Mungkin gue udah pernah bilang ratusan kali, dan gue sama sekali nggak keberatan kalau harus mengulangnya hingga ribuan kali kalau gue rela menghabiskan waktu berdua sama ratu. Ngapain aja. Bengong saling tatap kayak sekarang juga gue udah senang. Dia yang akhirnya ngalah dan menunduk, meletakkan kepalanya di d**a gue, sementara gue makin memeluknya erat dengan sebelah tangan yang dari tadi dia jadikan alas. Kebas banget rasanya tapi nggak kepikir buat udahan. Sudah berapa jam berlalu gue juga nggak itung. Setelah Mama keluar kamar, gue dan ratu pindah ke kasur cuma buat adegan peluk sambil tiduran. Dia nggak berhenti bilang maaf dan cinta, bikin gue makin sakit. Merasa t***l udah mengabaikan dia beberapa hari. "Bima." "Ya?" "Waktu kamu marah, kamu bentak aku terus. Ngatain aku b*****t
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


