BAB 1

1348 Kata
Wangi bunga sedap malam yang memenuhi kamar pengantin itu tidak lagi terasa harum bagi Dara, itu adalah aroma kematian yang memuakkan. Ia duduk mematung di tepi ranjang, jemarinya meremas kain kebaya putih dengan tenaga yang sanggup merobek seratnya. Kerah kebaya itu terasa mencekik, seolah-olah seutas tali tak kasat mata sedang perlahan menarik napas dari tenggorokannya. ​Hari ini seharusnya menjadi gerbang menuju kebahagiaan, namun di balik pintu kayu jati yang tertutup rapat ini, Dara justru sedang menunggu vonis untuk sebuah kontrak biologis yang kejam. ​Klek. ​Suara kunci diputar terdengar seperti pelatuk pistol yang ditarik. Pintu terbuka perlahan, menyisakan derap langkah kaki di atas lantai marmer yang bergema dingin, sebuah lonceng kematian bagi masa muda Dara yang baru saja menginjak usia sembilan belas tahun. ​Ia mendongak. Sosok itu melangkah masuk dengan aura yang begitu pekat dan mengintimidasi, seolah oksigen di ruangan itu terserap habis ke arahnya. ​Garda Jayanegara. Pria itu berhenti tepat di hadapan Dara. Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan. Ia bahkan tidak melepas jas atau melonggarkan dasinya, seolah kehadirannya di kamar pengantin ini hanyalah mampir sebentar untuk menyelesaikan urusan bisnis yang mendesak. Tatapannya sedingin es, memandangi Dara bukan sebagai seorang istri, melainkan sebagai aset berharga yang baru saja ia beli di pelelangan. ​Sebelum Dara sempat membasahi bibirnya yang kering untuk bicara, suara bariton Garda memecah keheningan, menghempaskan kalimat yang seketika menghancurkan sisa-sisa harga diri gadis itu ke dasar bumi. ​"Jangan mencintaiku, Dara!" cetusnya tajam, matanya yang tajam mengunci manik mata Dara yang bergetar. "Jangan pernah mengharapkan apa pun dari pernikahan ini. Tugasmu di sini hanyalah satu, mengabdikan seluruh hidupmu sampai benihku tertanam di rahimmu. Lalu, setelah anak itu lahir, berikan dia kepada istriku dan pergilah dari hidup kami selamanya." Dara tertegun dengan perasaan yang linglung dan juga bingung. Bahkan kata-kata itu saja masih mengiang di dalam kepalanya dan tumpang tindih dengan memori prosesi akad nikah yang baru saja lewat beberapa jam lalu. Ia teringat bagaimana Garda yang mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan napas yang tegas. Bukan karena cinta, tapi karena urgensi sebuah tujuan. Dara belum sepenuhnya mencerna tapi Garda kemudian melemparkan sebuah map cokelat ke atas sprei sutra di sisi Dara persis. "Tandatangani ini. Isinya detail mengenai apa yang kukatakan tadi. Hak asuh anak sepenuhnya jatuh padaku dan istriku, Elena." Dara menatap map itu dengan dahi berkerut. Tangannya yang dingin meraih benda tersebut, membukanya dengan gerakan perlahan seolah-olah isi di dalamnya adalah hal yang menakutkan. Matanya mulai menyisir barisan kalimat formal yang tertulis di atas kertas putih bersih dengan kop surat keluarga Garda. Setiap poin yang ia baca membuat pasokan oksigen di paru-parunya terasa menipis. Pihak Kedua (Dara Renata Atmaja): Setuju untuk melepaskan segala bentuk hak asuh, hak perwalian, dan hak kunjung secara permanen segera setelah proses persalinan selesai. Pihak Kedua dilarang untuk mencari tahu keberadaan anak maupun menghubungi anak di masa depan dengan alasan apa pun. Tubuh Dara seketika terasa lemas, seolah seluruh tulang penyangganya baru saja dicabut. Map itu terlepas dari genggamannya, jatuh miring di atas ranjang. Ia terduduk merosot, tangannya bertumpu pada kasur agar ia tidak jatuh sepenuhnya ke lantai. "Jadi... Bibi suruh aku menikah karena..." Dara tak lagi sanggup berkata-kata, apa lagi isi dari surat perjanjian itu seperti sebuah vonis hukuman mati untuknya. "Pelepasan... hak kunjung?" suara Dara tercekat di tenggorokan. "Tuan, saya pikir saya masih boleh melihatnya sesekali. Ini bukan sekadar perjanjian uang, ini tentang nyawa yang akan tumbuh di dalam diri saya kan?" ucap Dara lemas. Ini adalah pukulan bertubi-tubi bagi Dara. Setelah tahu bila sang bibi malah menjerumuskannya ke dalam lembah hitam ini, ia juga harus menerima kenyataan, bila sosok yang belum ada pada dirinya saja sudah diklaim dan ia tidak memiliki sedikit pun hak atas sebuah nyawa baru itu. Garda bergeming. Ia berdiri menjulang di depan Dara, bayangannya menutupi tubuh mungil gadis itu. "Jangan naif. Kamu dibayar mahal untuk menjadi 'wadah', bukan untuk menjadi ibu. Elena tidak ingin ada bayang-bayang wanita lain dalam hidup anak kami nanti. Begitu kamu menyerahkannya, kamu dianggap tidak pernah ada." Dara mendongak dengan wajah pucat pasi. Dunianya yang tadi sudah runtuh, kini terasa hancur menjadi debu. "Jadi, saya benar-benar hanya sebuah mesin?" Garda berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Dara, lalu mencengkeram dagu gadis itu dengan kekuatan yang pas namun mengintimidasii. "Rahimmu hanyalah perantara, Dara. Jangan biarkan hormon atau perasaan picikmu merusak rencana ini. Elena sedang menungguku di rumah utama, dia yang seharusnya berada di sini jika rahimnya tidak bermasalah. Jadi, jangan buat aku mengulanginya lagi. Jangan ada cinta, jangan ada ikatan. Berikan aku seorang anak dan setelahnya kita selesai." Dara melipat erat bibirnya sendiri. Ia pikir ini adalah awal pembebasan dari segala perilaku kasar bibinya selama ini. Tapi ternyata, ini adalah neraka baru, yang sengaja sang bibi ciptakan untuknya. "Ayo cepat tandatangani, sebelum kita memulai inti dari acara siang tadi!" perintah Garda dengan tegas. Dara mulai mengambil pulpen yang terselip di dalam map dengan tangan yang bergetar hebat. Ia teringat wajah bibinya yang menangis karena teror rentenir, teringat ijazah SMA-nya yang hanya tersimpan di dalam lemari tua. Dan sekarang, dengan satu goresan tinta yang dipaksakan, ia resmi menjual masa depannya sebagai seorang ibu. "Apa saya benar-benar nggak punya hak sedikit pun untuk melihatnya nanti? Dia akan tumbuh dari rahim saya, Tuan," bisik Dara dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kamu sudah membaca setiap pointnya bukan? Jadi, aku rasa kamu sudah tidak perlu lagi menanyakan hal itu" Garda berdiri dan menatap Dara tanpa adanya sedikit pun kelembutan. "Cepat hapus riasan wajahmu yang tebal itu. Aku ingin segera menyelesaikan bagianku agar aku bisa pergi dari sini." Dara berdiri dan pergi ke depan meja rias. Dia mematung di sana, dengan kapas di tangannya yang masih ternoda sisa foundation yang tiba-tiba terjatuh ke lantai. Melalui pantulan cermin, ia melihat Garda berdiri tepat di belakangnya. Tangan pria itu, yang terasa besar dan panas, perlahan mendarat di bahu polos Dara yang hanya tertutup tali tipis kamisolnya. Dara berjengit, bahunya merapat secara refleks. "Jangan kaku begitu," bisik Garda di dekat telinga Dara. Napasnya yang beraroma mint dan alkohol tipis menerpa kulit leher Dara, menciptakan sensasi merinding yang bukan karena gairah, melainkan ketakutan. "Anggap saja ini pekerjaan. Bukankah itu yang kamu inginkan? Uang untuk kuliah dan membayar hutang-hutang bibimu?" Jari-jari Garda mulai menelusuri garis leher Dara, bergerak perlahan namun menuntut. Tidak ada belaian lembut layaknya pengantin baru. Sentuhannya terasa efisien, seperti seorang penguasa yang sedang memeriksa wilayah jajahannya. Garda memutar tubuh Dara agar menghadapnya. Ia memaksanya berdiri, hingga jarak di antara mereka hilang sepenuhnya. d**a bidang Garda yang kini hanya tertutup kemeja putih yang terbuka kancingnya, terasa keras menekan tubuh mungil Dara. "Tatap aku, Dara," perintah Garda dengan nada rendah yang tidak menerima bantahan. Dara memberanikan diri mendongak. Di mata Garda, ia tidak menemukan jejak kasih sayang. Yang ada hanyalah ambisi dan sebuah misi yang harus segera dituntaskan. "Malam ini hanya soal satu hal, yaitu memastikan benihku tertanam. Tidak lebih. Jadi, simpan air matamu. Itu tidak akan mengubah apa pun." Garda kemudian merengkuh pinggang Dara, menariknya lebih rapat. Saat tangan pria itu mulai bergerak turun, Dara memejamkan mata dengan rapat. Ia mencoba memvisualisasikan mimpinya yang hancur di dalam ruang kelas universitas yang kini terasa sangat jauh, panggilan kerja yang tak akan pernah ia datangi, dan masa depan yang kini terkunci di dalam kamar ini. Dara merasakan bibir Garda menyentuh kulitnya, kasar dan dingin. Ia menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan isak tangis yang mendesak keluar. Ia merasa tubuhnya bukan lagi miliknya dan ia hanyalah sebuah bejana, sebuah ladang yang siap ditanami, lalu ditinggalkan setelah panen tiba. Di bawah remang lampu kamar yang mewah, Dara menyerah pada takdir yang dipaksakan. Ia membiarkan Garda membawanya ke atas ranjang, membiarkan pria itu melakukan bagiannya dalam "kontrak" ini, sementara di dalam hatinya, Dara mulai membangun dinding setinggi mungkin agar ia tidak hancur lebih dalam lagi. Malam itu juga, di antara wangi sedap malam yang kian memuakkan, satu-satunya yang tersisa dari Dara adalah raga yang pasrah, sementara jiwanya telah lama pergi mencari pintu keluar. Dalam kegelapan itu juga, satu pertanyaan terus terngiang di benak Dara. 'Setelah rahimnya penuh dan anak itu lahir, apakah masih ada sisa dari dirinya yang bisa ia selamatkan? Masihkah ada secercah harapan untuk meraih kebahagiaannya sendiri?'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN