Wanita Lain

1235 Kata
Ellena tersenyum miris. "Tuh, pagi-pagi sudah ada yang nungguin," sinisnya. "Herman jadi-jadian. Kirain laki, eh ternyata perempuan," dumalnya. Ardha terlihat gugup dan gelagapan. Ia lalu menyambar ponselnya dan berlari ke luar sejauh mungkin, agar Ellena tidak bisa mendengar obrolannya. "Pagi, maaf aku tidak langsung menjawab mu," ucap Ardha sembari sesekali menoleh ke arah rumahnya. Terdengar kekehan tawa di ujung panggilan. "Timing ku tidak tepat ya? Bagaimana, dimarahi Nyonya?" Ardha menggosok tengkuknya lalu tersenyum. "Itu masalah gampang. Sebentar lagi aku ke sana, tunggu aku." "Oke, jangan lama-lama. Aku mau keluar setelah ini." "Siap!" Setelah menutup panggilan, Ardha bergegas kembali dan menyiapkan semua keperluan kerjanya. Ia pun lantas pergi begitu saja ke kamar mandi saat melihat Ellena hendak menegurnya. "Ada yang buru-buru mau ketemu sama sayangnya nih," sindir Ellena kesal namun Ardha sama sekali tidak memedulikannya. Ellena mendengus jengkel. Mau bagaimana cara yang ia lakukan untuk menegur Ardha, tetap saja suaminya itu tidak akan memedulikannya. Bahkan hanya untuk sekedar menyapa dan memberi ciuman pagi hari untuk Stefany saja Ardha tidak sempat kali ini. Sebegitu pentingnya 'kah orang lain bagi Ardha, jika dibandingkan dengan istri dan anaknya? Miris! Hingga akhirnya Ardha berangkat ke kantor, Ellena masih sibuk menyuap makanan untuk Stefany, putri semata wayang mereka yang masih bayi. Ardha hanya menciumnya sekilas lalu melenggang pergi sembari melambaikan tangannya. Ellena hanya mampu mengelus d**a. Sudah cukup tipis kulit yang membungkus dadanya, karena terlalu sering ia usap dengan hati nelangsa. "Mana Ardha, nggak ikut sarapan?" tanya Mama Rita. "Buru-buru, Ma, Ardha nggak sempat sarapan," jawab Ellena sedikit menutupi alasan yang sesungguhnya dari sang suami. "Oh, padahal kemarin kayaknya Ardha pulang malam, pasti lagi banyak kerjaan," ucap Mama Rita. "Nggak tahu, Ma," jawab Ellena acuh. Ia lalu membawa Stefany masuk ke dalam kamar. "Kamu nggak sarapan dulu, El?" "Ntar aja, Ma, mau susui Fany dulu, keburu tidur lagi dia," jawab Ellena. Tanpa banyak bicara lagi Mama Rita memanggil Mily, mengajaknya sarapan tanpa menyendirikan bagian untuk Ellena yang sudah susah payah menyediakannya. *** "Udah, gitu aja?" tanya seorang wanita sembari menatap manja wajah Ardha yang terlihat mengeluarkan peluh di dahinya, setelah menghabiskan sarapannya. "Iya dong, aku harus segera berangkat, Sayang, ada kiriman pagi yang harus segera ku antar," jawab Ardha. "Ehm, ya udah, tapi ntar siangan mampir nggak?" "Aku nggak tau, lihat nanti aja." "Kabari ya, kalau mau mampir. Kalau kamu nggak datang aku mau belanja kosmetik, buat tambahan dagangan, udah banyak yang order soalnya, banyak yang kosong," jelas wanita itu. "Siap, Sayangku," jawab Ardha sembari mencubit gemas pipi kiri sang wanita lalu segera menaiki motornya dan melaju kencang, setelah melambaikan tangan. "Bye, Sayang, hati-hati di jalan." Wanita itu tersenyum puas. Beberapa hari belakangan ini Ardha selalu menepati janjinya untuk datang dan tidak bisa menolak setiap ia memintanya untuk datang, karena ia akan selalu memberikan "bonus khusus" untuk Ardha, yang pasti tidak akan pernah bisa dilupakan oleh lelaki itu. "Salah sendiri sering curhat masalah istrimu padaku," desis wanita itu yang lalu menyeringai. Senyumnya memudar ketika dua buah hatinya berteriak, memanggilnya dari dalam. "Om Ardha udah pulang, Ma?" tanya yang paling kecil. "Iya, Sayang. Om Ardha harus bekerja." "Yaaah, padahal mau BimBim ajak main dulu sebentar, udah pergi aja," gerutu putra semata wayangnya yang paling kecil itu, sementara kakaknya hanya diam sembari mengunyah kue, oleh-oleh dari Ardha. "Nanti siang kalau Om jadi ke sini, ajaklah main sebentar, tapi ingat, itu kalau Om Ardha tidak cape," ucap sang wanita pada anaknya. Sontak si kecil bersorak kesenangan di ikuti oleh sang kakak. "BimBim senang main bareng Om Ardha," ucap putra semata wayangnya itu. "Kenapa, Bim?" "Soalnya Om Ardha seru, kalau Papa nggak," jawab BimBim dengan cemberut. "Jangan gitu, Papa 'kan cape banget setelah kerja keras di luar kota, Nak," tegur sang ibu. "Toh kalau Papa udah istirahat, Papa pasti mau main sama BimBim dan Kakak," lanjutnya. Bocah itu hanya menggelengkan kepalanya. "Nggak mau. Pokoknya kalau main, BimBim maunya sama Om aja!" tegasnya. Wanita itu hanya mampu menghela napas panjang. Selama beberapa bulan ia dan Ardha berhubungan, pria itu sudah mampu membuat hati putranya terpikat dan tidak bisa jauh darinya. Pesona seorang Ardha sungguh begitu kuat. "Ya sudah, BimBim boleh terus bermain sama Om, asal ingat, jangan sampai Papa tahu, ya," pinta wanita itu pada kedua anaknya. "Memangnya kenapa, Ma?" Wanita itu tersenyum lembut. "Tentu saja untuk menjaga perasaan Papa," jawabnya beralasan. "Jangan sampai Papa sedih karena kalian lebih suka bermain sama Om, ketimbang sama Papa." "Iya Ma," jawab mereka serempak. Wanita itu tersenyum lalu bergegas mengambil sling bag nya, bersiap untuk pergi. "Mama belanja dulu, ya. Kalian yang pintar di rumah sama Mbok Yah," pamitnya sembari menciumi anaknya secara bergantian. "Hati-hati, Ma. Jangan lupa oleh-olehnya." "Pasti dong," jawab wanita itu sembari mengusik surai putranya dengan gemas. *** Siang itu Ellena baru bisa keluar dari kamarnya. Stefany sama sekali tidak bisa ditinggal. Bayi itu terus saja menangis meskipun sudah mendapatkan ASI. Begitu melihat Stefany tertidur, Ellena segera keluar untuk mengambil makanan, karena sedari pagi ia tidak sempat sarapan, hanya makan dua iris roti tawar saja yang selalu ia simpan di dalam kamar, untuk berjaga di malam hari, jika sewaktu-waktu ia merasa lapar. Tapi begitu ia sampai di ruang makan, hanya ada nasi dan sayuran saja tanpa lauk. Ellena mendesah kesal. Itu berarti ia harus memasak lagi atau membeli lauk. Jika ia membeli, sudah pasti harus dalam jumlah yang banyak, karena ia tidak tinggal sendirian di sana, tetapi uangnya tinggal sedikit. Ellena duduk dengan kesal. Terpaksa ia makan nasi hanya dengan sayuran saja. Ia membuka kulkas untuk melihat stok telur yang ada, namun lagi-lagi ia tercengang, karena telur pun habis, tidak tersisa satu pun. Entah bagaimana perasaannya saat ini, yang jelas nafsu makannya tiba-tiba menghilang. Cepat ia habiskan makanannya yang hanya satu entong nasi itu lalu mencuci semua piring kotor dan segera masuk lagi ke kamar, sebelum pekerjaannya bertambah karena sudah waktunya makan siang dan tidak tersedia apapun di meja makan. "El!" teriak Mama Rita dati arah dapur. Ellena diam di kamar, pura-pura tidur. "Ellena, kamu sudah makan?" tanya Mama Rita sembari membuka pintu perlahan, dengan suara sedikit berbisik karena ia tahu Stefany sedang tidur. Ellena hanya mengangguk pelan lalu melanjutkan tidurnya. Seolah menunjukkan bahwa ia sudah begitu lelah. "Oh, ya sudah. Mama kira belum. Lauknya sudah habis soalnya, kamu nggak pengen masak apa gitu?" tanya Mama Rita lagi sembari meringis. Ellena menggelengkan kepalanya. "El pusing, Ma. Semalam nggak bisa tidur, Fany nangis terus," jawab Ellena malas. "Oh, gitu. Ya sudah, Mama beli aja sama Mily ke depan. Kamu nggak nitip sesuatu?" Ellena kembali menggeleng, sebab jika ia mengangguk sudah pasti dirinya yang harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membayar pesanan Mama Rita dan juga Mili di warung depan. "Nggak, Ma. El nggak ada uang," jawab Ellena. Sontak Mama Rita mengangguk lalu menutup pintu dengan cepat. Mendengar bahwa Ellena tidak mempunyai uang, membuat moodnya seketika buyar. Percuma ia berpura-pura perhatian pada Ellena kalau ternyata tidak mendapatkan apapun dari menantunya itu. Ellena meringis di dalam kamar. Sejujurnya ia begitu lapar dan lelah kali ini, tetapi jika ia keluar dari kamar, sudah pasti mereka akan menyuruhnya untuk memasak atau beli lauk ke warung depan. Dan akhirnya yang bisa Ellena lakukan kali ini hanyalah berusaha melupakan rasa laparnya dengan tidur, sementara Ardha sedang makan siang di sebuah restoran cepat saji bersama seorang wanita dan dua anak kecil bersamanya. Terlihat wajah Ardha begitu cerah dan ceria. Mereka makan dengan lahap sembari bercanda, sementara Ellena di rumah menahan lapar, sembari berpikir, bagaimana caranya ia mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan dapur keluarga itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN