Rumah masih sepi saat Nigi melangkah masuk menuju lantai dua, mungkin Papi masih di rumah sakit, dan bisa jadi Mami berada di tempat yang sama karena kadang saat merasa bosan di rumah Mami akan lebih memilih menemani Papi di sana. Nigi lewati pintu berwarna putih yang tidak lain adalah kamar pribadinya, beralih memutar knop pintu berwarna coklat di samping pintu kamarnya itu. Seseorang di dalam ruangan itu menoleh saat melihat sosok Nigi yang dengan wajah bermuram durja menjatuhkan diri di ranjang empuk yang ada di kamar itu, yang tidak lain kamar saudara kembarnya—Noel. Pemuda itu memutar kursi di depan meja belajar hingga menghadap Nigi yang sudah memejamkan mata. “Kenapa lo?” “Saba nyebelin!” keluh Nigi tanpa membuka mata. Noel hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala mengem

