Bianka termenung duduk di tepi ranjang mengigit bawah bibir memikirkan tentang bekas lipstik yang berada di kemeja Satria. Ia bingung harus apa? Apa mungkin Satria mengkhianatinya, tapi selama ini tak pernah merasakan sikap yang aneh darinya semua normal dan biasa saja. Bahkan hubungan ranjang mereka selalu panas dan menggelora. Memikirkan hal itu membuat kepala Bianka pening dan hatinya sesak, seperti ditikam belati. Ia menghapus sisa air mata dengan punggung tangan jejak basah masih membekas di pipinya seperti aliran anak sungai. "Mungkin lebih baik, aku tanyakan langsung sama Satria saat pulang nanti. Kalau beneran dia berselingkuh. Aku mau minta pisah gak mau hidup sama dia lagi. Ngapain hidup sama orang yang tukang selingkuh, gak guna. Dipikir dia doang pria di dunia ini. Ck ... Ap

