Nigi melirik Saba sesekali, beralih pada tangannya yang ada dalam genggaman Saba di saku jaket pemuda itu lantas tersenyum samar. Di antara keheningan malam yang merangkak naik dan udara dingin di sekitarnya, Nigi bisa merasakan kehangatan yang bermula dari genggaman Saba itu lantas menyebar ke seluruh tubuh. Tapi mengamati Saba diam-diam tidak selamanya menyenangkan, karena pemuda itu akan dengan mudahnya merasa diamati meski tatapannya tidak tertuju pada si pelaku sekalipun. “Gue tahu lo sayang banget sama gue, Ngil. Tapi jangan sampe gila dan senyum-senyum sendiri kayak gitu cuma gara-gara ngelihatin gue.” “Dih pede banget! Siapa juga yang senyum-senyum ngelihatin lo!” elak Nigi mengontrol nada bicaranya agar tidak terdengar seperti maling yang tertangkap basah. “It's okay kalau lo n

