Senin 5:50 pagi, saat Dinda tengah bersiap-siap berangkat untuk berangkat kerja.
Bi Tinah mengetuk pintu kamarku untuk memberitau kalau ada yang mencariku di depan.
Segera ku beranjak dari meja rias lalu berjalan menuju teras rumah.
“Hai.. masuk dulu yuk. Udah sarapan?” Sapa ku ketika kulihat Febri duduk dikursi teras
“Hai.. gak usah. Makasih. Gue gak biasa sarapan pagi. Suka mules” jawab Febri sambil cengengesan.
“Ya udah masuk dulu. Mau minum apa?” Tanya Dinda sambil menuju ruang tamu diikuti Febri dibelakannya.
“Air putih aja” jawab Febri saat duduk.
“Ok. Bentar ya gue ambil tas di kamar dulu” kata Dinda setelah diangguki Febri lalu pergi ke kamar untuk mengambil tas.
Sembari menunggu Dinda ia melihat ke sekeliling ruang tamu. Ruang tamu rumah Dinda bergaya minimalis. Tidak terlalu banyak perabotan di dalamnya. Hanya ada satu set sofa dan meja tamu, lampu hias dan coffee table di pojok ruangan. Serta temboknya dihiasi beberapa foto anggota keluarga. Mulai dari foto Dinda dan dua saudara laki-lakinya saat masih kecil hingga foto kelulusan Dinda dan salah satu saudara laki-lakinya. Sepertinya itu foto kakak lali-laki Dinda. Karna dilihat dari wajahnya umur mereka tidak terpaut jauh. Di sana juga dipajang sebuah foto keluarga yang sepertinya diambil belum lama ini saat Idul Fitri. Di foto tersebut terlihat keluarga Dinda sangat harmonis dan akrab satu sama lain.
Tak lama Dinda keluar.
“Yok berangkat” ajak Dinda
“Ayah sama bunda mana? Gak enak mau pamitan dulu” kata Febri.
“Lagi nginep di rumah eyang. Besok baru pulang. Yok takut macet kalau kesiangan” terang Dinda “Bi kita berangkat dulu ya. Assalamualaikum..” kata Dinda saat melewati Bi Tinah yang sedang menyiram tanaman.
“Wa’alaikusalam.. hati-hati ya non” jawab Bi Tinah.
“Feb, sorry banget ya kemaren gue ketiduran di mobil pas balik. Kalau perut udah kenyang bawaannya ngantuk” kata Dinda sambil tertawa.
“Santei aja” jawab Febri sambil matanya tetap menatap jalanan.
Selama perjalanan mereka membahas tempat yang kemarin mereka kunjungi, juga tempat-tempat lain yang dirasa cukup menarik untuk didatangi disekitaran Jabodetabek.
Perjalanan berangkat ke kantor Dinda tidak begitu macet. Jadi jam 7:20 mereka sudah sampai.
“Thanks ya Feb” kata Dinda sebelum turun dari mobil Febri.
“Any time. Nanti balik mau bareng lagi gak?” Tanya Febri berharap bisa bertemu Dinda lagi saat pulang nanti.
“Umm.. kayanya gak usah deh. Jam 3an nanti gue ada meeting. Takut sampai malam” Tolak Dinda halus.
“Gak apa-apa gue tungguin. Takutnya malah lo kenapa-kenapa kalau pulang malem sendirian. Apalagi naik angkutan umum” kata Febri mencoba bernegosiasi dengan Dinda.
“Gak usah Feb. Takut ngerepotin” Tolakku lagi. Tak enak kalau harus diantar dan jemput padahal mereka baru kenal.
“Enggak repot. Ya udah gue gak maksa. Tapi kalau lo berubah pikiran atau udah kemaleman pulangnya kabarin gue ya” kata Febri berusaha tidak memaksa Dinda. Padahal ia agak kecewa karna tidak bisa bertemu lagi saat pulang nanti. Dia tidak ingin terlihat memaksa. Takut Dinda ilfeel padanya kalau terlalu ketara menunjukan perhatiannya.
“Ok. Thanks again ya Feb. Take care” kata Dinda sambil melambaikan tangan lalu berbalik masuk ke kantor.
Saat menjelang makan siang di kantor Dinda.
Ting..
Vincent: Lunch?
Dinda: Next time ya. Gue masih banyak kerjaan. Habis makan siang mau meeting”
Vincent: Ok. Kalau gitu besok kita dinner ya. Deal?”
Dinda: Let me check first
Vincent: Tidak terima penolakan. Pulang kerja gue jemput. See ya tomorrow. Diikuti emoticon love diakhir pesan.
Tak berapa lama kemudian..
“Mba Dinda ini ada kiriman makanan dari ojol” kata OB sambil menyerahkan sebungkus makanan lengkap dengan minumannya.
Meskipun bingung Dinda tetap menerimanya sambil menerka-nerka siapa yang mengiriminya makan siang.
Jangan lupa dimakan.
Makan yang banyak ya
Febri.
Lekas Dinda mencari ponselnya untuk mengucapkan terima kasih pada Febri atas kiriman makanannya. Namu saat ia sedang mengetik pesan tiba-tiba ponselnya berdering.
Febri Calling..
Gegas ia menggeser berwarna hijau di ponselnya untuk mengangkat telp.
“Hai Feb, thanks for the lunch ya. Pake repot-repot segala” kata Dinda saat telp sudah tersambung.
“Hai Din, anything for you. Udah dimakan?” Jawab Febri
“Ini baru mau makan. Lo udh makan?” Tanya Dinda
“Ini lagi siap-siap turun. Gue gak tau makanan fav lo apa. Jadi gue pilih menu itu. Hope you like it.” Kata Febri dari sebrang sana
“Enak kok” jawab Dinda sambil mencicipin makan siang yang Febri kirim.
“Syukurlah kalau lo suka. Gue tutup dulu ya telp nya. Jangan lupa dihabisin” pesan Febri
“Pasti lah. Enak gini sayang kalau gak abis” kata Dinda
“Enjoy the food ya. Bye Dinda” kata Febri mengakhiri panggilan.
“Thanks again ya Feb. Bye”
Febri Calling End..
Setelah panggilan selesai Dinda segera menyantap makan siang pemberian Febri. Nasi, ayam bakar dan lalapan. Tak lupa jus jeruk yang segar.
——————————————————