Part 4. I'm Yours

1346 Kata
Malini merasa gelisah dalam tidurnya saat mentari mulai menyinari wajah cantiknya pagi itu. Posisi jendela di kamarnya memang tepat sekali menghadap ke arah terbitnya matahari. Sehingga jika tirai penutup jendela dibuka, maka hangatnya sinar mentari pagi akan menembus masuk ke kamarnya. Memberikan kehangatan dan juga cahaya yang cukup untuk menerangi seluruh penjuru kamar. "Selamat pagi, Sayang…" Sapa Danesh lembut, saat melihat kening Malini berkerut dengan kedua mata yang masih terpejam. Tangannya bergerak merapikan anak rambut yang jatuh di wajah cantik kekasihnya. Malini menggeliat, membawa tubuhnya berpaling membelakangi silaunya sinar mentari agar dia bisa melanjutkan tidurnya dengan nyaman. Entah kenapa, tapi dia bisa merasakan bahwa tubuhnya masih terasa sangat lelah. “Lini sayang, bangun.” Samar namun terdengar begitu dekat di telinganya, akhirnya suara yang sangat dikenalnya itu seketika menarik kesadaran Malini sepenuhnya. Kedua bola matanya terbuka dengan sempurna. Di depannya kini Danesh berdiri dengan wajah yang segar dan rambut yang masih sedikit basah. Danesh terlihat tampan meskipun hanya mengenakan kaos polos berwarna putih dan celana pendek abu-abu bermotif polkadot. "Bangun, Sayang. Udah pagi. Mandi dulu, biar seger." Ujar Danesh seraya mendekat dan mengecup kening dan pipi Malini dengan lembut. Malini yang masih bingung hanya dapat terdiam sambil memutar otaknya, merangkai kembali kepingan memori tentang apa saja kemungkinan yang telah terjadi sehingga pagi ini Danesh bisa ada di unitnya, di kamarnya. Danesh bisa ada di kamarnya sepagi ini, tentu saja bukan hal biasa. Karena memang selama ini, Danesh tidak pernah menginap. Dia akan selalu pulang ke unitnya sendiri, selarut apapun dia berkunjung. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Danesh pun menatap Malini dengan pandangan yang tidak kalah bingung karena Malini sejak tadi hanya diam. Hingga kemudian, saat Malini berhasil merangkai kepingan memorinya dan mengingat setiap kejadian tadi malam, wajahnya pun memanas. Ada ragu yang dia rasa, ragu akan ingatan yang begitu saja berkelibas di kepalanya. Entah apakah itu hanya mimpi, atau memang itu benar - benar terjadi. Tapi… Kenapa terasa nyata? "Dan…" Bahkan suara Malini mendadak berubah. "Ada apa, sayang?" Danesh menghembuskan nafas lega karena akhirnya Malini membuka suara. "Kamu habis mandi? Itu baju dari mana?" Tanya Malini, karena dia ingat tadi malam Danesh mengenakan pakaian yang berbeda. Dan saat ini kondisi Danesh terlihat segar. "Iya, aku udah mandi tadi pas kamu masih tidur. Kamu masih capek ya?" Tanya Danesh. Malini tidak menjawab melainkan justru balik bertanya, "Terus, bajunya? Kamu bawa baju ganti?" Danesh tersenyum sejenak, "Aku selalu bawa baju ganti di mobil, Lin. Tiap habis nge gym kan aku mandi, jadi selalu ada baju bersih buat aku ganti di mobil." "Aku…" Sebelum melanjutkan kalimatnya, kedua tangan Malini bergerak untuk menyingkap selimutnya. Dan dia bernafas lega saat menemukan dirinya masih berpakaian lengkap. Apa mungkin tadi malam hanya mimpi? "Kenapa?" Tanya Danesh lembut sambil mengusap rambut Malini. "Aku… Kita… Apa kita…?" Wajah Malini semakin memerah tak sanggup untuk melanjutkan apa yang ingin ditanyakannya pada Danesh. Apa yang terlintas di benaknya tentang semalam memang begitu jelas, namun Malini masih berharap bahwa itu hanya mimpi. Danesh mengerti dan tersenyum sebelum kemudian mengangguk pelan. "Kamu lupa? Atau pura-pura lupa?" Kali ini Danesh yang justru balik bertanya. Bahu Malini kemudian terkulai lemas, sambil menunduk dia menjawab dengan lirih. "Aku pikir itu cuma mimpi." Seketika itu pula Malini mengusap wajahnya pelan, sambil menarik nafas dalam lalu menghembuskannya melalui mulut. "Maaf ya…" Ucap Danesh dengan wajah menyesal begitu melihat respon Malini yang sepertinya shock dengan apa yang sudah terjadi. Padahal tadi malam justru Malini sendiri yang mulai memancing keadaan hingga membuat Danesh lepas kendali. "Aku... Kita... Harusnya... Entahlah." Ucap Malini sambil tertunduk malu. "Kamu menyesal?" Tanya Danesh perlahan. Dia harus tahu apa yang dipikirkan Malini tentang apa yang sudah mereka lakukan semalam. Jika ternyata Malini tidak menginginkannya, Danesh akan berhenti dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Meskipun pasti akan sulit. "Aku juga enggak sadar, terbawa suasana." Pandangan Malini menerawang dengan pikiran yang terlempar pada kejadian tadi malam. Saat Danesh menciumnya tadi malam, dengan tidak tahu malu Malini justru semakin mempererat pelukannya. Bahkan Malini yang semula duduk di samping Danesh entah bagaimana bisa justru berpindah duduk ke pangkuan kekasihnya itu dengan posisi yang saling berhadapan. Mereka menghabiskan waktu dengan saling memberi dan menerima. Menikmati rasa yang membuat mereka tidak ingin berhenti. Alih-alih berhenti, mereka justru menginginkan sesuatu yang lebih. Hingga ketika mereka berhenti sejenak untuk mengisi pasokan udara untuk bernafas, Danesh tidak mampu lagi menahan sesuatu dalam dirinya saat melihat wajah sayu Malini sedang menatapnya. Dia menggigit bibirnya sendiri karena gugup dan juga terpesona dengan wajah Danesh yang entah kenapa jadi terlihat berkali-kali lipat lebih mempesona di matanya. Tentu saja hal itu dianggap "undangan" oleh Danesh. Seketika itu pula Danesh membalikkan keadaan. Dia merengkuh tubuh kekasihnya dan mendorongnya untuk berbaring di sofabed itu sehingga posisi Danesh berada di atas tubuh Malini. Kekasihnya itu menatapnya dengan tatapan mendamba. Maka Danesh pun bergerak, jemarinya memberikan usapan lembut di wajah Malini yang merona. Ibu jarinya mengusap bibir Malini yang masih berkilauan sedikit basah akibat ciuman mereka tadi. "Sayang…" Suara Danesh terdengar jelas di indra pendengaran Malini, meskipun Danesh mengucapkannya seperti berbisik dengan suara yang serak. Entah apa yang ada di kepalanya, ketika mendengar bisikan Danesh yang menyapa telinganya, sekujur tubuh Malini seketika meremang. Tanpa dapat dikontrol lagi, kedua tangan Malini bergerak menarik kerah baju Danesh, membuatnya mendekat hingga wajah dan tubuh mereka tak lagi berjarak. Hingga kemudian, kecupan dan lumatan yang awalnya hanya di bibir, mulai berpindah. Danesh menjelajahi halus dan jenjangnya leher kekasihnya dengan sentuhan yang semakin memabukkan keduanya. Terus berlanjut, hingga tak ada lagi helai pakaian yang menghalangi aktivitas keduanya. Danesh seperti kehilangan akal sehatnya ketika mendengar merdunya suara yang keluar dari bibir manis Malini. Kekasihnya itu dengan begitu mendamba menyebutkan namanya, secara lirih dengan kedua mata yang terpejam. Menikmati setiap sentuhan darinya. “Daann… Sayang…” “How does it feel? Hmm..? Do you like it?” Bisik Danesh di telinga Malini yang entah kenapa langsung membuat gadis itu meremang karena hembusan nafas Danesh di telinganya.. Malini mengangguk pelan. Kemudian tanpa aba-aba, Danesh meraih tubuh polos Malini dan menggendongnya untuk kemudian membawanya ke kamar. Setelah memastikan Malini berada dalam posisi yang nyaman, Danesh lalu melanjutkan kegiatannya dengan perlahan dan penuh kelembutan. Karena dia tahu ini adalah yang pertama bagi Malini. Danesh lah pria pertama yang akan menembus pertahanan diri Malini. Sesaat setelah Danesh berhasil menembusnya, yang tentu saja melahirkan jerit tertahan dari bibir Malini, keduanya terdiam hingga kemudian kesadaran Malini kembali. Dia menatap wajah Danesh dengan tatapan terkejut dan… Takut. Danesh paham dengan arti tatapan Malini yang ketakutan. Dia lalu tersenyum lembut dan mendaratkan sebuah kecupan yang cukup lama di kening Malini. “I love you. Everything’s gonna be okay, Sayang.” Bisik Danesh dengan mesra. “Dan… I’m yours. Jangan pernah berpikir untuk tinggalkan aku setelah ini semua terjadi. Okay?” Danesh mengangguk, “We’re gonna married soon, Sayang. Jangan takut. Kita akan terus bersama.” Malini kemudian mengangguk dan memeluk erat tubuh Danesh. Menghirup aroma parfum Danesh yang begitu disukainya. Hingga kemudian Danesh berkata, “Sayang, ini belum selesai. Boleh kita lanjut dan selesaikan?” Tanya Danesh sambil tersenyum jahil. Tentu saja belum selesai, Danesh bahkan baru saja masuk dan belum bergerak sedikitpun. Malini pun tersenyum dan mengangguk. Kemudian mereka berdua pun melanjutkan kegiatan yang sebelumnya terhenti. Malini yang semula masih merasa kesakitan, perlahan mulai menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Danesh. Dia tahu ini bukan yang pertama bagi Danesh, karena sejak awal menjalin hubungan mereka sudah saling jujur tentang diri masing-masing. Dan Malini tidak mempermasalahkannya. Baginya setiap orang memiliki masa lalunya masing-masing. Dia pun memilih untuk berdamai dan menerima itu semua. Lagipula selama satu tahun bersama, Danesh tidak pernah berbuat sesuatu yang melampaui batasnya. Malam ini, mungkin karena terbawa suasana bahagia saat Danesh melamarnya, maka Malini terhanyut dan segala batasan itu runtuh dengan seketika. Danesh menjentikkan jemarinya di depan wajah Malini karena kekasihnya itu melamun. "Lini…" Malini terkejut dan mengerjap, "Eh… Ehm… Iya?" Malini menatap Danesh sambil tangannya bergerak mengusap kancing piyamanya sendiri. "Jangan melamun. Mandi ya, terus kita keluar cari sarapan." Malini mengangguk pelan, lalu beranjak turun dari tempat tidur. Danesh mengiringi langkah kaki Malini menuju kamar mandi, sambil merangkul dan mengecup sisi kening kekasihnya itu. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN