Hisc 20

1515 Kata

Masih lekat di ingatan Nadine apa yang membuat perasaannya semakin kuat untuk menolak pertunangan yang diatur oleh ibunya. Saat itu, dua minggu sebelum semuanya berubah, Nadine menerima telepon dari ibunya. Nada suaranya seperti biasa—tegas, tanpa bisa ditolak. "Pulang. Ibu perlu bicara." Tidak ada alasan, tidak ada penjelasan. Nadine hanya mengangguk di seberang sambungan. Hari itu, ia naik taksi dari kantor, berniat langsung pulang ke rumah ibunya di Bandung. Tapi sesuatu membuatnya meminta sopir berbelok. Mobil silver yang dikenalnya sebagai milik Indra baru saja melewati lampu merah di depannya. Nalurinya bekerja tanpa ia sadari. Bibirnya langsung memberi instruksi: "Tolong ikuti mobil di depan itu, Pak. Tapi jangan terlalu dekat." Sopir hanya melirik lewat kaca spion, lalu men

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN