Sava menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi di ruang kerjanya. Mata lelahnya menatap monitor yang menampilkan grafik dan angka-angka yang tak lagi ia pahami. Otaknya kacau. Setiap huruf di layar seolah kabur oleh satu bayangan: Nadine. Ia menutup matanya sejenak. Dan seperti adegan yang diputar ulang oleh pikirannya sendiri, ia terlempar ke hari pertama Nadine datang ke kantornya. Hari itu, Sava akan mewawancarai beberapa calon sekretaris baru. Di tangannya ada berkas-berkas para pelamar, semuanya perempuan muda dari keluarga berada, lulusan luar negeri, dengan daftar pengalaman kerja yang mengesankan. Ia sempat berpikir proses rekrutmen akan berjalan mulus. Mudah. Namun pagi itu, sesuatu menarik perhatiannya saat ia berjalan melewati lorong menuju ruang tunggu. Lantai marmer putih ka

