HIDUPMU

1655 Kata
CHAPTER 4 - HIDUPMU Ruby masih memikirkan tentang kejadian tadi di lobi—di mana Juan tiba-tiba saja memukul mantan bosnya, Daniel sampai berdarah. Dia memang sudah gila. Aku yakin itu, batin Ruby. Dan sekarang dia berpikir akan bekerja di bawah pimpinan seorang psikopat gila. Matanya membesar ketika melihat Juan yang tiba-tiba menoleh ke arahnya dengan cepat, seolah pria itu tahu apa yang sedang dipikirkannya. Ruby hanya berdecak dalam hati melihat reaksi Juan tersebut, Bisa-bisanya dia juga melarang Daniel untuk mendekatinya. Memangnya dia suamiku?? Pikir Ruby geram. Walau menurutnya sosok Juan itu memang menjadi idaman setiap wanita, tetap saja pria nomor satu di hati Ruby adalah Anthony seorang. Anthony memang tidak setinggi Juan, tapi dia juga memiliki tubuh yang proporsional dan sempurna. Bibir Ruby melengkung dengan sendirinya hanya karena membayangkan sosok Anthony. Kau harus menghilangkan Anthony dari kepalamu itu! Mata biru Juan melirik Ruby dengan tajam. Namun, Ruby mengabaikannya baik suara yang menggema di kepalanya ataupun lirikan tajam Juan kepadanya. Selama dua tahun bekerja di perusahaan Mackinnley System Coorporation, dia baru mendengar tentang CEO Juan itu sekarang. Entah dia yang tidak peduli atau memang kehadiran Juan tidak ada sosialisasi terlebih dulu di perusahaannya. Baru saja Ruby mau memberitahukan jalan menuju ke rumahnya, tapi Odiv sudah membelokkan mobilnya menuju ke sana. Padahal tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya alamat atau arah rumahnya. Tatapan tajam Juan mengarah pada Ruby ketika mobilnya berhenti di depan sebuah gedung apartemen yang sangat sederhana. Rahangnya mengeras saat dia juga mengedarkan pandangannya pada lingkungan sekitarnya. “Kenapa?” “Kau tinggal di sini selama itu?” Ck, ya iya tentu saja aku tinggal di sini. Ruby tidak menjawabnya melainkan melainkan langsung bergerak turun saat Dimitri membukakan pintu untuknya. Juan mengikutinya dan Ruby membelalak ke arahnya, “Saya rasa, saya bisa sendiri dari sini, terima kasih banyak sudah mengantarku sampai rumah Mr. Juan.” Please pergilah…please… please…. Alis Juan malah berkerut sehingga matanya menyipit, “Aku akan mengantarmu sampai kau masuk ke rumah,” katanya. Huh? Tapi aku kan bermaksud mau pergi lagi. Duuh! Demi Tuhan orang ini… bagaimana cara mengusirnya?! Akan tetapi pria itu malah berjalan mendahului Ruby menuju ke lobi gedung. Tidak memedulikan ekspresi tidak suka yang terpampang nyata di wajah Ruby. Beberapa penghuni wanita yang melihat Juan tidak mungkin melewatkan kesempatan untuk menatap laki-laki itu dari dekat. Ya Tuhan, kenapa aku baru tahu ada pria setampan itu di Nebrash. Wanita itu sampai memutar kepalanya melihat Juan. "Berapa lama kau tinggal di sini?" tanya Juan. "Hampir dua tahun kurang lebih." Juan mengamati lift sederhana yang membawa mereka naik ke lantai atas. Lalu matanya beralih pada Ruby yang berada kurang lebih empat puluh senti meter di bawahnya. "Kau sama sekali tidak layak tinggal di sini," cetusnya. Heh? Maksudnya apa coba? Kepala Ruby harus mendongak agar bisa melihat mata Juan. Dia tahu kalau dirinya hanya berstatus sebagai asisten direksi dengan gaji yang memadai. Tapi bukan berarti semua gajinya harus dia alokasikan untuk tempat tinggal kan? Ini penghinaan! Umpatnya dalam hati. CEO ini selain arogan ternyata juga sangat congkak. Apartemen ini termasuk yang cukup mahal di Nebrash, walau banyak yang lebih mewah dan mahal lagi sih, pikirnya. Ruby sama sekali tidak mengerti dengan bos barunya ini. Untuk apa dia repot-repot mengantarnya sampai ke atas dan mengomentari layak atau tidaknya dia tinggal di tempat ini. Sama sekali bukan urusannya, benaknya terus mendumal karena Juan melihat tempat tinggalnya sebagai tempat yang kumuh. Sampai pada akhirnya Ruby tidak punya daya lagi untuk menolak Juan yang bersikeras untuk masuk ke dalam ruang apartemennya. Dan ekspresinya cukup mengganggu Ruby, Juan terkesan terpukul dan prihatin melihat isi dan ruangan kamar calon permaisurinya tersebut. Ini tentu tidak bisa dibiarkan.   