Ciuman itu seperti membuka pintu yang telah lama digembok. Nadine membalas pelan, kaku, dengan jantung berdentum tak karuan. Ada ketakutan, tapi juga kerinduan. Seolah dirinya sendiri terkejut oleh keberanian yang muncul entah dari mana. Tubuh mereka saling mendekap, saling mencium, seperti dua manusia yang baru saja diizinkan bernapas setelah terlalu lama tenggelam. Sava tak berkata sepatah pun saat menarik tubuh Nadine perlahan, membimbingnya menuju sofa panjang di sudut ruangan. Suasana remang, tapi cukup untuk menangkap sorot matanya—yang bergetar antara luka, cinta, dan kerinduan yang telah terlalu lama dikurung dalam diam. Jari-jarinya menyentuh wajah Nadine seolah menghafal setiap garisnya. “Kamu selalu sabar, Nadine… selalu ada.” Suaranya hampir tak terdengar, seperti bisikan dar

