Sesudah selesai makan malam semua kembali berkumpul di ruang tengah untuk sekedar mencicipi kue buatan Clarissa yang sempat ia buat sebelum makan malam. Karin, Clarissa dan Mama Anna mengobrol seputar urusan dapur, fashion dan beberapa hal tentang wanita. Sementara Papa Wira, Papa Aji, Bima dan juga Wisnu membahas seputar Bisnis dan beberapa hal tentang pria. Namun entah kenapa mata Bima selalu berusaha mencuri pandangannya ke arah Karin hingga Papa Wira tersadar kalau ia harus segera membahas kelanjutan perjodohan ini.
“Ji, bagaimana kita teruskan obrolan kita tentang rencana pernikahan anak- anak?” tanya Papa Wira yang di sambut senyuman oleh Papa Aji.
“Baiklah, mari kita merapat ke mereka.” Seru Papa Aji yang beranjak duduk untuk mendekat ke arah ke kerumunan kelompok wanita.
“Nita, Clarissa dan juga Karin mari kita bahas obrolan kita yang tertunda tadi siang.” Seru Papa Aji.
“Karena Karin dan juga Bima telah setuju untuk di jodohkan bagaimana kita menentukan tanggal pernikahan.” Ucap Papa Aji yang membuat Karin terkejut. Menurutnya apakah itu tidak terlalu cepat.
“Rencananya Papa punya usul untuk merencanakan pertunangan kalian besok malam sebelum kalian semua kembali ke Jakarta dan untuk hari pernikahan akan di selenggarakan dua bulan lagi di tanggal hari ulang tahun Karin. Kira- kira bagaimana?” tanya Papa Wira kepada semuanya. Beberapa dari mereka terlihat setuju kecuali Karin tapi kali ini ia merasa sangat bingung.
“Ide bagus, Pa. Pasti Karin setuju iya kan?” seru Clarissa yang membuat semua memandang Karin saat ini dan hal itu pun membuatnya canggung sekaligus malu.
“Eeem tapi apa enggak terlalu cepat ya, PA. Soalnya Karin dan Bima belum saling memahami sifat satu sama lain.” Seru Karin ragu takut kalau ia salah berbicara.
“Mas kira enggak terlalu cepat dan terlalu lama, Rin. Waktunya pas kok. Karin bisa saling memahami sifat masing- masing mulai dari sekarang hingga sesudah pernikahan. Bukannya hal itu lebih baik ya daripada nanti kalau terlalu lama akan ada hal yang tidak baik terjadi.” Jelas Wisnu.
“Papa setuju dengan ucapan Wisnu, Rin. Jika terlalu lama nanti akan ada hal kurang baik yang terjadi apalagi keluarga kita selalu jadi sorotan media nantinya.” Tambah Papa Wira yang membuat Karin tak bisa membantah karena tak mungkin kan ia baru saja minta maaf harus buat ulah lagi.
“Bima setuju kan?” tanya Clarissa sambil menoleh ke arah Bima. Bima dengan semangat hanya bisa mengangguk tanda setuju. Karin yang berharap Bima menolak hanya bisa pasrah. Suasana di ruangan itu berubah menjadi sangat menyenangkan untuk mereka.
“Tapi Karin boleh minta satu permintaan?” seru Karin yang membuat semuanya terkejut dan menatap dirinya.
“Apa, Nak?” tanya Mama Anna.
“Sebelum malam pertunangan Karin mau kita ke makam Mama.” Mama Nita yang mendengarnya sangat lega karena itu bukanlah permintaan yang sulit.
“Siap Karin sayang pasti kok.” Seru Mama Anna sambil memeluk Karin.
“Ya sudah besok kita semua akan mengunjungi makam Mama Nita, setelah itu pergi mencari cincin pertunangan kalian dan makan siang bersama di luar ya. Bagaimana Wira?” usul Papa Aji.
“Boleh sudah lama juga aku tidak keluar rumah.” Jawab Papa Wira setuju. Semua yang berada di ruangan itu pun merasa sangat bahagia karena rencana perjodohan ini tidak sesulit bayangan mereka. Setelah itu mereka lanjut meneruskan obrolan mereka namun kali ini Clarissa memberi usul agar Bima dan Karin berbicara khusus berdua saja supaya terlihat akrab.
Karin pun mengajak Bima mengobrol di balkon lantai dua. Dimana tempat favorit Karin ketika ia sedang ingin merenung dan membaca buku. di sana terdapat ayunan gantung berwarna putih dengan sebuah bantalan. Terdapat juga sebuah meja dan dua kursi dimana sekarang mereka duduk.
“Rin..” panggil Bima yang memecahkan keheningan diantara keduanya.
“Apa?” seru Karin yang malas sekali mengobrol dengan Bima. Entah kenapa Kakaknya bisa usul seperti ini.
“Aku enggak akan maksa kamu untuk mencintai aku nantinya, Rin.” Karin menoleh ke Arah Bima tak percaya kenapa lelaki itu bisa berbicara seperti itu saat ini. Ia hanya bisa menggeleng- geleng kepala tak habis pikir.
“Walau aku tahu kamu menerima perjodohan ini karena orang tua kamu kan?”
“Iyalah, kenapa pakai nanya lagi.” batin Karin.
“Tapi sebenarnya aku sudah mencintai kamu sejak pandangan pertama kita bertemu.”
“Dasar Playboy bisa- bisanya berkata hal itu padaku.” Bisik Karin sambil mendengus kesal.
“Apa, Rin?” tanya Bima yang tak mendengar apa yang ia ucapkan barusan.
“Enggak apa- apa, intinya kamu mau bicara apa?” kata Karin sambil menatap Bima yang duduk sebelahnya. Kali ini Karin sangat geram dengan Bima yang bicara terlalu bertele- tele dan tidak pada intinya.
“Aku akan buat kamu jatuh cinta denganku, Rin.” Ucap Bima yang terdengar membuat Karin mual. Oh tuhan apalagi ini kenapa laki- laki ini selalu ingin berbicara tak penting dengan Karin. Apakah Bima tidak tahu kalau Karin sangat alergi dengan kata- katanya barusan.
“Gini ya Bim, mau kamu jungkir balik pun aku enggak akan pernah suka sama kamu. Lagian kenapa sih kamu enggak berusaha batalkan atau tolak perjodohan kita? Bukannya kamu sudah punya wanita yang lebih cantik dari pada aku?” seru Karin.
“Kok kamu tahu sejauh itu tentang aku, Rin? Apa jangan- jangan kamu dulu selalu stalker aku ya.” Ucap Bima yang membuat Karin menyesal telah berbicara hal tadi kepadanya. kenapa laki- laki terlihat sangat percaya diri padahal ia sudah bersikap kasar padanya.
“Terserah kamu deh mau ngomong apa.” Kata Karin lagi sambil berdiri lalu ingin pergi meninggalkan Bima. Namun sayang tangannya di tarik oleh Bima dan Karin yang oleng langsung duduk di pangkuan Bima hingga keduanya saling bertatapan.
“Tenang saja, Rin. Di hati aku mulai saat ini Cuma ada kamu bukan yang lain jadi jangan cemburu ya.” Seru Bima lagi sambil tersenyum menggoda Karin.
“Bodoh amat, Bim. Terserah.” Seru Karin yang semakin kesal dan kini ia segera bangun dan pergi meninggalkan Bima yang masih duduk di sana.
“Aku serius loh, Rin.” Teriak Bima yang berharap gadis itu mendengarnya. Menurut Bima ini baru awal untuknya mendekati Karin. Ia sadar pelan- pelan Karin akan luluh dan jatuh cinta dengannya. Bima memegang dadanya yang kembali berdebar- debar sambil masih tersenyum.
“Aku sayang kamu, Rin.” Batinnya sambil membayangkan wajah Karin.
Sementara Karin berjalan cepat menuju kamarnya dengan wajah yang mulai memerah sepertinya ia luluh dengan apa yang barusan Bima ucapkan tapi ia tak mau semakin tenggelam dengan gombalan lelaki buaya darat seperti Bima.
“Enggak, Rin. Dia itu bukan laki- laki yang baik.” Batin Karin namun ia masih saja teringat jelas dengan apa yang Bima kepadanya. ia bergidik geli sekaligus merinding saat mengingatnya.