31. Tiga Puluh Satu

1149 Kata

“Itu Saba, Gi.” Seolah membaca apa yang ada dipikiran Nigi, Rei di seberang sana kembali mengulangi ucapannya. “Iya, itu Saba. Awalnya gue diam aja karena Saba bakalan pulang setelah ngikutin lo seharian atau nunggu sampai lampu kamar lo mati setiap malemnya. Tapi udah seharian ini Saba ada di sana. Gue udah bujuk dia supaya pulang, tapi—” “T-tunggu! Lo bilang itu Saba? Dia ngikutin gue seharian? Biasanya…” Terlalu banyak informasi yang Nigi terima dalam satu waktu, hingga rasanya kepalanya langsung berdenyut nyeri dan perutnya menjadi mual. Belum selesai mencerna satu informasi, Nigi sudah disodorkan informasi baru, yang bahkan untuk mengerti informasi yang sebelumnya saja belum Nigi lakukan. Bukan Nigi tidak mengerti apa yang diucapkan Rei, tapi lebih kepada bahwa gadis itu tidak men

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN