27. Dua Puluh Tujuh

1231 Kata

“Sakit pasti,” Nigi meringis sendiri melihat luka sobek di bibir Saba yang lumayan terlihat mengerikan. Benaknya mulai merangkai pertanyaan yang sebelumnya tidak terjawab. Siapa yang kira-kira melakukan hal ini pada Saba? Sekuat apa orang itu memukulnya hingga bisa ada luka sedalam itu? Apa permasalahannya hingga pertengkaran itu terjadi? Tapi akhirnya semua pertanyaan itu hanya tetap bersarang di benak Nigi, karena gadis itu bisa menerka bahwa Saba tidak berniat sama sekali menceritakan apa pun yang terjadi padanya. “Masih nggak mau cerita kenapa bisa kayak gini?” Nigi mengalihkan fokusnya sesaat menatap manik mata pemuda itu. Sekali lagi mencoba memancing Saba untuk cerita. “Gue kan udah bilang akan cerita kalau lo mau cium gue.” Gerakan tangan Nigi terhenti, melirik kembali pada pemi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN