Bab 10

1079 Kata
Setelah kembali dari toilet, Bima kembali ke meja makan untuk menikmati makan siang bersama keluarganya dan keluarga Karin. Raut wajah bahagia dan senyum yang tak henti ia pancarkan saat melihat Karin yang ada di hadapannya sambil menikmati makanannya. Serasa ada kupu- kupu yang menggelitik di hati Bima. Tatapan mata Bima pun seakan tak berkedip melihat Karin. “Mas.. Ma..” bisik Clarissa kepada Mas Wisnu sambil menyenggol lengan sang suami itu. Mas Wisnu yang duduk di sebelah sang istrinya itu langsung menoleh. Clarissa langsung memberi kode dengan matanya agar sang suami bisa melihat Bima yang tak berkedip menatap Karin. Wisnu yang mendapat kode tersebut langsung melirik Bima dan hanya tersenyum. Apakah sebegitu indah pesona kecantikan Adik iparnya itu sampai membuat Bima terkesima. “Bim, Karin enggak akan kemana- mana kok.” Celetuk Clarissa yang membuat Karin tersedak. Bima dengan sigap langsung memberikan segelas air miliknya kepada Karin. Namun sayang Karin sudah mengambil gelas yang berisi air di sambil tangannya. Semua pasang mata yang berada di ruang makan itu pun langsung menoleh ke arah Bima atau pun Karin. Sementara Clarissa tertawa geli melihat raut wajah Bima yang mulai memerah. Entah karena ketahuan Clarissa sedang menatap Karin atau karena Karin tak menyambar gelas pemberiannya. “Kakak, apaan sih?” ucap Karin kesal karena Kakaknya telah menggodanya. Papa Wira, Papa Aji, dan Mama Anna hanya bisa tersenyum melihat hal yang barusan terjadi. Mereka semua pun kembali melanjutkan makan siang tersebut. Selesai makan siang semuanya berkumpul di ruang keluarga hanya untuk sekedar bersantai sambil mengobrol bersama. Papa Wira berniat ingin menyampaikan pengumuman perjodohan itu di tengah perbincangan santai mereka sehingga ia meminta kedua putrinya serta sang menantu untuk duduk bersama. “Oh ya anak- anak, sebenarnya maksud keluarga Bima datang ke sini adalah ingin meneruskan perjodohan antara Bima dan Karin yang sudah di sepakati saat Almarhum Mama Nita saat masih ada.” Ucap Papa Wira yang membuat semua di ruangan itu kaget terutama Bima dan Karin. “Papa!!” Seru Karin dengan nada sedikit meninggi. Raut wajahnya mulai berubah menjadi merah karena marah dengan kata perjodohan. Memangnya masih ada ya siti nurbaya di jaman yang sudah sangat modern. Apalagi mendengar ia harus di jodohkan dengan lelaki yang paling ia benci karena suka mengumbar gosip dengan beberapa wanita. “Rin, dengerin Papa dulu.” Ucap Clarissa yang ingin menenangkan emosi sang adik. “Tapi Kak, ini bukan jamannya di jodoh- jodohkan. Apalagi Karin enggak kenal sama yang di jodohkan. Pokoknya alasan apapun Karin enggak mau di jodohkan!! Titik!!” jawab Karin yang kini terlihat sangat emosi saat ia menatap Bima yang menatap Dirinya. Gadis itu langsung pergi meninggalkan ruangan itu untuk menuju kamarnya yang ada dilantai dua. “Karin tunggu..” seru Clarissa yang kaget dengan sikap adiknya. Namun tangannya tertahan oleh Wisnu. “Pelan- pelan ya bicara sama adikmu jangan bertengkar.” Pinta Mas Wisnu dengan wajah yang cukup tenang. Clarissa pun mengangguk dan mulai meninggalkan ruangan tersebut menyusul adiknya. “Maafkan sikap anak saya ya Aji, Anna mungkin dia kaget mendengar hal ini biar nanti Clarissa yang membujuknya. Padahal saya sangat senang kalau hal ini berjalan lancar tapi..” Papa Wira membuat nafas putus asa dan merasa malu di hadapan keluarga Papa Aji. “Enggak apa- apa Ji, Karin hanya perlu kembali mengingat memori masa kecil bersama Bima agar ia bisa kembali dekat dengan Bima lagi.” Seru Papa Aji berusaha menenangkan sahabatnya itu. “Jadi Bima dan Karin sudah saling mengenal sejak dulu?” tanya Mas Wisnu yang kaget mendengarnya karena Papa mertuanya tak pernah menceritakan hal ini. “Iya, Nak Wisnu dulu kami pernah tinggal di satu perumahan yang sama dan sejak mendiang Mama Nita meninggal Pak Wira dan keluarganya pindah ke Bandung.” Jelas Mama Anna. “Bima apakah kamu mau menolak perjodohan ini juga sama seperti Karin?” tanya Papa Wira kepada Bima yang hanya diam. Sejujurnya dalam hati Bima sangatlah senang mendengar ia di jodohkan dengan cinta pertamanya itu tapi melihat sikap Karin ia merasa sedih. karena Bima merasa bingung ia hanya bisa tersenyum. “Sepertinya kamu juga tak ingin di jodohkan ya Bima.” Seru Papa Wira yang kembali terdengar sangat menyesal dengan keputusannya untuk menjodohkan anaknya itu. Ia kini merasa sangat malu di hadapan sahabatnya itu. Mama Anna menyenggol lengan anaknya dan menatap tajam ke arah Bima yang membuat lelaki itu takut. “Bukan Om, Bima mau kok terima perjodohan ini tapi Bima punya sebuah syarat.” Kata Bima yang membuat Papa Wira mengangkat kepalanya dan menatap dengan penuh harap. Papa Wira sangat senang mendengarnya dan syarat apapun yang Bima inginkan akan ia penuhi asalkan perjodohan ini tetap berlangsung sehingga ia juga tidak merasa bersalah dengan mendiang almarhumah istrinya. “Bima kamu ini..” potong Mama Anna yang khawatir anaknya akan memberikan syarat yang aneh- aneh agar terbebas dari perjodohan ini. “Enggak apa- apa Anna, apa pun syaratnya akan aku penuhi asal perjodohan ini berlanjut dan Almarhumah Nita bahagia di sana.” Ucap Papa Wira yang sudah pasrah dan penuh harap. “Jadi aku mau Om dan keluarga om serta Mama dan Papa merahasiakan kalau aku dan Karin sudah saling mengenal satu sama lain. Biar nanti aku sendiri yang akan membuat Karin mengingat kedekatan kami saat masih kecil, anggaplah ini sebagai masa penjajakan antara aku dan dia untuk mengetahui satu sama lain.” Jelas Bima yang membuat semua yang mendengar penjelasannya bernafas lega. Untunglah apa yang Bima minta bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan. “Saya setuju Bima asal kamu mampu menjaga Karin dan menyayanginya dengan tulus.” Tambah Papa Wira yang merasa sangat bahagia. “Baik, Om.” Seru Bima yang merasa sangat yakin. Papa Aji dan Mama Anna yang mendengar ucapan dari mulut anaknya itu pun langsung memeluk anaknya. Ternyata putra semata wayangnya ini mau menuruti apa yang orang tuanya inginkan serta bertanggung jawab. Keduanya berharap kalau Bima mampu melakukan tugasnya dan tidak sebatas ucapan belaka. Wisnu yang mendengar obrolan itu pun merasa senang kalau Adik iparnya itu mendapatkan seorang calon suami yang begitu sayang dengan keluarga dan juga terlihat sangat tanggung jawab. “Pa, Om, Tante dan juga Bima saya permisi undur diri sebentar mau cek keadaan Karin dan juga Clarissa sebentar.” Pamit Mas Wisnu sambil meninggalkan ruangan itu. Ia ingin tahu apa Karin sudah merasa tenang atau malah sebaliknya. Ia tak ingin jika karena hal ini Karin dan Clarissa malah sama- sama bertengkar. Mas Wisnu seperti sudah hapal betul bagaimana watak Kakak beradik itu jikalau keduanya sedang tidak sejalan. Dan kalau hal itu sudah terjadi akan lebih merepotkan untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN