Hisc 9

1176 Kata
Sava baru saja turun dari mobil, ketika ekor matanya menangkap pergerakan mencurigakan di belakangnya. Tanpa gentar, Sava menoleh ke belakang untuk melihat siapa gerangan yang sedang mengikuti atau mengawasinya. Areal parkir di gedung perkantoran tersebut masih sepi, karena Sava memang sengaja datang pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan meeting mingguan. Mestinya ini pekerjaan Nadine. Namun gadis yang sudah menjadi sekretarisnya selama lima tahun belakangan ini, masih berada di kampung halamannya untuk membereskan urusannya. Saat itu, Sava tidak melihat ada seorang pun di belakangnya. Bahkan di sekitarnya. Hanya ada beberapa mobil terparkir. Namun tidak ada orang lain selain dirinya sendiri. Sava menghela napas. Mungkin hanya perasaannya saja. Dengan langkah gontai pria berusia tiga puluh lima tahun itu memasuki lift yang akan mengantarkannya menuju lantai perusahaannya di tingkat delapan. Tidak ada Nadine yang menyambutnya seperti biasa. Meski saatbini ada staf dari departemen lain yang menjabat sebagai sekretaris sementaranya, namun rasa aneh masih menyergapnya. Nadine sudah 'mengurusnya' selama lima tahun. Sudah banyak sekali kebiasaan mereka lakukan, tanpa Sava sadari. Biasanya, Nadine pasti akan menyambutnya dengan langsung mengambil alih tas kerjanya dan meletakkan di meja kerjanya. Juga meraih jaketnya jika saat itu dia ke kantor dengan mengenakan jaket. Atau membenarkan dasinya. Semua itu dilakukan Nadine sambil mengingatkannya jadwal kerja atau pertemuan-pertemuannya dengan klien. Semua terorganisir dengan teratur tanpa sekalipun ada yang terlupa. Sava bahkan hampir tidak perlu mengingat apapun karena ada Nadine yang selalu bersedia menjadi 'agenda hariannya'. Nadine tidak pernah lupa mengingatkan nya untuk menelepon semua kliennya. Untuk menelepon guru-guru anak-anak nya, memghubungi Lani atau orang tuanya. Dari pagi hingga menjelang malam, Nadine pun tampil dengan selalu bersemangat. Sepanjang ingatan Sava, gadis itu seperti tak pernah terlihat lelah. Atau bersedih. Atau sedikit melamun, mungkin. Ah ya, memang sesekali Sava melihat perubahan mood sekretarisnya tersebut. Agak lebih pendiam dari biasanya. Atau mengantuk. Tapi Sava paham, perubahan-perubahan itu terjadi saat Nadine sedang mendapatkan 'tamu bulanannya'. Makanya terasa sekali 'hilangnya' agenda tersebut saat Nadine tidak berada bersamanya. Lucunya, Sava tak pernah mengira kalau ternyata diam-diam sekretarisnya tersebut ternyata ada hati kepadanya. Karena sejak awal Nadine bekerja dengannya, Sava tak pernah memperlihatkan perhatian khusus kepada siapapun di kantornya. Tentu saja, karena dia bukan lagi seorang bujangan. Sava adalah seorang suami dari istri yang sangat dicintainya. Sava juga seorang ayah dari tiga orang anak-anaknya. Tidak pernah terbersit di pikiran Sava untuk main-main, apa pun itu, di dalam hidupnya. Dengan Lani dan ketiga anak-anak nya, hidup Sava sudah sangat lengkap. Dia bahagia. Berkecukupan secara lahir dan bathin. Jadi tidak pernah ada celah bagi siapapun, termasuk Nadine, untuk menyusup masuk ke dalam ruang hidup nya. Itulah mengapa Sava sempat terkejut saat mengetahui ternyata diam-diam sekretarisnya tersebut memyukai nya. Selain Sava tak pernah memikirkan hal lain selain pekerjaan dan keluarganya, Nadine juga tampak sangat pintar menutupi perasaannya. Nadine benar-benar bekerja sebagai seorang sekretaris profesional. Tidak cerewet dan tak juga manja. Nadine sangat cerdas dalam membantu Sava mengambil keputusan. Gadis itu memang hanya lulusan diploma sekretaris. Namun kecerdasan nya melebihi orang yang mengenyam pendidikan sarjana. Sering Sava mendengar beberapa koleganya mengeluhkan sekretaris mereka yang jarang berinisiatif membantu. Mereka hanya bekerja sebagai pelepas hutang saja. Beberapa temannya bahkan sering Gonta ganti sekretaris dengan berbagai alasan. Sava sangat bersyukur 'memiliki' Nadine yang seperti malaikat yang diturunkan Tuhan untuk membantunya. Saat Lani, istrinya menghilang, Nadine adalah orang pertama yang sangat peduli akan kondisinya. Termasuk kondisi keluarganya. Nadine ingin tetap membantunya di kantor, mengingat Sava sudah kehilangan konsentrasi nya akibat memikirkan keberadaan Lani yang entah di mana. Namun di sisi lain, Nadine