Nando

1157 Kata
“Syarat yang nggak masuk, akal.” “Tapi itulah wasiat mendiang kakekmu, Nando.” Pria bernama Nando mendengus, niat hati bertandang ke rumah paman di desa untuk membahas perihal warisan malah dihadapi masalah tak masuk akal. Toni, paman Nando, baru saja menyodorkan surat wasiat resmi dari mendiang kakek terkait klaim warisan. Beberapa poin tidak menjadi masalah, hanya ada satu, menikah. “Apa tidak bisa diskip aja poin yang itu, Paman?” Toni tegas menggeleng. “Tidak bisa…! Wasiat tetap wasiat. Mau gimanapun kamu berkilah.” “Tapi aku belum kepikiran untuk menikah,” ujar Nando. “Berarti kamu tidak bisa minta bagianmu sekarang,” balas Toni santai. “Maaf, Nan. Bukan Paman menahan hakmu, tetapi amanah Bapak Paman harus kamu penuhi dulu.” Nando bimbang, otaknya bekerja keras mencari solusi. Bisnis frozen food yang dia bangun susah payah dengan tangan sendiri nyaris ambruk. Modal sudah tak punya, hanya tersisa warisan dari sang kakek yang mampu membantu. Namun, rupanya tak semudah itu. Jauh-jauh dari kota di seberang pulau, berharap ada hasil baik. Ternyata menambah beban di kepala. Menikah? Mungkin bagi sebagian orang tidak terlalu buruk, tetapi tidak bagi seorang Nando. “Em… Aku pinjam modal sama Paman dulu boleh?” tanya Nando, masih mencari opsi lain demi menghindar dari masalah pernikahan. “Sekali lagi Paman minta maaf, Mas.” Raut wajah Toni keruh, bercampur dengan rasa tak enak hati. “Usaha ternak kambing Paman juga lagi mandek. Uang sih ada, cuma mau dipakai adik sepupumu bayar pelatihan kerja.” “Jangan merasa bersalah, Paman,” balas Nando. Tentu pria berusia 37 tahun itu tak mau merepotkan pamannya dalam situasi seperti sekarang. Dia mengerti bahwa kehidupan keluarga Toni juga tidak mudah. Ada tanggung jawab yang masih dipikul oleh sang paman. Nando kian kalut. Bagaimana cara dia mendapat sumber daya untuk memulihkan keadaan usahanya. Mungkin ada yang bilang, tutup saja usaha tersebut. Namun Nando tidak bisa, sekali lagi, bisnis itu adalah bisnis yang sangat dia sayangi karena hadir lewat kemampuan dirinya sendiri. “Kamu benaran tidak ada niat untuk menikah Nando?” tanya Toni pelan. “Umur kamu sudah 37, sudah layak untuk berumah tangga.” “Paman pasti tahu jawaban pertanyaan itu serta alasannya,” jawab Nando. Matanya menerawang kosong ke arah jendela. Terdengar helaan napas dari Toni, cukup berat, memecahkan keheningan sesaat. “Berdamailah, Nak,” ucap Toni mirip bisikan. “Paman tahu tidak mudah, tetapi kamu nggak bisa seperti ini terus.” Nando perlahan menatap pria berusia 55 tahun yang duduk berseberangan dengannya. Pria itu mirip sekali dengan mending sang ayah. Hidung, bibir, alis, terutama mata. Nando sejenak memejamkan mata, seperti menahan sakit kala bersitatap dengan mata di depan. Ingatan pahit mulai muncul di kepala, seperti kaset lama yang terputar kembali. “Mau Paman kenalkan dengan seorang gadis?” Toni kembali bertanya, kali ini terdengar agak ragu. Mata Nando langsung melotot. Bukan melotot marah, tetapi lebih ke kaget. “Maksud Paman?” Raut wajahnya seperti orang bodoh. “Mau Paman kenalkan dengan seorang gadis?” kata Toni mengulang pertanyaan. “Anaknya baik, Paman kenalkan dekat dengannya. Berpendidikan dan punya pekerjaan bagus katanya, meski Paman lihat dia cuma sering di rumah.” Wajah Toni tampak ragu ketika menyelesaikan kalimatnya terakhir. “Tapi Paman sering dengar dia ngomong pakai bahasa inggris di depan laptop,” lanjutnya. “Nggak tahu benar atau nggak juga.” Toni mengakhiri penjelasan sambil menggaruk belakang telinga yang tak gatal. Giliran Nando yang membuang napas kasar. “Jangan aneh-aneh, Paman,” ujarnya. “Dari deskripsi tadi saja sudah bisa ditebak jika dia pasti jelek dan tidak menarik.” Sebenarnya Nando tidak benar-benar niat mencela. Dia hanya ingin menghindar dari ide gila sang paman. “Dia cantik, kok. Meski...” Toni bingung mau ngomong apa lagi. “Ah... intinya kenalan saja dulu. Paman tahu kamu benar-benar butuh warisan ini. Mana tahu cocok, kalian menikah lalu punya anak kembar 10, lalu...” “Paman...” Nando berusaha menyadarkan Toni dari pikiran liar. Mendengarnya saja bulu kuduk Nando seketika tegang. Eh, maksudnya berdiri, apalagi ucapan pamannya itu benaran terjadi. “Nggak... Aku nggak mau,” ucapnya tegas. “Ya sudah, kalo begitu pikir saja urusanmu sendiri. Paman mau keluar sebentar.” Tanpa menunggu jawaban Nando, Toni bergegas keluar rumah. Nando hanya bisa melongo. Terkadang Pamannya ini memang aneh bin ajaib. Namun, rasa tak enak di hati bersamaan datang. “Jangan-jangan Paman mau bertingkah konyol,” gumam Nando. Di sisi lain, Toni sudah berada di depan sebuah rumah panggung yang berdiri kokoh. Tiang-tiang teras terbuat dari kayu ulin berwarna hitam mengkilap, begitu pula dinding rumah dari papan dengan warna senada. “Kak Rosmah, Mei mau nikah nggak?” teriak Toni dari tangga teras. Dari dalam terdengar bunyi telapak kaki beradu dengan lantai kayu. Bergerak cepat seperti sedang berlari. “Ada apa, Ton? Kok teriak-teriak?” Orang pertama yang muncul dari balik daun pintu adalah Rosmah. “Masuk dulu!” Rosmah membuka kedua daun pintu dan melambaikan tangan. “Kalian geser!” seru Rosmah terhadap dua menantunya. “Duduk dulu, Ton!” Toni mulai duduk. Matanya sempat melirik empat putri Rosmah yang tengah berdiri sambil pelukan. Ketika melihat bola mata Mei seperti akan terkeluar, ditambah lubang hidungnya yang membesar selebar cincin jari tangan. Berbeda dengan Toni, Rosmah tampak abai dengan kehadiran putri-putrinya. “Ayo buruan ngomong, Ton!” “E... itu..., Kak ingat Nando kan?” tanya Toni gugup. Dia bukan gugup karena apa, tapi karena melihat ekspresi Mei yang seram. Toni mulai tak yakin jika inisiatif nya membutuhkan hasil positif. Nando dan Mei, ah mereka seperti air dan minyak. Entah kenapa dia bisa spontan begini. “Nando? Nando siapa?” Rosmah balik bertanya dengan raut berpikir. “Itu, Kak. Anak mendiang Bang Haris.” Rosmah tampak mengingat-ingat. “Oh, Haris,” katanya heboh. “Iya, aku ingat. Kenapa? Dia datang ke sini kah?” “Iya, Kak. Semalam sampainya.” “Ah, pantas kutengok ada laki-laki muda tadi pagi di halaman rumahmu.” “Benar, Kak. Mungkin bakalan nginap di sini selama seminggu.” “Sudah besar ya dia. Terakhir kalo nggak salah dia datang ke sini itu waktu masih SMP.” “Bukan kecil lagi, Kak. Udah bangkotan, umur saja 37 tahun. Mana belum nikah lagi.” Mei sudah mencium bau-bau rencana busuk di ruang tamu. Bibirnya tambah maju, lubang hidung tambah lebar, napas bulan berat. “Oh ya? Sayang sekali, pasti wajahnya lawar. Haris saja dulu idaman desa sini.” “Lawar, Kak. Sama seperti saya,” jawab Toni dengan pongah. “Dia kebetulan datang untuk bahas warisan mendiang Bapak. Bang Haris kan sudah tidak ada, jadi haknya dikasih ke Nando.” Pupil mata Rosmah melebar. Siapa yang tidak tahu kekayaan almarhum Haji Saiful, Bapak Toni. “Nando juga minta dicarikan calon istri sama saya. Maklum, di kota dia itu sibuk sekali ngurus usahanya yang maju. Jadi tidak sempat mencari pasangan.” Toni kembali menoleh ke arah Mei sekilas. “Kalo Mei belum punya calon, saya berniat menjodohkan mereka.” “Boleh...!” “Tidak....!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN