GEMA NAMA ASING

2449 Kata
Aveline tidak bergerak. Ujung sepatu Roman yang hitam mengilap berada tepat di depan matanya. Ia bisa mencium aroma antiseptik yang tajam dari tubuh suaminya, bercampur dengan bau kulit dari kemeja barunya. Tekanan di ruangan itu mendadak meningkat, seolah oksigen di sekitarnya tersedot habis. “Hanya... mencari antingku, Roman,” jawab Aveline. Suaranya terdengar parau, namun ia berhasil menjaganya agar tidak bergetar terlalu hebat. Roman tidak langsung merespons. Ia berdiri diam selama beberapa detik sebelum akhirnya ikut berlutut di samping Aveline. “Anting yang mana, Ava? Yang berlian?” tanya Roman. Ia mulai menyapu permukaan karpet dengan telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan lateks tipis. “Iya. Sepertinya terjatuh saat aku melepas piyama tadi,” dusta Aveline. Ia memaksakan matanya untuk menatap ke arah kolong meja rias, menghindari kontak mata langsung dengan Roman. Roman berhenti mencari. Ia menatap Aveline dengan saksama. “Kamu terlihat sangat panik hanya karena sebuah anting, Sayang. Nadi di lehermu berdenyut sangat cepat.” Jari Roman bergerak menyentuh leher Aveline, menekan pelan di atas arteri karotisnya. Aveline menahan napas. “Ah, ini dia,” ucap Roman tiba-tiba. Roman menarik tangannya dari balik kaki meja rias. Di antara ibu jari dan telunjuknya, sebuah anting berlian berkilau tertangkap cahaya lampu. Aveline tertegun. Ia tahu anting itu tidak ada di sana sebelumnya. Roman pasti sudah menyiapkannya di telapak tangannya sendiri. “Lain kali, mintalah bantuanku. Kamu tidak perlu merangkak di lantai seperti ini,” kata Roman sambil berdiri. Ia menarik tangan Aveline untuk membantunya bangkit. “Ayo! Aku sudah menyiapkan jadwal pengobatan barumu.” “Aku perlu mengambil sampel darahmu lagi, Ava. Aku harus memastikan dosis obat semalam tidak merusak fungsi hatimu,” ujar Roman. Roman membantu Aveline duduk di tepi ranjang. Ia mengeluarkan sebuah tablet dari saku kemejanya—sebuah jadwal berwarna putih bersih dengan tabel waktu yang sangat padat. “Ini protokol pengobatanmu, Ava. Mulai hari ini, kita akan masuk ke fase stabilisasi,” ucap Roman datar. “Banyak pasien dengan trauma pengintaian mengalami kegagalan fungsi saraf karena stimulan luar yang berlebihan. Cahaya, suara, bahkan interaksi sosial yang tidak terkontrol bisa memicu episode halusinasi seperti yang kau alami di halaman tadi.” Aveline membaca kertas itu. Pukul 08.00: Injeksi Vitamin B-Complex & Sedatif Ringan. Pukul 12.00: Isolasi Sensorik (Kamar Gelap). Pukul 18.00: Evaluasi Biometrik. “Stabilisasi? Ini terdengar seperti karantina, Roman,” bisik Aveline. “Ini adalah penyembuhan, Sayang. Kau sakit, dan aku doktermu. Selama dua minggu ke depan, kau tidak diizinkan meninggalkan kamar ini tanpa pengawasanku. Suhu ruangan, asupan nutrisi, hingga informasi yang kau terima harus melalui filterku. Ini satu-satunya cara untuk memutus sirkuit ketakutan di otakmu.” Aveline terdiam. Ada bagian dari dirinya yang ingin berteriak bahwa ini gila, namun sisi lain dari otaknya—yang telah dilemahkan oleh obat-obatan semalam—berbisik bahwa mungkin Roman benar. Bahwa Aveline memang sudah tidak waras. Roman bangkit, lalu berjalan menuju meja rias. Ia meletakkan sebuah jam dinding analog baru berbahan kayu mahoni di sana. Jam itu berdetik sangat halus, hampir tak terdengar. “Aku mengganti jam lamamu. Yang ini memiliki presisi lebih baik untuk membantu ritme sirkadianmu,” kata Roman sembari mengatur posisinya agar lensa mikroskopik di balik angka dua belas menghadap tepat ke arah tempat tidur. Aveline menatap jam itu. Ia merasa ada yang aneh dengan lubang kecil di tengah angka dua belas, namun ia segera menepis pikiran itu. “Itu hanya baut,” batinnya mencoba denial. Roman tidak mungkin memata-matainya di dalam kamar mereka sendiri. Itu tindakan ilegal, dan Roman adalah pria yang sangat taat hukum. “Istirahatlah! Aku akan mengunci pintu dari luar untuk memastikan tidak ada gangguan dari pelayan atau... pengganggu lainnya,” ucap Roman final. Keesokan Pagi Cahaya matahari yang pucat menembus celah gorden saat Roman masuk membawa baki sarapan. Di samping piring berisi omelet putih telur, terdapat tumpukan koran fisik yang masih berbau tinta segar. “Telepon dan internet masih dalam perbaikan teknis,” dusta Roman dengan wajah tanpa dosa. “Aku membawakanmu koran agar kau tidak bosan. Bacaan fisik jauh lebih baik untuk fokusmu daripada layar digital.” Setelah Roman berangkat ke rumah sakit, Aveline duduk di kursi dekat jendela. Keheningan rumah Thorne terasa memekakkan telinga. Ia mulai membolak-balik halaman koran The Daily Gazette hanya untuk mengalihkan rasa cemasnya. Hingga matanya tertumpu pada sebuah tajuk kecil di halaman gaya hidup dan otomotif: “The Black Ghost: Hanya 5 Unit di Dunia, Siapa Pemilik Misterius di Kota Ini?” Napas Aveline tertahan. Di sana terdapat foto sebuah sepeda motor dengan desain aerodinamis yang sangat agresif. Seluruh bodinya dibalut karbon hitam matte tanpa logo pabrikan yang mencolok. Ia mengenali lekuk tangkinya. Ia mengenali lampu depan ganda yang tipis itu. Itu motor si penguntit? Yaa! Aveline membaca artikel itu dengan rakus. “...Model MV Agusta F4 CC. Harga fantastis mencapai $120.000. Hanya dimiliki oleh kolektor kelas atas atau individu dengan pengaruh besar. Di wilayah ini, tercatat hanya ada satu unit yang terdaftar secara resmi di dealer eksklusif Moretti Automotive.” Jantung Aveline berpacu. Nama itu terasa asing namun memberikan dorongan adrenalin yang nyata. Jika motor itu hanya ada satu di kota ini, maka identitas pemiliknya bukanlah sebuah misteri bagi pihak dealer. Ia harus menghubungi dealer itu. Ia harus tahu siapa pria di balik kemudi motor tersebut. Namun, saat ia menatap sekeliling kamar, matanya terpaku kembali pada jam dinding baru di atas meja rias. Detikannya terasa seperti detak jantung yang mengawasi. Aveline tidak melepaskan pandangannya dari foto motor MV Agusta F4 CC di koran itu. Jari telunjuknya menelusuri lekuk tangki karbon yang mengilap di atas kertas buram. Ada tarikan aneh yang ia rasakan—bukan ketakutan, melainkan pengenalan yang mendalam. Motor itu adalah satu-satunya entitas yang menghubungkannya dengan dunia di luar sangkar kaca Roman. Ia memejamkan mata sejenak. Mencoba memanggil kembali memori tentang suara mesinnya. Suara itu tidak menderu kasar seperti motor pada umumnya, ia bersiul rendah, sebuah frekuensi mekanis yang mahal dan mematikan. Pria di atasnya—si penguntit—selalu menjaga jarak yang presisi. Tidak terlalu dekat untuk ditangkap, tidak terlalu jauh untuk kehilangan pandangan. Aveline merasakan dadanya sesak. Ia merasa bersalah karena mencari perlindungan pada sosok yang seharusnya ia takuti. Namun, di rumah ini, pengap itu nyata. Roman adalah oksigen yang terlalu murni hingga sanggup membakar paru-parunya. Ia melirik jam dinding mahoni di atas meja rias. Jarum detiknya bergerak dengan ketenangan seorang algojo. Pukul 11.45. Roman biasanya melakukan prosedur rutin di rumah sakit jam segini. Ini adalah celah sempit sebelum asisten rumah tangga datang membawakan makan siang ke depan pintu kamarnya. Aveline bangkit. Ia tidak langsung menuju pintu. Ia berjalan ke kamar mandi, menyalakan keran wastafel hingga air meluap, menciptakan kebisingan konstan untuk menipu mikrofon apa pun yang mungkin tersembunyi. Ia meletakkan tumpukan pakaian kotor di atas tempat tidur, membentuk siluet tubuh yang sedang meringkuk di bawah selimut. Strategi kuno, namun hanya itu yang ia punya. Ia keluar kamar dengan langkah tanpa suara. Koridor lantai dua rumah Thorne dilapisi karpet bulu yang meredam setiap dentum jantungnya. Aveline menuju ruang kerja kecil di ujung lorong—ruangan yang biasanya digunakan Roman untuk menyimpan arsip pajak dan literatur medis lama. Di sana, di sudut meja kayu ek yang berdebu, sebuah telepon kabel antik berwarna hitam masih terpasang. Gagang telepon itu terasa dingin saat Aveline menyentuhnya. Ia mengangkatnya perlahan, telinganya menangkap nada dial yang datar dan panjang. Berhasil. Jemarinya gemetar saat menekan nomor informasi operator. Ia membutuhkan nomor Moretti Automotive. Setiap putaran cakram angka di telepon itu terdengar seperti pengkhianatan yang berisik di dalam rumah yang sunyi ini. “Moretti Automotive, selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?” ucap suara wanita di seberang sana. “Saya ingin menanyakan tentang unit MV Agusta F4 CC,” suara Aveline hampir hilang di tenggorokannya. Ia berdeham, mencoba mengembalikan otoritas pada nadanya. “Saya tertarik untuk mengetahui siapa pemilik unit yang terdaftar di kota ini. Saya ingin mengajukan penawaran koleksi.” Hening sejenak. Aveline mendengar suara ketikan di papan ketik. “Unit tersebut sangat eksklusif, Nyonya. Hanya ada satu yang terdaftar di wilayah ini. Namun, sesuai kebijakan privasi, kami tidak bisa memberikan nama pemilik tanpa izin tertulis dari firma hukum Moretti.” “Ini darurat,” desak Aveline. Matanya menatap ke arah pintu ruang kerja yang sedikit terbuka. “Saya hanya butuh inisial. Atau alamat pengirimannya.” “Mohon tunggu sebentar, saya akan menyambungkan Anda ke manajer operasional kami, Tuan—” Tiba-tiba, suara resepsionis itu menghilang. Bukan terputus dengan bunyi denting, melainkan memudar perlahan, digantikan oleh suara derau statis yang aneh. Bunyinya ritmis, seperti napas panjang yang teratur. Sshhh... sshhh... sshhh. Aveline membeku. Ia tidak menutup teleponnya. Ia mendengarkan derau itu, dan perlahan, suara itu berubah menjadi bunyi detak jantung yang berat. Sangat mirip dengan suara monitor EKG di ruang ICU. “Tekanan darahmu meningkat, Ava. 140 per 90. Itu tidak baik untuk pemulihanmu.” Suara Roman muncul dari gagang telepon. Tenang, jernih, dan sangat dekat, seolah pria itu sedang berbisik tepat di lubang telinganya. Aveline menjauhkan gagang telepon itu dari wajahnya dengan ngeri. Ia menatap benda hitam itu seolah-olah itu adalah ular yang siap mematuknya. “Roman?” bisiknya parau. “Aku sudah katakan, Sayang. Semua sistem komunikasi di rumah ini sudah dialihkan ke pusat pemantauanku. Aku perlu memastikan kau tidak terhubung dengan stimulan yang salah. Mencari tahu tentang motor itu adalah bentuk obsesi yang merusak sirkuit sarafmu.” Aveline mundur selangkah, namun kabel telepon yang melingkar menahan gerakannya. “Kau menyadapku?” “Aku menjagamu, Ava. Ada perbedaan besar di sana,” suara Roman terdengar lebih berat sekarang. “Kau berada di ruang kerja lantai atas. Kau tidak memakai alas kaki. Suhu di ruangan itu lima derajat lebih rendah dari kamarmu. Kau sedang menyakiti dirimu sendiri.” Tiba-tiba, terdengar bunyi mekanis yang halus. Klik. Aveline menoleh ke arah pintu. Daun pintu kayu ek yang berat itu bergerak sendiri, menutup dengan perlahan namun pasti. Bunyi pengunci otomatis yang dikendalikan secara digital menggema di ruangan sempit itu. “Duduklah, Ava! Tenangkan dirimu,” perintah Roman lewat telepon. “Aku sedang dalam perjalanan pulang. Kita perlu mendiskusikan kenapa prosedur pengobatanmu tidak berjalan sesuai rencana.” Aveline mencoba menarik gagang pintu, namun benda itu tidak bergeming. Ia terjebak. Di dalam ruangan gelap itu, hanya ada suara detak jantung Roman yang terus terdengar dari gagang telepon yang kini berayun lemas di kabelnya. “Roman, buka pintunya!” teriak Aveline, suaranya pecah oleh histeria yang mulai merayap. “Aku akan membukanya setelah kau tenang, Sayang. Sampai saat itu, nikmatilah kesunyiannya. Itu bagus untuk otakmu.” Suara Roman menghilang, menyisakan keheningan yang lebih menakutkan daripada ancaman mana pun. Aveline terduduk di lantai yang dingin, menyadari bahwa sangkar emasnya baru saja mengecil menjadi seukuran ruang kerja ini. Ia mematikan lampu ruang kerja, berharap kegelapan bisa menyembunyikannya, namun ia tahu itu sia-sia. Lensa kamera kecil di sudut langit-langit ruangan tetap menatapnya dengan sensor inframerah yang dingin. Tiga puluh menit berlalu dalam kesunyian yang menyiksa. Setiap suara kecil dari luar rumah—gesekan dahan pohon pinus atau kicauan burung—terdengar seperti ancaman. Lalu, suara itu datang. Suara ban mobil Mercedes yang melindas kerikil di halaman depan. Sangat halus, namun bagi pendengaran Aveline yang sedang dalam puncak paranoia, itu terdengar seperti ledakan. Tak lama kemudian, dentum pintu mobil ditutup. Langkah kaki yang mantap dan teratur menaiki anak tangga teras. Tap. Tap. Tap. Irama langkah Roman tidak pernah berubah. Selalu konstan. Itu adalah irama seseorang yang memegang kendali penuh atas dunianya. Aveline merangkak mundur hingga punggungnya menabrak kaki meja kayu yang keras. Ia mendekap lututnya, mencoba mengecilkan tubuhnya menjadi titik yang tidak terlihat. Suara kunci pintu depan terbuka. Hening sesaat, lalu langkah kaki itu berpindah ke lantai atas. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu ruang kerja yang terkunci. Cklek. Sistem kunci digital terbuka secara otomatis dari ponsel di saku Roman. Pintu terbuka perlahan, membiarkan cahaya terang dari koridor membelah kegelapan ruangan seperti pisau bedah. Sosok Roman berdiri di sana. Ia masih mengenakan jas dokter putihnya. “Lantai ini berdebu, Ava. Kau mengotori piyamamu lagi,” ucap Roman. Suaranya sangat lembut, seolah ia sedang menegur anak kecil yang nakal, bukan istri yang baru saja ia kurung. Roman masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia tidak menyalakan lampu utama, hanya lampu meja kecil yang menciptakan bayangan raksasa dirinya di dinding. Ia meletakkan tas kerjanya di atas meja, lalu mengeluarkan sepasang sarung tangan lateks baru. “Kenapa kau melakukannya, Sayang? Kenapa kau mencoba menghubungi orang asing saat aku sudah memberikan semua yang kau butuhkan?” Aveline mendongak. Air mata kemarahan menggenang di sudut matanya. “Siapa pemilik motor itu, Roman? Kenapa kau begitu takut aku mengetahuinya?” Roman berhenti memasang sarung tangannya. Ia menatap Aveline dengan pandangan kosong yang sangat dalam. “Aku tidak takut, Ava. Aku hanya merasa kecewa. Kau lebih tertarik pada seorang kriminal bermotor daripada kesehatanmu sendiri. Kau tahu apa yang terjadi pada otak yang terobsesi? Ia akan mulai membusuk dari dalam.” Roman berjalan mendekat dan berlutut di depan Aveline. Jarak mereka sangat dekat hingga Aveline bisa mencium aroma antiseptik yang bercampur dengan bau hujan dari luar. “Kau ingin tahu siapa dia?” Roman bertanya sambil membelai pipi Aveline dengan jari yang terbungkus lateks dingin. “Dia adalah virus. Dan aku adalah antibodi yang menjaga agar virus itu tidak merusak jantungmu.” “Kau gila, Roman,” bisik Aveline. “Aku seorang dokter, Ava. Aku tahu mana yang sehat dan mana yang harus dipotong untuk menyelamatkan sisa tubuh lainnya.” Roman merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah jarum suntik kecil dengan cairan bening di dalamnya. Aveline mencoba merangkak pergi, namun tangan Roman yang lain mencengkeram pergelangan kakinya dengan kekuatan yang tidak terduga. “Dosis tambahan untuk malam ini, Sayang. Kau terlalu aktif. Otakmu butuh istirahat total agar besok kau bisa bangun dengan pikiran yang lebih... patuh.” “Tidak! Lepaskan!” Aveline meronta, namun Roman menindih tubuhnya dengan berat badan yang dominan. Tepat saat ujung jarum itu menyentuh kulit lengan Aveline, suara raungan mesin motor terdengar dari arah gerbang depan. Lampu jauh motor itu menembus jendela ruang kerja, menyilaukan mata Roman sejenak. Roman tersentak, menoleh ke arah jendela dengan rahang yang mengeras. Di bawah cahaya lampu motor yang menyilaukan itu, Aveline melihat sebuah benda dilemparkan dari luar pagar dan menghantam kaca jendela ruang kerja hingga pecah berkeping-keping. Sebuah batu yang dibungkus kertas merah. Roman berdiri dengan kemarahan yang mulai terlihat di matanya. Ia berjalan menuju jendela yang hancur, sementara Aveline memanfaatkan celah itu untuk merayap menuju pintu yang kini sedikit terbuka. Namun, saat Aveline sampai di ambang pintu, ia melihat ke arah kertas merah yang tergeletak di lantai di antara pecahan kaca. Ada tulisan tangan yang besar di sana, terbaca jelas di bawah cahaya lampu meja: “CHECK THE BASEMENT FLOOR, AVA. THE DEAD DON'T STAY BURIED.” Aveline membeku. Roman berbalik, matanya tertuju pada kertas itu, lalu kembali ke mata Aveline. “Jangan membacanya, Ava,” peringatan Roman terdengar seperti desisan ular.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN