsisten, kadang ada, kadang hilang, seperti sinyal Wi-Fi di pun

