Ada hal menarik yang akhir-akhir ini menjadi pembicaraan orang-orang di sekitar perumahan elit Mayfair. Pagi-pagi sekali, bahkan ketika kabut belum lenyap dari jalanan, selalu ada orang yang melihat sekelebat bayangan aneh nan mencurigakan. Bayangan tersebut bergerak begitu cepat, melewati orang-orang rajin yang harus bekerja pagi-pagi sekali sebelum matahari menyinari seluruh pandangan.
Beberapa saksi mata mengatakan jika bayangan yang bergerak itu adalah seorang manusia. Namun, karena gerakannya begitu gesit, sampai-sampai yang terlihat pun hanya seperti sekelebat angin lewat. Mungkin juga karena di jam-jam itu kabut masih ada di mana-mana, sehingga sulit untuk mengenali apa pun secara saksama dan jernih.
Bagi yang pendengaran dan penglihatannya bagus, mereka akan berkata bahwa bayangan yang berlarian di jalanan Mayfair adalah dua orang yang saling berkejaran. Entah sedang lomba lari atau bagaimana, tapi pasti merupakan orang yang kompetitif, rajin, dan disiplin. Atau mungkin hanya orang kurang kerjaan yang memang suka lari sana-sini. Tidak ada yang tahu secara pasti.
Sementara itu, Hanae dan Avery yang baru saja pulang dari rutinitas harian berolahraga, tampak tercengang mendengarkan gosip seru yang dituturkan para pelayan.
“Bayangan misterius?” Seraya meneguk segelas jus jeruk, Hanae bertanya serius. Avery yang duduk di depannya hanya diam melihat bagaimana sang istri sangat mudah bercakap-cakap dengan pelayan, masih sering heran mengapa istrinya itu tidak punya banyak teman meskipun mudah membuat obrolan. Kadang Avery berpikir bahwa jangan-jangan Hanae memang sengaja begitu, sengaja menyaring lingkup pertemannya sendiri supaya tidak mengganggu kesenangannya sehari-hari.
“Benar, Nyonya. Para pelayan mulai membicarakan hal itu. Mereka bilang, ketika pergi ke pasar pagi-pagi sekali, mereka sering menjumpai bayangan misterius yang melewati mereka dengan gerakan sangat cepat. Seperti angin, wuzz, begitu saat bayangan tersebut lewat.” Si pelayan wanita berceloteh lagi, tampak gembira karena bisa memberitakan hal heboh pada majikan barunya.
Seorang pelayan laki-laki yang berdiri membawa lap di belakang Avery pun mengangguk begitu kencang. Ingin menyahut tapi takut pada tuan yang akan memelototinya jika berani bicara pada nyonya rumah.
“Apa hanya itu saja petunjuk yang kau punya? Apa ada hal-hal mengganjal lain yang mungkin diketahui orang-orang?” tanya Hanae sembari mengambil sekeping cookies di atas piring.
Si pelayan wanita tampak berpikir sungguh-sungguh. Ia pun kemudian berucap cepat setelah mengingat sesuatu. “Ada, ada petunjuk yang sangat jelas. Ketika bayangan tersebut lewat, ada suara ketepak yang cukup keras. Orang-orang bilang, suaranya seperti benda keras yang mengetuk-ngetuk jalanan.”
“Apa seperti suara kayu?”
Si pelayan wanita mengangguk cepat. “Mungkin saja, mungkin saja. Ada yang bilang memang suaranya mirip kayu keras yang dihentak-hentakkan.”
Hanae tidak sanggup menyembunyikan cengiran di sudut bibirnya. Pandangannya bertemu dengan Avery, dan keduanya pun langsung terbahak-bahak begitu tahu apa yang menjadi sumber gosip para pelayan akhir-akhir ini.
Masih sambil nyengir tidak tahu diri, Avery berucap, “Tidak kusangka, punya hobi baru ternyata bisa menimbulkan gosip separah ini. Sepertinya kehidupanmu memang tidak jauh-jauh dari sebuah gosip, Istriku.”
Hanae terbahak-bahak, sedangkan kedua pelayan yang sedang menemani majikan pun hanya saling berpandangan tak mengerti.
Seraya mengudap cookies pelan-pelan, Hanae memberikan sedikit petunjuk. “Tidak perlu khawatir dengan gosip seperti itu. Selama tidak menimbulkan masalah, biarkan saja. Lagi pula, siapa tahu itu hanyalah bayangan orang-orang yang sedang ingin berolahraga pagi.”
Kedua pelayan saling berpandangan lagi, lalu mengangguk begitu saja. Tidak ingin membantah karena tidak tahu harus menyangkal seperti apa. Lagi pula, sepertinya majikan mereka pun tidak begitu peduli dengan hal remeh temeh begini.
Setelah menyelesaikan kudapan paginya, Hanae menyuruh kedua pelayan untuk pergi dan meninggalkan dirinya berduaan dengan sang suami. Usai pintu ditutup dari luar, tawa Hanae menggelegar tak terkendali.
“Ha ha ha. Sekarang kita menjadi bayangan misterius, ha ha ha. Ya ampun, kenapa bisa begini.”
Avery menggeleng-gelengkan kepala menghadapi sikap kekanakan istrinya.
“Aku juga jadi khawatir dengan pelayan di sini, Avery,” celetuk Hanae kemudian.
“Khawatir, kenapa?”
Menghentikan tawanya, Hanae menjawab, “Hmm … apa mereka tidak terlalu polos? Jika mereka cukup sensitif, seharusnya sudah tahu jika gosip bayangan itu ternyata adalah majikan mereka sendiri.”
Satu alis Avery naik keheranan. “Bukankah itu bagus? Pelayan yang tidak banyak tahu akan lebih mudah disuruh-suruh.”
“Ya, tapi mudah juga untuk dikelabuhi.” Hanae pun terkekeh sekali lagi. “Tapi, bagaimana bisa kita yang sedang olahraga pagi pun menjadi makhluk misterius yang asik digosipkan.”
“Itu karena larimu terlalu cepat, dan suara geta yang kau pakai memang terdengar cukup menyeramkan di tengah kabut.”
“Tapi ‘kan kau juga berlari bersamaku.”
“Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa membantah keinginan istriku untuk berolahraga bersama.” Avery tersenyum miring.
Hanae pun tertawa kecil. “Viscount Goderich memang suami paling baik sedunia. Diajak lomba lari pun selalu bersedia. Aduh, aku jadi bingung harus memberi hadiah seperti apa sebagai bentuk penghargaan dan ucapan terima kasih.”
“Bagaimana jika hadiahnya adalah mandi bersa….”
“Eii! Tapi kita melakukannya setiap hari. Jika kau menginginkan hal yang seperti itu, aku duga ada sesuatu yang mau kau lakukan saat kita mandi bersama nanti. Jangan aneh-aneh, Avery.”
Avery hanya tersenyum miring, sangat mencurigakan. Entah apa yang direncakannya di pagi hari begini, Hanae hanya harus lebih waspada daripada biasanya.