Hey! Aku bukan pengemis di jalanan! Sial@n. Ini bukan tempat tinggal sama sekali! Ruby merasa kaget mendengar suara itu kembali bergema dalam kepalanya. Dia tidak mengira suara ini benar-benar mengikutinya sampai ke rumah. Juan sedang memperhatikannya di saat dia sedang merasa kaget. “Sebaiknya Anda cepat pulang Mr. Juan, sepertinya hantu dari ruang rapat tadi mengikutiku sampai ke sini.” Ruangan ini hanya berukuran 6 x 10 meter, sama seperti ukuran kamar mandiku. Suara itu muncul lagi dengan nada mengejek. Ruby menghela napasnya panjang sambil memejamkan matanya. Dia melihat bos barunya itu sedang mengitari ruang apartemennya. Dia sempat berpikir bahwa Juan-lah yang sedang mengomentari kamarnya. Tapi pria itu tidak terlihat membuka mulutnya sedikitpun. Juan menghela napasnya panjang, Bagaimana kalau suara itu memang suaraku? Bersamaan dengan suara yang menggema dalam kepalanya itu, tatapan mereka bertemu. Ruby menatap mata biru Juan yang tertuju kepadanya tanpa mengeluarkan suara apa pun. Kemudian jantungnya berdegup dengan kencang seiring dengan langkah Juan yang sedang berjalan cepat ke arahnya. Suara Mr. Juan? Ya, itu suaraku Ruby. Mata Ruby mengerjap berkali-kali sambil terpaku menatap ke arah Juan. Mulutnya tidak membuka sama sekali, Ruby bisa memastikan hal itu karena dia sedang melihatnya. Mana mungkin orang bisa bicara tanpa membuka mulutnya, dan bagaimana pria itu juga bisa menjawab semua pertanyaan Ruby tanpa dia harus susah payah mengeluarkan suara? Hantu ini pasti sedang bercanda, pikirnya. Aku bukan hantu! Ekspresi Juan mengeras di depan Ruby. Seolah pria itu memang benar-benar sedang protes karena tidak terima disebut hantu. “Aku bukan hantu, Ruby,” ujar Juan dengan suaranya. Saking syoknya kaki Ruby melangkah mundur. Degup jantungnya semakin keras. Huh? Jadi dari awal kudengar suara misterius ini adalah suara— “Ya itu memang suaraku.” Kali ini Ruby mendengar suara Juan di telinganya, bukan dalam kepalanya. Juan kembali menegaskan bahwa yang didengar Ruby dalam kepalanya adalah suaranya. Dan Ruby bari tersadar bahwa Juan baru saja menjawab pertanyaan yang tidak dia ucapkan. Ya Tuhan! Siapa pria ini sebenarnya? “Masuklah Dimitri,” ujar Juan dengan suara biasa saja. Kemudian pintunya terbuka dan pandangan Dimitri ke arah Ruby malah membuatnya semakin cemas. “Dia adalah Dimitri… pengawal dan penasihatku.” Juan memperkenalkan Dimitri yang masuk lebih dulu dibanding Odiv, “dan di belakangnya adalah Odiv, pengawalku,” katanya. Penasehat? Pengawal? Ya, mereka adalah orang-orang kepercayaanku. Lagi-lagi suara itu menjawab pertanyaan tak terucap Ruby. Dia menelan ludahnya memandang ke arah tiga orang pria yang ada di ruang apartemennya. Tiba-tiba dia merasa ketakutan, Sumpah! Halusinasiku semakin parah. Entah apa yang terjadi tadi malam, tapi aku berjanji tidak akan bergadang lagi. “Ini bukan halusinasimu, Ruby,” sanggah Juan. “Dimitri, aku ingin kau menjelaskan siapa dia bagiku,” perintahnya. Bahkan pria itu membalas suara hati Ruby dan itu membuat jantung Ruby semakin berdentum keras. Ditambah lagi saat pria bernama Dimitri itu menjawab perintah Juan dengan, “Baik, Yang Mulia Juan.” “Izinkan saya menjelaskan secara singkat tentang situasi yang disebutkan Yang Mulia Juan tadi, Miss Ruby,” ujar Dimitri. Yang Mulia? Sudah, dengarkan saja dulu. Ruby menatap pria yang mengaku kalau suara yang menggema dalam kepalanya barusan adalah suaranya. Dan pria itu memang sedang menatapnya memberi peringatan. “Yang Mulia Juan datang ke Nebrash ini dengan satu tujuan, yaitu menemukan Anda, Miss Ruby. Mencari takdirnya, Yang Mulia Juan ditakdirkan untuk menikahi seorang wanita yang bisa mendengar suara telepatinya. Dan Yang Mulia Juan sangat senang bisa menemukan calon permaisurinya lebih cepat dari perkiraan. Suara-suara yang Miss Ruby dengar sejak bertemu dengannya adalah suara telepati Yang Mulia Juan—yang hanya bisa didengar oleh Miss Ruby seorang. Karena itulah Yang Mulia Juan sangat yakin bahwa Miss Ruby memang benar adalah calon istrinya,” beber Dimitri lancar. Ruby sempat menahan napasnya agar tawanya tidak menyembur keluar karena mendengar omong kosong Dimitri barusan. Dia menggeleng sambil tersenyum. Mereka pikir dia akan percaya begitu saja dengan cerita tidak masuk akal yang disampaikan Dimitri. Takdir dan calon istri? Yang benar saja. Mata Dimitri membesar ketika merasakan hawa dingin mulai merebak dalam ruangan itu. Calon penguasa Cxarvbunza itu merasa diejek dengan reaksi yang diberikan Ruby atas cerita Dimitri barusan. Jadi kau berpikir bahwa yang disampaikan Dimitri mengada-ada Ruby? Suara itu sedikit penuh tekanan, seolah berusaha mengintimidasi Ruby. Tapi gadis itu mengangguk pelan sambil menatap Juan. Walau dia merasa ikut tidak waras dengan mengangguk ke arah Juan seperti itu. Kepalanya memutar ketika dia ikut merasakan hawa dingin yang menyeruak menembus kulitnya. “Apa yang disampaikan Dimitri adalah kebenaran, Ruby,” ujar Juan penuh ketegasan. “Dan kau adalah calon istriku!” sergahnya lagi. Dahi Ruby berkerut keras, baru kali ini dia bertemu laki-laki untuk pertama kali dan dia langsung menyatakan bahwa dirinya sebagai calon istri pria keras kepala itu. “Anda sudah gila ya Mr. Juan?! Bagaimana bisa saya menjadi calon istri Anda? Kita bahkan belum kenal sama sekali,” sanggah Ruby. Dimitri berjalan mendekati Ruby, “Miss Ruby….” “APA?!!” Dan pria itu terhenyak kaget dengan suara Ruby yang keras. Dimitri memilih mundur daripada membuat Ruby makin ketakutan. Sebaiknya, kita tidak memaksanya saat ini Yang Mulia, ujar Dimitri dalam hatinya. “Saya minta kalian pergi dari sini, atau saya akan panggilkan security,” ancam Ruby. Angin dingin tiba-tiba berhembus kencang dalam ruang apartemen Ruby dan mulai menggerakkan benda-benda ringan yang ada di atas meja. Ekspresi Ruby berubah menjadi kebingungan dan ketakutan. “Saya mohon pergilah, Mr. Juan,” pintanya. Semoga mimpi ini berlalu dan besok kembali normal lagi. “Asal kau tahu ini bukanlah mimpi Ruby….” Ruby menelan ludahnya mulai menyadari bahwa pria yang baru saja menjadi atasannya ini benar-benar bisa membaca pikirannya atau bahkan pikiran semua orang. Kau benar, aku bisa melakukan itu. membaca semua pikiran orang. Juan menghela napasnya. “Tapi kali ini aku akan mendengarkan kata Dimitri untuk membiarkanmu mencerna dan berpikir tentang hal ini, besok kita akan bicara lagi…,” katanya. Terima kasih. Ruby mengucapkannya dalam hati. Dia buru-buru mengunci pintunya setelah Juan dan dua orang pengikutnya tadi pergi. Demi Tuhan, apa masih ada orang tidak waras seperti itu berkeliaran bebas di negeri ini?! Sekali lagi kau berpikir kalau kami tidak waras aku akan membawamu langsung ke negeriku untuk membuktikannya, Ruby. Ruby membeku. “AAAAAA! Kenapa suaramu masih ada di sini?!” teriaknya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN