Bab 21Mari menikah saja! Beberapa bulan kemudian. "Ris, kamu dipanggil Tuan Zaidan tuh." Seorang office girl yang baru memasuki dapur yang mengatakan itu. Risma menoleh pada office girl tersebut. "Ada apa ya?" Gadis office girl itu mengendikkan bahu. "Mana aku tau. Apa Tuan tidak chat kamu?" "Oh, tidak tau juga ya. Aku belum mengecek ponselku." Risma mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan memeriksa benda pipih di tangannya. Benar saja, ada beberapa chat dari Zaidan. Risma menoleh pada office girl tadi. "Lin, kamu ya yang membuat kopi. Aku harus segera ke ruangan Presdir." "Iya, sudah sana pergi. Aku bisa disalahkan oleh Tuan Zaidan jika membuat belahan jiwanya banyak pekerjaan di dapur." Risma menipiskan bibir. "Iss, apa sih? Jangan bicara yang tidak-tidak." "Iya, iya, oke. P

