“Mungkin aku memang nggak penting bagi kamu.” ucap Malini lesu. Wajahnya tertunduk lesu, menyadari betapa dirinya tidak berarti bagi Khafi sampai lelaki itu lupa untuk memberinya kabar. Padahal saat itu Malini sedang sakit. Tidak adakah rasa khawatir atau rasa apapun itu yang dirasakan oleh Khafi untuknya? Lalu seketika itu juga bayangan tentang momen - momen manis mereka berdua terlintas begitu saja. Saat mereka di Bandung. Saat mereka di Singapura. Saat Khafi mencium bibirnya. Apa artinya semua itu? “Lin, bukan begitu maksud aku. Jangan berpikiran seperti itu, karena apa yang kamu pikirkan itu sama sekali nggak benar.” Khafi lalu menuntun tangan Malini dan membawanya duduk di sofa. “Terus apa?” Khafi meraih telapak tangan Malini dan menggenggamnya, “Aku kemarin memang pergi ke kanto

