"Maafkan Abay gak bisa ikut nungguin ya," ucap Akbar, Midah yang sedang menuntun Gia mengiyakan. Lalu membiarkan lelaki muda itu pulang. Sejak mereka menginjakkan kaki di rumah sakit gawainya Akbar tidak berhenti berdering. Sang ibu yang khawatir terus memintanya untuk pulang. "Kak Abay, terimakasih," ucap Gia. Gadis kecil itu terlihat cemas dan panik. Midah berusaha menghubungi Niko. Susah sekali, teleponnya tersambung, tetapi tidak diangkat. Kemudian sesal merayapinya. Andai saja tadi dia membawa Intan ke Rumah sakit besar, mungkin dia akan mudah mencari Niko. Karena lelaki itu sedang bertugas disana. "Bu, minta kain jarik, satu stell pakaian ibu yang bersih dan pakaian bayi." Permintaan bidan mengagetkannya. Dengan cekatan Midah mengabulkan permintaan bidan. "Gak kenapa-napa, kan,

