BAB 4

1067 Kata
"Jaga dirimu baik-baik, Dara. Jangan makan sembarangan, jangan melakukan hal bodoh. Ingat, apa yang ada di dalam sini kelak adalah milikku," bisik Rissa dengan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. Rissa kemudian melirik ke arah Garda suaminya. "Dia cukup cantik, Mas. Bahkan lebih cantik dari di foto. Oh iya, Aku nggak keberatan dia tinggal di sini sampai bayiku lahir. Tapi ingat," Rissa kembali menatap Dara, kali ini dengan kilatan peringatan yang nyata, "Jangan pernah merasa bahwa tempat tinggal ini adalah rumahmu, ya? Soalnya, kamu hanyalah 'tamu' yang membawa titipanku." Dara hanya bisa menunduk, meremas jemarinya kuat-kuat. Sementara Rissa merasakan aura ketakutan yang bercampur dengan kepolosan wanita di hadapannya ini. Setidaknya, dia bukanlah seorang wanita yang kelihatan bisa mengambil hati suaminya. Dia bukan seorang w*************a dan hanya seorang wanita polos yang hanya bisa mengikuti setiap perintah tanpa bisa melawan dan memang itu juga yang ia inginkan. Ia baru sempat melihat secara langsung dan tidak ikut di acara akad, karena takut menjadi tidak rela melepas suaminya ke dalam pelukan wanita lain. Tapi demi berlangsungnya hubungan ia dengan sang suami dalam jangka waktu yang lama, ia terpaksa harus mencari wanita yang bisa mengandung benih dari suaminya. Anak yang kelak akan memanggilnya dengan sebutan ibu. Jadi pilihan yang ini memang benar-benar tepat. Tidak banyak tingkah dan juga penurut. "Ayo, Dara. Kita makan dulu. Kamu harus banyak makan makanan yang sehat dan juga bergizi, supaya nanti janin yang kamu kandung sehat dan tanpa cacat. Ayo sini, Sayang," ucap Rissa yang memperlakukan Dara dengan begitu manisnya. Ia juga bahkan meminta Dara untuk tinggal satu atap dengannya bukan karena memang harus memastikan kesehatan serta asupan makanannya saja. Melainkan, agar ia bisa mengawasi suaminya ini juga dan tidak sampai terjadi di belakangnya, mereka berdua yang ujung-ujungnya malah berkhianat. Setidaknya, dengan begitu ia bisa mengawasi suaminya dan juga gadis polosnya ini. Sementara itu di meja makan yang penuh dengan hidangan mewah itu, Dara menyadari satu hal yang lebih pahit dari malam pertamanya. Bahwa ia tidak hanya harus menghadapi dinginnya Garda, tetapi juga harus hidup di bawah bayang-bayang seorang istri sah yang memandangnya tak lebih dari sekadar tanah sewaan yang harus subur. Makan malam itu berlangsung dalam kesunyian yang mencekam. Di antara denting sendok dan garpu, Dara merasa dirinya semakin kerdil. Hingga tiba-tiba, Garda pun membuka suara. "Dara, mulai besok, kamu akan mulai mengikuti jadwal pemeriksaan dokter. Rissa sendiri yang akan mengatur semuanya. Dan kamu harus patuh," ucap Garda datar dan terdengar tegas. Dara mendongak lalu menatap Garda yang bahkan tidak meliriknya sama sekali ketika bicara tadi. "T-tapi Tuan, apakah saya boleh sesekali pulang untuk melihat makam orang tua saya?" Garda menghentikan makannya, meletakkan garpu dengan denting yang keras. Ia menatap Dara dengan mata yang berkilat marah. "Kamu tidak punya tempat pulang, Dara. Rumah ini adalah duniamu sekarang, setidaknya sampai kamu menyelesaikan tugasmu. Jangan buat aku mengulanginya lagi!" hardik Garda tanpa ampun. Dara menelan berat salivanya sendiri. Ternyata, memang bukan kebebasan lah yang Dara dapatkan, melainkan hanya sebuah sangka baru yang memang lebih berkilau tapi tetap membuatnya terpenjara. Lantas, bagaimana ia akan bertahan hidup di rumah yang luas namun terasa begitu sempit karena kebencian dan keangkuhan ini? Dan mampukah ia menyerahkan anak yang akan tumbuh di rahimnya nanti kepada wanita sedingin Rissa? Dara hanya bisa terdiam, tenggorokannya terasa tersumbat oleh segumpal tangis yang tak boleh pecah. Suasana meja makan itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara kunyahan Rissa yang sangat anggun. Bahkan terlalu anggun untuk seseorang yang baru saja merampas seluruh kemanusiaan wanita lain. "Jangan pasang wajah sedih begitu, Dara," timpal Rissa sambil menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain. Dia terlihat lemah lembut tapi kata-katanya begitu menusuk. "Wajah murung tidak baik untuk perkembangan janin. Anggap saja ini pekerjaan paling mudah di dunia. Kamu cukup makan, tidur, dan menjaga aset kami. Bukankah itu jauh lebih baik daripada hidup melarat di luar sana?" Dara merasakan dadanya sesak, seolah pasokan oksigen di ruangan mewah itu tiba-hati menipis. Kalimat Rissa yang menyebut janin di rahimnya sebagai "aset" menghujam jauh lebih dalam daripada bentakan Garda tadi. Ia perlahan menundukkan kepala, memaksakan sebuah anggukan kecil yang kaku. Butiran bening yang sejak tadi ia tahan di pelupuk mata nyaris jatuh, namun ia segera mengedipkan mata berkali-kali. Ia tahu, di rumah ini, air matanya tidak akan membuahkan simpati, melainkan hanya akan dianggap sebagai bentuk pembangkangan. "I-iya, Nyonya. Saya mengerti," bisik Dara dengan suara yang bergetar halus. Ia memandangi piring kristal di depannya. Makanan di sana tampak begitu menggugah selera. Daging kualitas premium, sayuran segar, dan bumbu yang aromanya memenuhi ruangan. Namun bagi Dara, semuanya terasa hambar seperti sekam. Setiap suapan yang masuk ke kerongkongannya terasa seperti duri yang harus ia telan demi bertahan hidup. Dara memberanikan diri melirik Garda. Berharap menemukan setitik saja gumpalan manusiawi di mata suaminya itu. Namun, Garda tetap fokus pada makanannya sendiri, wajahnya sedingin es, seolah-olah Dara memang benar-benar hanya sebuah "tanah sewaan" yang baru saja ia beli dan letakkan di pojok ruangan. "Terima kasih atas kebaikan Nyonya dan Tuan," lanjut Dara, nyaris tak terdengar. Kata 'kebaikan' terasa begitu ironis di lidahnya. "Saya akan... saya akan menjaga titipan itu dengan baik, kalau memang sudah berada di rahim saya." Rissa tersenyum puas melihat ketundukan Dara. Ia mengulurkan tangan, mengusap punggung tangan Dara yang gemetar di atas meja. Sentuhan itu tidak terasa hangat bagi Dara, itu terasa seperti cengkeraman predator yang sedang memastikan mangsanya tidak lari. "Pintar. Aku suka wanita yang tahu posisinya," ujar Rissa lembut, namun matanya tetap mengawasi setiap gerak-gerik Garda. "Mulai malam ini, kamu akan tidur di kamar tamu di lantai bawah. Aku sudah menyiapkan pelayan khusus untuk memastikan kamu meminum semua vitaminmu tepat waktu. Jangan coba-coba membuangnya, karena setiap butir yang masuk ke tubuhmu ada masa depan kami di sana." Dara hanya bisa meremas roknya di bawah meja. Di rumah semegah ini, ia menyadari bahwa dirinya tak lebih dari sebuah inkubator bernyawa. Ia menatap bayangannya sendiri pada sendok perak yang berkilat. Bayangan seorang wanita yang kehilangan identitas, kehilangan masa depan, dan kini, kehilangan hak atas tubuhnya sendiri. "Saya permisi ke belakang sebentar, Nyonya... Tuan... Saya merasa agak mual," pamit Dara lirih, mencari alasan untuk sekadar melarikan diri dari tatapan intimidatif pasangan suami istri di hadapannya. Tanpa menunggu jawaban yang pasti, Dara berdiri dengan kaki lemas, berjalan cepat menuju kamar mandi terdekat. Begitu pintu tertutup dan terkunci, ia menyandarkan punggungnya di balik pintu, menutup mulutnya dengan telapak tangan agar isak tangisnya tidak terdengar sampai ke meja makan. Di balik kemewahan itu, Dara menyadari satu hal, penjaranya baru saja dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN