FORBIDDEN SEAL

3197 Kata
Chapter Six: FORBIDDEN SEAL Langkah pincang Rhaga terhenti seketika saat dia berhasil keluar dari rumah Risaya. Hampir saja Aranhe menabrak punggungnya, apabila tak segera menyadari jika Rhaga berhenti mendadak. Sementara Rhaga terpaku keheranan menatap pemandangan yang tak biasa di depannya. Semua orang berlarian, teriakan terdengar di mana-mana, ada seseorang yang berlari dengan panah menancap di tubuhnya, ada beberapa orang yang sudah tergeletak di tanah dengan lubang di d**a atau di kepala mereka.   “A-ap-apa yang terjadi?”   Rhaga sungguh terkejut dengan kondisi saat ini, beberapa menit yang lalu saat berada di dalam rumah dia tidak mendengar apapun, tidak, bahkan ketika dia keluar dari rumah ayahnya berjalan menuju rumah Risaya, keadaan masih sangat ramai penuh kegembiraan. Pemusik masih memainkan musik dengan riang, beberapa wanita masih tertawa, beberapa orang masih sibuk membawa persiapan pesta. Akan tetapi sekarang, semuanya tampak berbeda, sungguh berbeda.   Ketakutan menyebar dengan cepat, itu jelas terpancar dari wajah banyak orang yang berlarian mencari perlindungan. Diam-diam ketakutan itu mulai merayap di hati Rhaga, membuat tangannya terkepal dan gemetar. Batinnya pun bertanya-tanya, kondisi macam apa ini?   “Awas!” Aranhe menarik Rhaga ketika sebuah anak panah melesat hampir menembus mata Rhaga hingga keduanya pun terjatuh di tanah.   Nafas Rhaga memburu, kini rasa takut itu sungguh menyebar hampir ke seluruh tubuhnya. Bersama dengan Aranhe mereka merangkak mencari tempat perlindungan. Batu besar menjadi pilihan sementara untuknya, walau persembunyian itu tak bisa membuat ketakutan Rhaga mereda.   “Bagaimana, bagaimana kita, Risaya, Ayah, bagaimana keadaan mereka?” Rhaga meracau dengan suara yang bergetar. Pandangannya kosong menatap ke bawah, menatap kakinya yang luka-luka.   “Bagaimana apanya, aku mengikutimu kupikir kau akan ikut menyerang mereka?!” hardik Aranhe yang kesal karena sikap sombong Rhaga menguap tak berbekas. “Rhaga,” panggil Aranhe sembari menatap Rhaga dengan tajam, namun yang ditatap itu masih menatap kosong ketakutan seperti anak anjing yang kehilangan induknya.   “HEY!” Aranhe berteriak, meski tahu itu akan membahayakannya dia tidak peduli. Aranhe menarik pakaian Rhaga yang tak tertutup sepenuhnya, memaksa pemiliki mata berwarna lembayung itu menatapnya. Saat itu Aranhe pertama kali melihatnya, ketakutan yang mencengkram jiwa Rhaga itu nyata, tak main-main. Rhaga yang dia kenal selama ini seolah hilang ditelan oleh ketakutan itu.   “Rhaga! Sadarlah! Kita harus membantu mereka!”   “Ba-bagaimana caranya?” airmata berkumpul di pelupuk mata Rhaga. Entah mengapa dia menjadi lemah begini, mungkin karena orang-orang yang berjatuhan dengan luka di tubuh mereka, atau karena kematian menjadi semakin dekat dengannya setiap waktu.   “Kumpulkan keberanianmu seperti saat kau pamer di depan Risaya, pikirkan dia, pikirkan ayahmu, kau ingin melindungi mereka, ‘kan?” Aranhe berusaha untuk membangkitkan keberanian Rhaga yang hampir lenyap. “Gunakan otak licikmu ini!” Aranhe menunjuk kepala Rhaga.   Rhaga menatap satu-satunya sahabat lelaki yang dia miliki, sedikit kesal karena kepalanya ditunjuk-tunjuk, lalu dia pun menghela nafasnya dalam-dalam dengan menutup matanya. Rhaga berusaha membangkitkan lagi keberaniannya, dia memaksa otaknya agar bekerja dengan benar di saat seperti ini.   “Sialan, berpikirlah!” batin Rhaga mengumpat. Tak berselang lama, dia membuka matanya, seolah-olah baru saja mendapatkan sebuah ide licik untuk menghadapi para penyerang yang diketahui asal muasalnya ini.   “Argh! Panas!” pekik Aranhe tiba-tiba saja.   “Ada apa?”   “Sesuatu terbakar,” balas Aranhe sambil memandangi sesuatu yang baru saja mengenai bahunya itu. rupanya itu adalah sebuah bara yang sudah habis apinya.   Keduanya kemudian mengintip dari balik batu, mereka melihat Tuan Basram dan anak buahnya yang menyerang pemukiman penduduk, dan mereka tidak sendiri, ada orang-orang dengan penampilan yang sangat aneh dan asing itu membantu mereka.   “Ini semua ulah Paman Basram?” Rhaga jelas terkejut, apa yang terjadi sebenarnya selama dia tidak sadarkan diri sampai penghianatan Tuan Basram terlewat olehnya.   “Paman Basram pasti sudah gila,” balas Aranhe yang sama tak mengertinya dengan Rhaga, “Kau sudah punya rencananya, ‘kan?”   Rhaga menoleh perlahan ke arah Aranhe, menatap sahabatnya dengan kelopak yang menyipit. Kemudian dia menggeleng perlahan, sebuah gelengan yang berhasil membuat perut Aranhe melilit.   “Lalu, apa yang akan kita lakukan?”   “Kita jelas kalah jumlah …,” ucap Rhaga sembari mengamati semua orang yang berjalan menghabisi semua yang ada di depannya. “Apa yang diinginkan oleh Paman Basram sebenarnya, dan siapa orang-orang itu?”   “Ini bukan saatnya untuk berpikir lagi, kita harus bertindak Rhaga.”   Rhaga mendengus kesal, kepalanya bahkan belum sembuh sepenuhnya, tapi dia dipaksa untuk membuat rencana. Tiba-tiba, Rhaga terpikir sesuatu, dia menarik Aranhe mendekat dan membisikannya ke telinga Aranhe sesuatu yang baru saja terlintas di dalam kepalanya.   ***   Tubuh Rhaga terhuyung lalu ia menyandarkannya pada sebuah pohon besar yang terletak tak jauh darinya, nafasnya terengah-engah, dia telah berlari menelusuri hutan untuk mencapai bibir pantai. Bayangan orang-orang yang berjatuhan akibat anak panah kembali berputar di kepalanya, jantungnya berdebar dengan kencang karena imajinasinya terlalu liar, bayangan Risaya yang terjatuh di tanah malah menghantuinya.   “Tidak, aku harus berhasil menuju ke pantai sebelum semuanya terlambat,” gumamnya sambil mengusap dadanya, berharap jika dia melakukan itu maka udara akan masuk dengan mudah ke paru-paru miliknya.   Setelah menelusuri hutan secara diam-diam itu, Rhaga pun akhirnya sampai di bibir pantai. Dia berhenti untuk sejenak, kemudian memandang belakangnya yang hanya terdapat pepohonan dan asap yang mulai mengepul. Hutan ini akan segera terbakar habis, pikirnya.   Rhaga harus bertindak cepat, dia segera kembali menatap lurus ke arah pantai. Seperti dugaannya, para orang-orang asing yang berpakaian aneh itu datang dengan menggunakan perahu besar, perahu yang tak pernah dilihat oleh Rhaga sebelumnya. Bentuknya sangat megah, sangat jauh apabila dibandingkan dengan perahu-perahu kecil penangkap ikan milik Tuan Basram, bahkan terdapat ukiran berbentuk manusia dengan sayap pada bagian depannya. Walau Rhaga sangat mengagumi bentuk perahu besar itu, dia tak memiliki waktu untuk berdiam diri dan memuja perahu itu.   Matanya nyalang menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu, lantas dia melihat sebuah gerakan pada perahu besar, Rhaga memicingkan matanya untuk memastikan apa yang dia lihat, akan tetapi tak berselang lama kemudian sesosok gadis berambut kemerahan turun dari perahu besar dan matanya melebar ketika sosok Rhaga tertangkap oleh pandangannya.   “Hey, Pymtas!” teriak Rhaga sembari mengerahkan seluruh tenaganya untuk berjalan ke arah Pymtas. Sementara gadis itu hanya mematung, seperti tak percaya melihat sosok Rhaga ada di hadapannya, bahkan berlari ke arahnya. Sampai sebuah kesadaran pun menghantam kenyataannya, Pymtas membalikkan badannya dan berusaha untuk pergi.   “Mau ke mana kau?” Tangan Rhaga mencengkram pundak Pymtas, lalu mengunci tangan kanannya di balik punggung, tak membiarkan gadis itu pergi.   “Rha-Rhaga, lepaskan aku!” Pymtas berusaha memberontak, walau Rhaga belum pulih sepenuhnya tapi kekuatannya tak bisa dibandingkan dengan Pymtas yang bertubuh kecil dan lemah ini.   “Siapa saja yang bersamamu?” tanya Rhaga.   “Ti-tidak, tidak ada siapapun,” balas Pymtas dengan tergagap.   “Ahh, jadi benar kalian para wanita nelayan bersembunyi di perahu besar ini sementara para lelaki menghancurkan suku kita?” Sesuai dengan dugaan Rhaga sebelumnya, para wanita nelayan memang bersembunyi di kapal, menunggu para lelaki kembali setelah menghancurkan hutan tempat tingga suku Brysn.   “Lepaskan aku sialan!” Pymtas menggeliat, mencoba melepaskan dirinya dari Rhaga. Namun, Rhaga kemudian memukul tengkuk gadis itu sehingga gadis itu pun akhirnya tak sadarkan diri.   Rhaga tak ingin tahu siapa saja yang bersembunyi di kapal besar itu, dia kini menunggu seseorang sembari melepaskan perban di kepala dan bahunya, kemudian mengikatkan perban itu pada tangan dan kaki Pymtas. Setelahnya Rhaga roboh di atas pasir pantai yang cukup panas, tenaganya terkuras dan rasa sakitnya kembali menjalar ke seluruh tubuh.   “Kenapa kau malah berbaring di sini sialan! Orang-orang sedang berjuang tapi kau?!” Suara bak genderang yang dipukul ini mengejutkan Rhaga, dia pun berusaha bangkit dan melihat sosok yang mendekat.   Itu adalah Rondakh bersama dengan beberapa pemuda suku mereka, di tangan mereka sudah terdapat beberapa kain yang tampak basah. Dari aromanya Rhaga tahu, kain-kain itu sudah dilumuri dengan minyak. Sesuai dengan instruksinya pada Aranhe sebelumnya.   “Kau lihat, tidak seorang pun wanita dari para nelayan itu ada di sini, mereka pasti sedang bersembunyi di suatu tempat.”   Aranhe mengangguk lemah, apa yang dilihatnya memang seperti yang dikatakan oleh Rhaga, tidak satupun penduduk terlihat seperti para nelayan.   “Lalu apa hubungannya?”Aranhe bertanya dengan bingung. Dia tidak mengerti apa kaitannya wanita nelayan dengan Tuan Basram dan orang-orang asing yang menyerang mereka ini.   “Mereka bersembunyi, aku akan mencari persembunyian mereka kurasa mereka tidak akan jauh-jauh dari pantai, sementara kau pergi dan temui siapapun yang menurutmu mampu, minta mereka datang menemuiku dengan membawa bahan bakar, katakan pada mereka untuk melewati jalan rahasia, dan ….” Rhaga tampak ragu, “Katakan pada ayahku, untuk bertahan sedikit lebih lama, aku akan datang untuk membantunya, pasti.”   Setelahnya mereka berpisah jalan.   “Kau yang datang?” Rhaga tampak terkejut karena kedatangan Rondakh dengan pakaian khas pengantin suku Brysn, sebaliknya Rondakh tampaknya tak heran sama sekali melihat Rhaga yang akhirnya bangun dari tidur panjangnya, tak seperti orang-orang lainnya.   “Apa masalahnya? Kau juga ada di sini.”   “Ah sudahlah, terimakasih, kalian sudah membawa semua ini.”   “Jadi apa rencanamu selanjutnya?” Rondakh terlihat cukup gelisah, karena dia meninggalkan pengantinnya.   “Wanita nelayan ada di perahu besar, kirim orang-orang untuk menjaga mereka agar tidak kabur, sementara itu ….” Rhaga memperhatikan seluruh perahu yang ukurannya jauh lebih kecil dari perahu besar ini. Rondakh masih gelisah menunggu kelanjutan dari penjelasan Rhaga.   “Kita akan membakar perahu-perahu kecil ini, jangan bakar semuanya, kita hanya butuh asapnya.” Kata Rhaga sembari menatap penuh kepercayaan pada Rondakh dan pemuda yang lainnya.   “Baiklah, kami akan turuti ucapanmu, aku tahu kau selalu punya otak yang paling cemerlang.”   Bersama dengan Rondakh dan pemuda yang lainnya, dia membakar beberapa perahu, menyisakan satu perahu yang paling besar dan dua yang kecil. Setelahnya, Rhaga memberitahu semua rencananya pada Rondakh, dia pikir Rondakh pantas untuk dipercaya walau sebelumnya mereka hanya bisa saling mengejek.   ***   “Dengan membakar perahu ini kita membuat posisi mereka setara dengan kita, mereka akan berpikir jika mereka telah terjebak di pulau yang mereka bakar ini bersama kita, lalu kita akan menghampiri mereka dan membawa Pymtas sebagai sandera, Paman Basram tidak akan melanjutkan penyerangannya jika tahu anak perempuannya di tangan kita.”   “Kau punya senj*ta untuk menakuti mereka?”   “Aku yakin, perahu besar itu menyimpan banyak senj*ta.”   ***   Aranhe bergegas pergi setelah Rhaga membicarakan rencananya, beberapa langkah Aranhe berhenti lalu menoleh kembali ke belakang. Rhaga, sahabatnya itu dengan langkah kaki tertatih berjalan dengan sangat cepat. Aranhe hanya berharap dalam hatinya, jika perjalanan Rhaga dan rencana mereka akan berhasil. Setelahnya, dia pun beranjak dengan berjalan sambil merunduk berusaha menghindari pandangan musuh.   Tepat ketika matanya melihat sosok Rondakh sedang menarik pengantinnya agar menjauh dari medan perang, Aranhe melupakan kaki pincangnya dan melompat begitu saja untuk menghadang Rondakh.   “Apa yang kau lakukan, menyingkir dari jalanku!” teriak Rondakh yang merasa jalannya terhalang. Sementara di belakang mereka penyerang sudah hampir mendekat.   “Aranhe apa yang kau lakukan di sini, pergi dari sini dan bawa Rhaga pergi!” Tuan Sotaka yang melihat kedatangan Aranhe menjadi cemas akan puteranya yang dia kira masih terbaring tak sadarkan diri. Di sisi lain, Aranhe yang cukup panik saat ini karena dia tidak memiliki waktu untuk menjelaskan secara panjang lebar, akhirnya memilih untuk tetap menghalangi jalan Rondakh.   “Rhaga membutuhkanmu, dia menunggu di pantai, bawa semua anak buahmu dan apapun yang bisa kau gunakan untuk membakar kapal.”   “Tidak! Aku tidak akan membantu ….” Rondakh menyadari sesuatu, begitu juga dengan Tuan Sotaka. Hanya satu kesamaan pikiran mereka saat ini yaitu, Rhaga telah sadar.   “Apa kau bilang, Rhaga sudah sadar dan dia ada di pantai?”   “Paman, aku tak bisa menjelaskannya lebih panjang. Intinya, kau harus menghalau para penyerang itu, sementara kau Rhaga, kau harus membantu Rhaga.dia … tidak, penduduk Suku Brysn membutuhkanmu.” Aranhe menatap Rondakh dengan mata penuh keyakinan, hingga akhirnya hati Rondakh yang sekeras batu pun luluh. “Aku akan membawa pengantinmu ke tempat yang aman.”   Rondakh menatap pengatinnya yang sudah berdandan dengan sangat cantik, seharusnya hari ini menjadi hari bahagia mereka. Namun, penyerang itu telah merusaknya, dan kini mereka pun harus berpisah.   “Aku akan kembali, ikut dengan Aranhe ke tempat yang aman, aku akan menjemputmu nanti,” ujar Rondakh sembair mencium kening pengantinnya. Setelah itu dia pun beranjak pergi dan mengumpulkan beberapa pemuda dan pergi.   “Paman ….” Aranhe menyadarkan Tuan Sotaka yang menatap Rondakh dengan cemas dan ada kecemasan yang lebih besar tersirat dengan sangat jelas di matanya. “Ini keinginan Rhaga.”   “Kau bawa dia ke tempat yang aman, lindungi mereka aku akan mengulur waktu agar rencana Rhaga bisa berhasil.”   Seperti arahan Tuan Sotaka, Aranhe pun segera membawa gadis pengantin Rondakh itu pergi dari sana ke tempat persembunyian yang lainnya. Sementara Tuan Sotaka kembali mengangkat pedangnya, menghalau para penyerang itu agar tak lebih dekat.   Pedang Tuan Sotaka itu terhenti ketika matanya menatap Tuan Basram yang begitu kejam membunuh para penduduk yang menghalangi jalannya, para penyerang asing itu pun tampak sangat menikmati p*********n yang mereka lakukan. Amarah Tuan Sotaka pun telah sampai pada puncaknya, tak lagi bisa menahannya walau hanya sesaat. Tuan Sotaka berjalan ke arah Tuan Basram, hanya berjarak beberapa meter dia pun berhenti.   “Cukup Basram!!!” Sotaka berteriak dengan sangat keras, mereka semua berhenti menyerang satu dengan yang lainnya.   “Oh Sotaka, senang melihatmu masih bisa berteriak padaku.”   “Hentikan semua ini! kenapa kau menyerang kaummu sendiri?”   “Kaumku? Hahaha!” Basram tertawa sangat keras sampai lemak-lemak dibalik kulitnya yang bergelambir pun bergoyang-goyang. “Mereka tidak pernah menjadi kaumku, tidak! Kau tidak pernah membiarkan aku menjadi salah satunya.”   Tangan Sotaka mengerat pada gagang pedangnya, merasa apa yang diucapkan oleh Basram tak ada benarnya. Dia tidak pernah membedakan sikapnya, semua orang diperlakukan dengan setara. Jika Sotaka tak memperhatikan penderitaan yang tengah dirasakan oleh rakyatnya, dia akan menusukkan pedang itu ke leher Basram.   “Kau tidak bisa menyangkalnya, aku tahu aku benar!”   “Apa maumu, apa yang kau dapatkan dengan membunuh semua orang yang tak bersalah?”   Basram menatap Sotaka dengan tatapan penuh selidik, sepertinya dia bisa memanfaatkan keadaan ini untuk kepentingannya tanpa perlu bersusah payah lagi. “Jika aku mengatakan keinginanku, apa kau akan memberikannya?” tanyanya dengan kesombongan yang menguar dari semua pori-pori tubuhnya.   “Jika kau berjanji akan melepaskan semua orang jika aku menurut padamu?”   “Ya, semua orang,” balas Basram dengan senyuman licik terlukis di wajahnya.   “Baiklah, katakan apa mau?” Sotaka tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh Basram, akan tetapi dia masih waspada dan mengantisipasinya. Sotaka tahu dengan pasti bagaimana watak Basram, pria itu sungguh licik dan sangat picik sekali.   “Aku ingin kau menyerahkan suku ini padaku …,” ucap Basram tanpa basa-basi.   “Baiklah.” Sotaka menjawab cepat, melepaskan gelar sebagai kepala suku adalah hal yang mudah apabila hal itu bisa menyelamatkan seluruh penduduknya yang tersisa. Akan tetapi, Sotaka keliru, Basram sangat licik.   “Dan …,” lanjut Basram dengan seringaian lebarnya menunjukkan giginya yang mulai menguning.   “Apa maksudmu?” sambar Sotaka. “Apa lagi yang kau inginkan?”   “Aku tak bilang jika keinginanku hanya satu, kau tidak seb*doh itu,  Sotaka.”   Basram benar, Sotaka sudah menduga jika hal seperti ini pun akan terjadi. Anehnya, dia merasa gugup,seolah-olah apa yang akan keluar dari bibir Basram itu bukan sesuatu yang baik, tapi kapan Basram pernah berbicara baik?   “Katakan, apa keinginanmu yang lain.”   “Rhaga, penyihir licik itu.”   “TIDAK!” mata Sotaka membulat seketika, semua nadinya menonjol menunjukkan ketegangan Sotaka yang sudah di ambang batas. Dia bisa menyerahkan apapun di dunia ini, bahkan nyawanya sekaligus, tapi tidak menyerah Rhaga. Satu-satunya harta dan keluarga yang dia miliki. Rhaga adalah dunianya dan hidupnya, bagaimana Sotaka akan menjalani hidupnya jika tak memiliki Rhaga.   Namun, di sisi lainnya, semua orang memandangi Sotaka penuh tanda tanya akibat ucapan Basram. Mereka mulai bertanya-tanya apakah Rhaga memang seorang penyihir. Namun, hal itu tidak penting sekarang, yang terpenting adalah melindungi diri mereka sendiri.   “Sotaka, turuti saja keinginannya, lagipula, Rhaga ….”Seorang pria paruh baya yang berlumur darah dengan pedang berkarat di tangannya bicara pada Sotaka. Tak hanya pria itu, hampir semua orang menyerukan hal yang sama.   Seperti tak mendengar ucapan itu, Sotaka hanya memandangi semua orang yang menggantung harapan padanya, namun pada akhirnya harapan mereka hanya dibalas sebuah tatapan permohonan maaf oleh Sotaka sebelum akhirnya dia menekuk lututnya dan berlutut di hadapan Basram sembari menyodorkan pedang tersebut kepada Basram.   “Ambil saja kepalaku untuk ganti Rhaga.”   Basram tertawa sangat keras, semua orang menatap heran ke arah dua orang tersebut. penduduk Suku Brysn tak habis pikir dengan keputusan kepala sukunya yang mengorbankan semuanya hanya untuk anaknya.  Basram tak membuang waktunya, dia mengambil pedag dari tangan Sotaka kemudian mengayunkannya ke atas bersiap untuk menebas leher Sotaka.   “HENTIKAN BASRAM!” Sebuah teriakan menghentikan tangan Basram dan menyelamatkan leher Sotaka dari mata pedangnya yang sangat tajam itu. Basram menoleh ke belakang, melihat sosok yang dia cari bersama dengan penyerang asing ini, Rhaga.   Sedetik kemudian mata Basram terbelalak lebar ketika melihat sosok itu tak sendirian, ada seorang gadis dengan rambut kemerahan yang wajahnya sangat mirip dengan wanita yang dicintai oleh Basram, itu adalah puterinya sendiri, Pymtas. Tangan Basram yang terangkat pun lunglai.   “Lepaskan ayahku dan penduduk suku, atau puterimu tidak akan pernah selamat.” Rhaga mengancam dengan sebuah belati yang di arahkan pada leher Pymtas.   Basram menatap Pymtas dengan seksama, sembari mempererat kembali pegangannya pada gagang pedang. Basram menguatkan tekadnya, dia tidak ingin kalah setelah sejauh ini. Hanya perlu bertahan sebentar lagi maka dia akan mendapatkan keinginannya, dan tidak seorang pun akan menghalanginya termasuk Pymtas.   “Kau pikir bisa berunding denganku?”   “Aku akan menyerahkan anakmu, tapi kau harus meninggalkan kami bersama dengan antek-antekmu ini.”   “Dasar bocah bodoh!” desis Basram. Sedetik kemudian, dia berbalik dan menusukkan pedang itu ke d**a Sotaka sekuat mungkin sampai darah merembes dari d**a dan keluar dari mulut Sotaka, tubuhnya pun roboh seketika setelah Basram mencabut pedangnya dan membuat darah memancar seperti air mancur. Semua orang tak menduga jika Basram akan  melakukannya.   “AYAH!” Rhaga hilang kendali, dia melepaskan Pymtas begitu saja dan berlari ke arah Basram. Sayangnya, para penyerang asing yang memiliki tubuh begitu tinggi langsung menangkap Rhaga.   Rhaga meronta-ronta, memanggil ayahnya dengan air mata yang berderai bagai hujan di tengah badai. Raungannya seperti serigala yang baru saja kehilangan kawanannya, sangat lantang tapi begitu menyedihkan.   “Lepaskan aku! Aku akan membunuhmu!” Rhaga tak berhenti meronta, “AKU AKAN MEMBUNUHMU BASRAM! AKU AKAN MEMBUNUHMU” raungan itu berubah menjadi geraman, seperti suara harimau yang menggeram sebelum menyerbu mangsanya. Mata Rhaga memerah, urat nadi di tubuhnya mulai menyembul, orang-orang yang menahannya tiba-tiba melepaskan tangan mereka dan menjauh dari tubuh Rhaga karena panas yang luar biasa mereka rasakan, seolah-olah tubuh itu sedang terbakar dari dalam.   Sebuah tanda muncul di dahi Rhaga, memancarkan cahaya yang sangat berkilau, tak berapa lama kemudian sebuah lingkaran berwarna kekuningan muncul dari kepala Rhaga, itu adalah sebuah segel, lingkaran itu kemudian mengelilingi tubuhnya seperti rantai, lalu hancur ketika Rhaga mulai meraung seperti hewan buas. Tak hanya suaranya yang berubah, tubuhnya perlahan berubah, tangannya menjadi berbulu dan berkuku sangat tajam, matanya menjadi merah, tatapannya penuh dengan hasrat membunuh. Tubuh Rhaga semakin lama pun membesar, wajahnya tak lagi tampan, pakaiannya robek, dia menjadi seekor monster yang sangat mengerikan dan membuat semua orang takut.   “AKU AKAN MEMBUNUHMUU!!!"    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN