Chapter 81: War is Coming (2) Masih berada di tempat yang sama, Rhaga masih berlutut dengan kepala menunduk dengan air mata yang mulai mengering. Lama dia menunggu tapi tidak satu pun orang keluar dari ruang tidur Raja Zaviest juga pintu itu sama sekali tidak terbuka. Dalam penantiannya Rhaga berharap dalam hatinya jika sang ayah yang baru dia kenal untuk beberapa hari itu baik-baik saja. Jiwanya tidak akan sanggup untuk melihat kematian yang lainnya. Sampai kapan pun tidak akan pernah sanggup. Sementara di sampingnya, Moscha pun hanya bisa berharap-harap cemas menunggu kabar dari kakaknya. Dia pun dilemma, tak bisa meninggalkan keponakannya yang luluh lantak tak berdaya setelah mendengar mengenai ayahnya, di sisi lain nalurinya sebagai adik terus mendorongnya untuk memaksa masuk.

