Chapter 12 CUT THE HAIR Ribuan bintang memenuhi langit malam yang menjadi atap Rhaga, matanya tak bisa terpejam walau sudah dipaksa. Semua ingatan tentang kehidupannya sebelum hari ini di Bukit Brysn terputar jelas di matanya, menampilkan kepingan-kepingan memori dirinya, ayahnya, teman-temannya, dan kenakalan mereka. Kenangan yang hanya bisa dia kenang dan akan semakin memudar, semua ingatan yang tak mungkin kembali lagi. Semuanya telah berubah. Tak ada lagi hardikan ayahnya saat kesal padanya, atau amukan warga Bukit Brysn yang menjadi korban kejahilannya, atau bahkan senyuman Risaya yang begitu indah kini perlahan samar dan hampir tak lagi tampak. “Memang tak sembarangan orang akan bisa tidur setelah menghanguskan puluhan manusia seperti itu.” Suara Hirindra mengoyak kenangan

