BAB 6. Bercinta Tanpa Cinta

1365 Kata
Kalimat itu adalah pengingat sekaligus racun. Dara hanya bisa mencengkeram sprei di bawahnya hingga jemarinya memutih. Di dalam kepalanya, ia terus merapal doa yang sama setiap malam. Semoga ini yang terakhir. Semoga rahimnya segera memberikan apa yang mereka inginkan, agar ia bisa mengambil kembali sisa-sisa harga diri yang telah hancur berkeping-keping di atas ranjang yang mewah, namun terasa seperti altar pengorbanan ini. Malam itu, di bawah temaram lampu kamar, rutinitas mekanis itu kembali berlanjut. Dingin, tanpa cinta, dan penuh dengan keputusasaan yang disembunyikan di balik dinding-dinding bisu. Lalu keesokan paginya, seperti biasa Dara sudah tidak lagi melihat laki-laki yang semalam menyentuhnya. Ia sendirian di atas ranjang yang terasa dingin ini dengan tubuh yang lesu dan pikiran yang semakin tidak menentu. Beberapa hari kemudian, Garda pulang lebih awal dari biasanya. Suasana rumah sedang sepi karena Rissa sedang pergi ke luar kota untuk urusan yayasannya. Saat melewati lorong menuju kamarnya, ia mendengar suara isak tangis yang tertahan dari balik pintu kamar Dara yang sedikit terbuka. Berniat untuk menegur karena tidak ingin Dara stres, Garda justru terpaku di ambang pintu. Ia melihat Dara sedang duduk di lantai, bersimpuh di depan sebuah kotak kayu tua yang usang. Di tangannya ada sebuah syal rajutan tangan yang sudah mulai pudar warnanya. Ia memeluk syal itu dengan sangat erat, seolah benda itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang luas. "Ibu... Dara kangen," bisik wanita itu lirih. Isaknya begitu dalam, jenis tangisan yang lahir dari kesepian yang sudah mencapai puncaknya. "Dara takut, Bu. Dara takut setelah ini Dara nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Dara dijual, Bu... Dara cuma sewaan." Garda membeku. Ia baru teringat dari berkas yang dibacanya dulu bahwa Dara kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan dan terpaksa menandatangani kontrak ini untuk melunasi hutang medis dan biaya pemakaman yang telah menumpuk. Selama ini, Garda melihat Dara sebagai wanita yang "setuju" ditukar dengan uang. Namun melihatnya sekarang, melihat dia yang begitu rapuh sambil menciumi bau syal peninggalan ibunya sebagai satu-satunya kekuatan, sontak membuat dinding keangkuhan Garda retak sedikit demi sedikit. Garda tidak lantas masuk ke dalam kamar itu. Ia memilih mundur, namun langkahnya tidak lagi seringan biasanya. Malam itu, ia tidak bisa tidur. Bayangan Dara yang memeluk syal itu terus membekas di dalam pikirannya dan membuatnya terjaga bahkan hingga pukul empat pagi. "Kamu mau kemana?" tanya Garda kepada istrinya yang sudah berdandan pagi-pagi buta, saat Garda yang baru memejamkan matanya sesaat setelah ia yang kesulitan untuk tidur semalaman. "Oh, Mas Garda udah bangun? Eum... Yang aku bilang tempo hari. Gala amal di Surabaya, Mas. Masa Mas lupa? Ya... sebenarnya juga acara dilangsungkannya besok. Tapi aku ingin berangkat lebih awal. Soalnya, aku juga sekalian reuni dengan teman-teman semasa kuliah di sana dulu. Mungkin aku pulang lusa ya, Mas? Boleh 'kan?" tanya Rissa. "Ya sudah. Yang terpenting kamu jaga diri baik-baik di sana. Jangan lupa juga untuk selalu memberikan kabar dan sepertinya aku tidak bisa antar kamu, karena pagi ini jadwal briefing pagi di kantor," ujar Garda. "Iya, Mas. Nggak apa-apa kok. Kan masih ada supir. Oh iya, jangan lupa juga jadwal berikutnya lusa ya, Mas? Aku harap dia bisa segera hamil dan melahirkan anak untuk kita," pesan Rissa sambil membuat lengkung senyuman. Sebenarnya Rissa bukanlah wanita yang seluas itu hatinya, dengan membiarkan suaminya ini menikah lagi. Tapi, berkat ia yang sulit memiliki keturunan karena masalah pada rahimnya sendiri, terpaksa ia melakukan hal yang demikian. Tentu saja hal tersebut demi mengamankan posisinya sebagai menantu dari keluarga Jayanegara. Ia tak mau diceraikan karena suaminya, yang tak kunjung bisa memberikan ahli waris bagi keluarganya ini. Maka dari itu, sebelum ia didepak karena tidak bisa memberikan apa yang keluarga suaminya ini inginkan, ia sudah lebih dulu mencari wanita yang hanya bertugas untuk memberikan mereka anak. Sengaja ia cari yang masih lugu dan polos, agar suaminya tidak digoda ataupun tergoda pada wanita itu. Hingga pilihannya jatuh pada Dara, wanita yang ditawarkan langsung oleh bibinya yang gila uang itu melalui pesan yang dia kirimkan melalui akun jejaring sosial. Penawaran yang cukup menarik, karena melihat latar belakang gadis itu. Garis keturunan tetap bisa berlanjut dan posisinya di sini pun tidak akan tergantikan juga. "Tapi Mas jangan nakal pas aku tinggal pergi ya?" ucap Rissa yang kini baru merasakan was-was sendiri. Padahal sudah sengaja meminta untuk tinggal serumah agar bisa memantau suaminya. Tapi sekarang, ia harus pergi dalam waktu beberapa hari dan sudah cukup untuk membuatnya merasa harus waspada, ya meskipun biasanya suaminya ini sama sekali tidak melirik gadis sewaan mereka itu. Dan berinteraksi pun hanya ketika proses reproduksi maupun ketika makan malam saja. Itupun sang suami langsung kembali ke kamar setelah menyelesaikan 'urusan'nya. Garda menyunggingkan senyumnya sambil memijat ruang diantara kedua matanya itu. "Nakal yang bagaimana maksudnya?" tanya Garda tak habis pikir. Menikah lagi saja pun itu adalah ide dari istrinya ini dan sekarang malah mengatakan kata-kata yang tidak masuk akal begitu, seolah-olah ia akan main belakang. Ya padahal di depan mata kepalanya sendiri dia sudah mengirimkan wanita lain itu. "Ya... nakal aja, Mas. Ya pokoknya begitu deh! Selesaikan secepatnya dan hidup kita akan tentram bersama. Aku benar kan, Mas?" ucap Rissa sambil mengoleskan foundation di wajahnya lagi tapi dia malah melihat dari arah kaca, sang suami yang kini kembali berbaring di atas ranjang. "Mas? Kok malah tidur lagi?" tanya Rissa. "Iya. Aku masih agak mengantuk sedikit. Nanti kamu bangunkan aku satu jam lagi ya?" pesan Garda. "Hah... Dasar kamu tuh. Iya, ya udah. Tidur lagi deh, Mas. Aku juga masih dandan dulu. Nanti aku bangunin pas aku udah selesai siap-siapnya," ucap Rissa yang kemudian terdiam dan mendengar suara dengkuran halus suaminya itu. "Ck. Baru juga sebentar, udah pules lagi aja!" cetus Rissa sembari meratakan foundation di wajahnya. Malam harinya. Garda duduk dengan gelisah di atas ranjang. Kemudian, dia lirik sisi ranjangnya yang kosong ini dan mulai menutup laptopnya. Helaan napas dilakukan dan Garda perlahan turun dari atas tempat tidurnya, lalu pergi keluar dari kamar. Ia melangkah berapa meter dari kamar utama, lalu masuk ke kamar Dara, tetapi bukan untuk menjalankan "tugas" reproduksinya. Ia datang dengan membawa sebuah buku tua tentang botani karena ia tahu dari catatan latar belakang tentang Dara, bila dia menyukai segala hal yang berbau dengan alam dan sekaligus dengan tanamannya juga. Dara yang sedang duduk melamun di ranjang terkejut melihat kehadiran suaminya tanpa instruksi dari Rissa. "Tuan? Bukankah jadwalnya baru lusa?" tanya Dara gugup. Bahkan dia reflek menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sendiri. Garda tidak menjawab. Ia duduk di kursi kayu di sudut kamar, lalu meletakkan buku itu di atas meja. "Aku tidak ke sini untuk itu. Aku hanya ingin bekerja di sini. Kamarku sedang diperbaiki AC-nya." Sebuah kebohongan yang sangat payah, dan Dara tahu itu. Dara hanya diam, namun ia memperhatikan Garda yang mulai membuka laptop. Setelah setengah jam hening, Garda tiba-tiba bersuara tanpa menoleh. "Syal itu... rajutan ibumu?" Dara tersentak. Suaranya bergetar saat menjawab, "Iya. Itu satu-satunya peninggalan dari ibu yang masih tersisa." Garda menghentikan jemarinya di atas keyboard. Ia teringat ibunya sendiri yang juga dingin dan hanya peduli pada citra keluarga, sangat mirip dengan Rissa. "Setidaknya, kamu punya kenangan yang hangat tentang orang tuamu. Tidak semua orang seberuntung itu." Dara menatap punggung tegap Garda. Ada nada kesepian yang serupa dalam suara pria itu. Untuk pertama kalinya, atmosfir di antara mereka tidak lagi terasa seperti majikan dan pelayan, melainkan seperti dua jiwa yang sama-sama terperangkap dalam tuntutan hidup. "Tuan..." panggil Dara pelan. "Hm?" "Terima kasih karena tidak membentak saya semalam di balkon," ucap Dara yang menyadari kelancangannya semalam dan malah jadi kepikiran. Takutnya, dia datang untuk menghakiminya juga karena hal tersebut. Garda tidak menyahut, tapi ia menutup laptopnya. Lalu berdiri dan berjalan mendekat ke arah ranjang. Dara menahan napas, mengira pria itu akan meminta haknya malam ini juga. Namun ternyata Garda hanya menarik selimut yang melorot dari bahu Dara, merapikannya dengan gerakan yang sangat kaku namun anehnya terasa lembut. "Tidurlah. Besok aku akan meminta pelayan menyiapkan taman kecil di belakang balkon ini. Kamu bisa menanam apa saja yang kamu suka di sana. Anggap saja... agar kamu tidak bosan." Garda bergegas keluar seolah takut sisi manusiawinya akan terlihat lebih jauh lagi. Sementara Dara terpaku, lantas menyentuh bekas sentuhan tangan Garda di selimutnya. Di balik topeng kaku pria itu, Dara baru saja menemukan sesuatu yang lebih menakutkan sekaligus menenangkan daripada kebencian yaitu... 'Rasa Iba.'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN