Sore itu di teras rumah Dinda.
“Cuss sekarang yok!” Ajak Satria pada para sahabatnya yang beberapa diantanya sedang berkumpul di rumahku.
“Dinda, udah mandi belom lu?” Tanya Ricky sambil menolah padaku.
“Menurut lo?" Jawabku balik bertanya.
“Mandi beb. Bau!” Kata Tika asal.
“Dinda kalau kerjanya libur,, mandinya juga libur” kata bunda menimpali yang saat itu kebetulan lewat.
“Dih.. Jorok lo” Satria menimpali.
“Iya. Ini gue mau mandi. Pada bawel-bawel banget lo ah" ujarku sambil beranjak menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarku.
Sekitar empat puluh menit kemudian aku sudah siap lalu bergegas menghampiri beberapa sahabatku yang masih betah duduk-duduk di teras rumah.
“Yok! Naik mobil Ricky aja, biar irit" kataku sesaat setelah bergabung kembali dengan mereka.
"Nah bener. Biar sampenya bareng dan gak saling tunggu pas di sana" sambung Anto.
Kami semua menghampiri Bunda yang sedang berada di halaman belakanh untuk berpamitan dan setelahnya bergegas menuju mobil Ricky yang terparkir di depan rumahku. Mobil melaju ke salah satu tempat karaoke keluarga yang berada di dalam salah satu Mall di bilangan Tebet. Begitu kami sampai, di sana sudah ada Panji,Okta dan Silvy yang ternyata sudah sampai lebih dulu.
“Laper nih" seru Panji saat kami sudah keluar dari tempat karaoke.
"Cari makan di sini aja. Biar gak ribey parkirnya" usul Okta yang langsung disetujui oleh yang lainnya.
Mereka memutuskan untuk makan di salah satu restoran Jepang yang berada di Mall.
"Sil, ulang tahun di rumah aja nih? Gak ada nginep-nginep lagi kaya tahun kemarin?" Tanya Anto membuka percakapan setelah makan malamnya selesai.
"Villa tante gue yang kemaren lagi mau?" Tanya Silvy.
"Boleh" Jawab Tika.
"Patungan ya, lagi bokek gue" jawab Silvy sambil nyengir.
"Santei. Ada boss Ricky. Di backup dia semua" Timpal Satria asal.
Kami semua langsung setuju dengan saran Satria. Namun berbeda dengan Ricky, ia terlihat sangat menentang usul dari salah satu sahabatnya yang doyan asbun itu.
"Nanti gue tanya tante gue dulu ya tanggal berapa kira-kira Villa nya kosong" ucap Silvy setelah perdebatan tentang pembayaran sewa Villa selesai.
Ditengah rencana pembahasan menginap, tiba-tiba Silvy bertanya pada kami semua. Lebih tepatnya pada Ricky.
"Eh, kalau nanti gue ajak si Febri kira-kira pada setuju gak?" Tanya Silvy sambil melihat ke arah kami satu persatu.
"Ngapain sih lo ngajak dia?" Tanya Ricky menunjukan rasa ketidaksukaannya terang-terangan.
"Silaturahmi, Ky" Jawab Tika singkat.
"Nah! Lagian kan kejadiannya juga udah lama, Ky. Dan lo juga gak rugi apa-apa dulu" tambah Satria mencoba membujuk.
"Rugi dia, Sat. Perasaannya" Timpal Anto dan disusul tawa yang lainnya.
"Sialan!" Umpat Ricky. "Tapi dia ikut patungan juga ya. Gak ikhlas gue bayarin dia" ujarnya masih dengan nada yang agak kesal.
"Iyee" jawab Silvy. Lalu mengecek pesan masuk di ponselnya.
"Eh, Jum'at dan Sabtu depan Villa kosong. Pada bisa gak?" Tanya Silvy pada kami semua.
Yang lain langsung menyetujuinya. Sedangkan aku dan Panji masih belum bisa memberikan jawaban pasti saat itu.
"Kerjaan gue lagi overload bulan ini" Jelasku.
"Gue ada meeting pagi" kali ini Panji gantian memberikan alasan.
"Celengan lo belum penuh emang, Din? Sehari doang cutinya bukan seminggu" protes Ricky.
"Lo bisa gak ijin balik cepet? Abis meeting langsung cabut?" Tanya Ricky yang kali ini beralih pada Panji.
"Iya ikut. Tapi jemput ya" kataku memberi syarat. "
Iye, gue jemput nanti" kata Ricky menyetujui syaratku.
Aku pun tersenyum lebar sambil mengacungkan kedua jempol pada sahabatku Ricky.
"Gue juga dong, Ky" pinta Tika ikut-ikutan minta dijemput oleh Ricky.
"Gue juga ya, Ky" kali ini Anto juga ikut-ikutan sambil mengedipkan matanya genit pada Ricky.
"Gue angkut semua. Asal pada nunggu di depan Cafe dan gak ngaret. Lima belas menit belom dateng gue tinggal" kata Ricky menyetujui untuk memberikan tumpangan padaku, Tika dan Anto namun dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
"Gue izin pulang setengah hari alasannya apa ya? Bantuin mikirnya dong" kata Panji belum menemukan alasan untuk bisa izin kerja setengah hari.
"Bilang aja lo ada urusan keluarga" kata Tika coba memberi saran.
"Tapi kan gue belum berkeluarga, Tik" Sanggah Panji polos.
"Ibu, Bapak dan adek lo emang bukan keluarga lo, Nji?" Tanya Satria kesal.
"Ih, ribet banget sih lo, Nji. Bilang aja ada urusan pribadi. Masa iya atasan lo minta dijelasin juga alasan pribadinya apa" jawabku jadi ikutan kesal seperti Satria.
"Iya juga ya. Pinter juga lo. Kadang-kadang" ucap Panji senang karena mendapatkan alasan untuk izin.
Setelah alasan izin untuk Panji beres, mereka pun sepakat untuk pulang. Karena besok sudah hari senin dan mereka semua tak mau kesiangan masuk kantor. Kecuali Ricky, ia memilih untuk membuka cafe yang letaknya tak begitu jauh dari Tuka. Jadi, bangun jam berapa pun tak masalah buat Ricky karena ia bosnya.
Jum'at yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Seperti yang sudah direncanakan diawal, aku, Anto, dan Tika berkumpul di depan Temu Cage milik Ricky. Kami berempat berangkat pukul tujuh pagi. Sedangkan Silvy, Okta dan Satria sepakat untuk berkumpul di rumah Silvy. Sedangakan Panji akan menyusul setelah menyelesaikan pekerjaannya. Kami sepakat untuk langsung bertemu di Villa.
Rombongan mobil Silvy sampai lebih dulu. Lalu disusul oleh rombongan yang berada di mobil Ricky. Kamis sampai sekitar jam sepuluh, lebih lambat dua puluh menit dikarenakan kondisi jalanan yang padat pagi itu.
Villa tersebut tudak banyak mengalami perubahan, namun sekarang lebih asri karena lebih banyak ditanami bunga dan tanaman lainnya dibanding setahun lalu.
"Dinda, lo mau nyambi kerja" seru Okta saat melihatku mengeluarkan laptop dari dalam tasku.
"Yoii" jawabku singkat sambil memencet tombil ON di bagian atas keyboard laptop.
"Bener-bener karyawan teladan kawan kita satu ini. Kalau sebulan gaji lo gak tembus seratus jeti mah kebangetan kantor lo" sindir Satria terang-terangan.
"Ssttt..." kataku. Malas meladeni celotehan kedua sahabatku yang saat itu hanya melihatku bekerja sambil geleng-geleng kepala. Tak lama mereka pun pergi meninggalkanku untuk bergabung dengan yang lainnya.
Selama dua setengah jam aku masih betah berlama-lama menatap layar laptopku. Lalu tersengan suara Panji dari ruang tamu Villa beserta suara ribut dari sahabatku yang lainnya. Aku yang saat itu sedang bekerja di dekat kolam renang bagia belakanh Villa memilih untuk menghiraukannya.
"Heh, liburan! Jangan depan laptop mulu. Berenang kek, nyanyi-nyanyi noh bareng yang lain di depan atau ngapain kek" ucap Panji padaku saat sampai dibagian belakang Villa.
"Tanggung" jawabku singkat.
"Gak asik lo ah" balas Panji lalu pergi meninggalkanmu dan bergabung dengan yang lainnya.
Selang beberapa menit setelah Panji pergi, Anto datang dengan seseorang yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Diem! Bentar lagi gue udahan" kataku sebelum Anto membuka mulutnya untuk mengomeliku seperti yang lainnya karena masih bekerja saat cuti.
"Dih! Eh, kenalin nih Febri. Feb, kenalin ini Dinda. b***k korporat yang celengan sapinya belin penun karna cuti-cuti masih buka laptop" ujar Anto sambil memperkenalkan aku dan Febri.
Febri hanya tertawa mendengar celotehan Anto. Sedangkan aku memasang wajah tak acuh menanggapi omongannya. Kami pun bersalaman sambil menyebutkan nama masing-masing. "
Hai, Dinda" kataku sambil mengulurkan tangan.
"Febri" balasnya sambil mengulurkan tangannya juga dan tersenyum padaku.
_________________________________________________________