Satya memang sudah bertekad akan menikahi Dewi. Wanita yang menjadi jalan satu-satunya untuk penyelesaian masalahnya. Hanya saja Dewi memang tidak bisa ditaklukkan dengan mudah. Satya dibuat kalang kabut oleh penolakan Dewi. Wanita itu menolaknya mentah-mentah. Sungguh dia belum pernah ditolak oleh seorang wanita sebelumnya. Satya kini menyugar rambutnya. Dan mendengarkan amarah papinya di seberang sana.
"Kalau kamu tidak pulang dalam waktu satu minggu ini. Papi yang akan memaksamu untuk pulang." Satyakembali menghela nafasnya. Lalu melirik wanita yang tidur di sebelahnya.
"Papi..Arkan pasti pulang secepatnya." Dia kini menyugar rambutnya dan menegakkan tubuh. Lalu membenarkan selimut yang merosot dari wanita yang kini tengah tertidur pulas di sebelahnya itu.
"Jangan buat alasan lain Arkan. Papi tidak akan mentolerir lagi alasanmu kali ini. Bulan depan kamu sudah harus menikah dengan Cean. Tidak ada bantahan sedikitpun." Sebelum Satya menjawab lagi sambungan telepon sudah di tutup. Dan Arkana kini menghela nafasnya. Hanya menatap layar ponselnya. Haruskah dia berbuat sesuatu untuk membuat sang papi tidak akan menjodohkan dia dengan wanita yang sudah ditolaknya sejak dulu. Tidak akan. Maka Satya kini menggeser tubuhnya. Lalu mencoba untuk mendekat. Lalu mengambil posisi dan mengambil foto dengan ponselnya. Dia nekat melakukan itu.
Setelah merasa selesai dia langsung menatap foto-foto itu. Memuaskan. Dan segera mengirimkan kepada papinya. Satya lalu menghela nafas lagi. Dan memejamkan mata. Ini adalah cara satu-satunya agar dia terbebas dari itu semua.
"Ehmmm hatsyiii.." Suara bersin membuat Arkana membuka mata dan kini menoleh ke arah wanita di sampingnya yang tak lain adalah Dewi. Dia teringat saat tadi memaksa Dewi untuk mencintainya selama 10 hari ke depan. Tiba-tiba wanita itu bersin dan menggigil. Melihat wajah Dewi yang memucat. Arkana langsung mengambil selimut, apapun yang bisa untuk menghangatkan Dewi. Lalu membawa Dewi ke atas kasur. Dan memeluknya erat. Sampai akhirnya wanita itu tertidur.
"Ayaaahhh..." Satya langsung menatap Dewi yang sepertinya mengigau. Dia memiringkan tubuhnya dan menatap Dewi yang masih memejamkan mata.
"Ayaaahhh.." Satya mengernyitkan kening mendengar rengekan Dewi. Dengan perlahan dia kembali mengulurkan tangan untuk membelai kepala Dewi dengan perlahan. Dewi tampak tenang kembali, nafasnya teratur. Satya menghela nafas dan kini membenarkan selimut itu kembali. Lalu suara dering ponselnya membuat Satya kini menatap ponsel yang masih di genggamnya. Dia menarik nafas dengan perlahan. Mempersiapkan diri untuk mendapatkan amarah dari sang papi. Foto itu pasti sudah dilihat oleh papinya.
Satya mulai menatap ponsel dan sepertinya sang papi ingin mengajak video call bukannya meneleponnya. Satya menggeser tanda telepon di ponselnya menariknya ke atas dan...
"Apa-apaan kamu Arkan. Begini caramu menentang Papi dan mami mu?"
Wajah papinya sudah terlihat di layar ponselnya. Dia sudah hafal kalau papinya marah. Tidak ada senyum dan juga wajah bijaksana lagi di sana. Sang papi yang sudah tidak muda lagi masih terlihat begitu menawan. Bahkan semakin bertambah usia, wajahnya makin terlihat berkarakter dan teta mempesona para wanita.
"Maafkan Arkan pi. Tapi..."
"Ehmmm peluk." Rengekan Dewi membuat Satya langsung menoleh ke sampingnya. Dewi sudah menarik sendiri selimut itu untuk menutupi wajahnya. Jadi yang terlihat sekarang hanya rambutnya.
"Arkana...segera bawa pulang wanitamu. Kamu mengecewakan papi."
Teriakan keras sang papi membuat Satya hanya menganggukkan kepala. Genderang sudah di pukul. Dan inilah awal dari perang itu. Awal dari kebohongan. Satya akhirnya mematikan ponselnya saat sang papi mengakhiri video call itu secara sepihak. Dia tidak mau menerima telepon dari mami dan adiknya. Tidak untuk saat ini.
"Ehmmm " Gumaman Dewi membuat Satya kembali menatap wanita itu. Dan Dewi akhirnya membuka mata. Menggeliat dan..
"Ahhhhhhhhh kamu kenapa ada di sini?" Teriakan Dewi membuat Satya makin menatapnya dengan masam.
"Kamu pasti sudah..." Dewi langsung menegakkan tubuhnya. Lalu menyibak selimut. Dalam balutan jaket tebal otomatis tubuh Dewi jadi tenggelam di balik jaket itu.
"Kamu bisa membeku kalau aku tidak memelukmu. " Mendengar ucapan Satya Dewi langsung melotot ke arahnya.
"Kamu peluk-peluk Aku?" Mata Dewi membulat dan kini malah menunjuk dirinya sendiri.
Satya hanya mengangkat alisnya. Sungguh, wanita di depannya itu sangat polos. Baru kali ini dia bertemu dengan wanita seperti ini.
"Belum pernah di peluk oleh seorang pria?" Seketika Dewi langsung melemparkan bantal ke arahnya. Tapi Satya bisa menangkis bantal itu.
"Iihhh emang aku guling? Harus di peluk-peluk?" Ucapan Dewi membuat Satya menghela nafas.
"Kalau alergi dingin kenapa kamu bepergian ke luar negeri?" Dewi tampak salah tingkah saat mendengar pertanyaannya.
"Ehmmm aku kambuh ya tadi?"
Satya kini bergeser dan turun dari atas kasur. Lalu menyalakan penghangat ruangan. Meski dia sedikit kepanasan. Lalu dia berbalik dan berkacak pinggang di depan Dewi yang masih mengawasi dari atas kasur.
"Kamu tidak berpikir kan? Kalau kamu kambuh seperti itu lalu dipeluk oleh sembarang pria?"
Dewi mengernyit tapi kemudian menggelengkan kepala dengan polosnya.
Satya berdecak sebal. Lalu melangkah mondar mandir di depan kasur.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Kamu harus diobati. Lagipula harus ada yang selalu menghangatkanmu." Ucapannya langsung membuat Dewi menggelengkan kepala.
"No..no...I Tidak mau kalau kayak gitu. Kamu pasti mau bilang kalau kamu bebas peluk-peluk aku kan? Nehi ya." Ucapan Dewi yang membingungkan itu membuat Satya kini menatap Dewi dengan serius.
"Mau tidak mau kamu harus mau. Karena tubuhmu sudah menjadi milikku. Orang tuaku sudah melihat kita di atas tempat tidur. Dan besok aku akan membawamu pulang ke Indonesia. Kita menikah. "
Mata Dewi benar-benar membulat mendengar ucapannya. Mulutnya membuka dan menutup lagi. Tampak bingung.
"Ih kamu siapa sih? Aku bilangin ayah aku. Kamu memaksa."
Dewi terlihat memerah dan hampir menangis. Membuat Satya kini tidak tega menatapnya. Dia jadi merasa bersalah. Akhirnya dia melangkah mendekati Dewi dan duduk di tepi kasur.
"Sorry. Tapi ini situasi sudah tidak bisa dihindari. Nama kamu sudah ternoda dimata orang tuaku. Jadi tolong. Menikah denganku." Satya akhirnya mengucapkan itu dengan lembut. Membuat Dewi kini mengusap air mata yang tiba-tiba menetes dari matanya. Tentu saja Satya benar-benar tidak tega.
"Mau ayah. Aku mau ayah."
Ucapan manja Dewi dan melihat Dewi kini terisak. Satya langsung menarik Dewi ke dalam pelukannya.
"Husst. Maafkan aku." Ucapannya itu membuat Dewi memukul lengannya.
"Aku mau ketemu ayah. Mau pulang..." Dewi kini menjauh darinya dan mengusap air matanya.
"Tapi... ah aku tidak mungkin pulang ke Indonesia. Misiku ke sini kan mencari seorang pacar."
Dalam tangisnya Satya bisa mendengar ucapan Dewi.
"Pacar?" Tentu saja pertanyaanya itu membuat Dewi menghentikan tangisnya. Lalu menatap Satya dengan bingung.
"Astaga. Aku barusan jujur ya? Mati aku."