Di dalam tenda, sepeninggal Amanda yang berlari dengan langkah tergesa entah kemana, Senja membuka kedua matanya. Pria itu menatap atap-atap tenda dengan pandangan menerawang, lalu mengembuskan napas panjang. Anggaplah pria itu seorang pengecut karena hanya bisa berpura-pura tidur untuk mengelabui Amanda. Padahal, jelas ada banyak hal yang sudah seharusnya mereka bicarakan. Namun Senja malah menyia-nyiakan waktu yang sebelumnya ada. Ia tidak ingin mendengar penjelasan dalam bentuk apapun. Apa yang ia lihat selama dua hari ini sudah menjelaskan semuanya. Lagipula, Senja juga ingin merasa kesal. Ia tidak mengerti mengapa harus bersikap abnormal seperti ini. Mengapa rasanya kesal saat melihat Amanda begitu akrab dengan pria lain? Mengapa rasanya risih saat mendapati Amanda berdekatan dengan