juga ingin sekali menjaga anak-anak Sava yang sudah seperti kehilangan harapan semenjak ibu mereka tidak pulang-pulang. Nadine tampak ingin membelah tubuhnya menjadi dua bagian, agar bisa menemani Sava sekaligus menjaga anak-anak nya. Lalu ketika akhirnya Sava tahu alasan Nadine bersikap seperti itu, akhirnya semua terasa masuk akal. Nadine sudah lama memyukai nya. Itulah mengapa gadis itu sangat peduli kepada nya dan keluarganya. Masih kuat ingatan di benak Sava ketika Nadine berusaha membujuk Elma dan Elmo yang berkelahi di sekolahnya karena teman-teman mereka membuli atas menghilang nya ini mereka. Nadine bahkan sampai datang ke sekolah anak-anak nya untuk menenangkan kedua anak kembarnya tersebut. Meski di awal-awal kehadiran Nadine di rumahnya mendapat begitu banyak pertentangan dari si kembar Elma dan Elmo, juga dari orang tuanya, namun Nadine tak pernah putus asa untuk meraih perhatian semuanya. Hingga lama-kelamaan, kedua anaknya tersebut menerimanya, termasuk kedua orang tuanya. Sementara Demas, jelas-jelas sangat membutuhkan Nadine sebagai sosok pengganti ibunya yang menghilang entah kemana. Demas yang baru berusia tiga tahun itu, bahkan mungkin sudah lupa dengan ibu kandungnya, mengingat Lani benar-benar bagaikan hilang di telan bumi selama 3 bulan ini. Wajar jika balitanya itu kini malah menganggap Nadine adalah ibunya. Teringat saat pertama Nadine menawarkan diri untuk menjaga anak-anak nya setelah sebulan Lani belum juga kembali, Sava sempat bingung harus bagaimana. "Pak, apakah ada waktu sebentar?" Tanya Nadine saat itu. Saat gadis itu mengantarnya makan siang. Itu adalah makan siang buatannya sendiri. Nadine mengaku sengaja memasak makanan tersebut karena dia melihat Sava sudah tak lagi berminat makan dari restoran manapun yang selama inienjafi langganan nya. "Ada yang ingin saya katakan," tambah gadis itu membuat perhatian Sava akan pekerjaannya, teralihkan. "Hm, katakan saja. Aku bisa mendengarmu walau sambil bekerja." Sava menjawab sambil kembali menekuri pekerjaannya. "Pak, bagaimana kalau sambil makan siang?" Tanya Nadine lagi sambil memperlihatkan kotak bekalnya. "Saya sangat lapar hingga ingin rasanya memakan kotak bekal ini sekaligus." Sava mengerutkan keningnya. Nadine bercanda, seperti biasa. Namun Sava sudah kehilangan ketawanya semenjak Lani menghilang dari hidupnya. "Kau ingin ngomong apa, Nad?" Nadine segera duduk di depan meja Sava. Buru-buru tangan kecilnya menyiapkan makanan Sava dan membuka kotak bekalnya sendiri. Setelah menuang jus untuk mereka berdua, Nadine mengajak saya untuk makan. Tadi pagi Nadine memasak sambal udang kesukaan Sava. Dan sayur bening. Sebelum membawanya ke meja Sava, Nadine sudah terlebih dahulu menghangatkan nya di microwave. "Ayo kita makan sedikit saja dulu, Pak. Soalnya, aku gak punya tenaga untuk ngomong kalau belum makan," ujar Nadine dengan maksud bergurau. Sava tahu sekretarisnya itu berusaha membuatnya makan. Dia memang lapar. Entah sudah berapa lama dia tak berselera makan. Namun keinginan untuk makan seperti hilang begitu saja, bersamaan dengan hilangnya wanita yang sangat dicintainya tersebut. "Ayolah makan sedikit saja, Pak. Aku memasaknya dengan segenap perasaanku." Nadine memasang wajah memelas. Sava merasa dia pasti akan sangat keterlaluan jika lagi dan lagi mengabaikan makanan yang disajikan Nadine untuknya. Mungkin siang ini dia bisa menelan satu atau dua ekor udang yang dimasak oleh gadis berparas cantik, yang duduk di hadapannya dengan penuh harap. Sava mengangguk. "Baiklah. Ayo kita makan." Nadine tersenyum lebar melihat Sava mengambil seekor udang dari wadah. Udang manis yang sudah tak berkulit itu langsung masuk ke dalam.mulit Sava, membuatnya senang. "Katakan kau mau menyampaikan apa." Sava mengingatkan Nadine. Gadis itu mengangguk. "Bagaimana kalau aku pindah kerja, Pak?" Sava yang baru ingin meraih udang kedua, langsung membeku. "Kau mau apa?" Nadine tertegun melihat Sava memandang nya dengan serius. Lalu dia ingat dengan pilihan kata-katanya yang memang agak sedikit aneh. Lalu dia cepat-cepat tersenyum. "Maaf, Pak. Aku salah bicara. Maksudku, bagaimana kalau aku pindah kerja di rumah Bapak saja? Aku ingin sekalian menjaga Elma, Elmo dan Demas."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN