Sajian utama pagi ini adalah ikan bakar dengan saus lemon.
Daripada ikan, Avery sebenarnya lebih suka bacon atau setidaknya daging unggas. Namun, Ferkula bilang bahwa Hanae sangat suka makan ikan. Kenyataan itu ternyata sedikit memengaruhi pandangan Avery terhadap sajian berbahan dasar ikan. Hingga ia pun mengurungkan niat untuk mengeluh, lalu tanpa sungkan melahap habis ikan bakar yang ada di atas piring. Padahal saat itu roti yang harum dan mengepul hangat lebih tampak menggoda, tetapi Avery tak menyentuhnya sama sekali.
“Hari ini, apa yang ingin kau lakukan?” Avery memulai percakapan pagi, tangan kanan memegang gelas minum, digoyangnya sedikit gelas tersebut seolah akan meneguk wine.
Sebelum memberi jawaban, Hanae menyelesaikan kunyahan terakhirnya. “Aku akan pergi ke tempat teman lama,” jawabnya kemudian. “Kau mau ikut?” lanjutnya riang.
Avery menggeleng. “Sepertinya itu urusan pribadimu.”
“Benar.” Hanae mengangguk seraya tersenyum lebar. “Kau memang sangat pengertian.”
Avery hanya tersenyum kecil, tampak bangga karena sudah menjadi suami yang cukup pengertian. “Apa di sini ada kuda? Mungkin aku bisa berkuda keliling desa.”
“Mintalah pada Ferkula. Kurasa ada banyak kuda di dalam istal. Atau, kau mau memilihnya sendiri?”
Avery mengangguk-angguk, pandangannya terus terpaku untuk sang istri. Dengan kesabaran yang tinggi, ia bahkan menunggu Hanae menyelesaikan sarapan.
.
Pagi itu, dengan gaun jalan-jalan berwarna jingga, Hanae menaiki phaeton seorang diri, juga mengusiri kereta kudanya sendiri. Avery mengantar sampai depan rumah, menunggu hingga phaeton Hanae lenyap dari pandangan, baru melangkah kembali ke dalam rumah, berniat mencari Ferkula.
Ketika kaki Avery menuntunnya menuju lantai dua, matanya tanpa sengaja bersirobok dengan lukisan besar di sudut tangga. Lukisan potret seorang wanita, rambut di dalam lukisan berwarna pirang, digelung dengan cantik dan disemat bunga-bunga. Wajah yang tergambar seperti malaikat, tersenyum manis dengan mata bersinar sewarna emerald.
Potret itu, mirip sekali dengan cara Hanae mendeskripsikan mamanya. Hingga Avery yakin bahwa lukisan tersebut adalah Nyonya Denison yang selalu disebut-sebut Hanae.
Tanpa bisa ditahan, kedua tangan Avery mengepal. Di depan lukisan itu, Avery menatap sangat nyalang. Ada perasaan yang lancang merangsek ke dalam sanubari, perasaan benci yang hadir tanpa dipersilakan.
Gara-gara wanita itu—gara-gara wanita itu masa kecil Hanae dipenuhi tangis dan penderitaan. Gara-gara wanita itu, Hanae memotong rambutnya sependek bahu, menjadi olok-olokan di kalangan ton, dan dianggap sebagai wanita cacat sosial yang tidak punya teman. Semua, karena wanita di dalam potret yang tampak gembira itu.
Avery sebenarnya sadar, jika akar permasalahan bukanlah dari Nyonya Denison seorang. Tuan Denison juga ikut andil di dalamnya, bahkan merupakan pemicu yang sesungguhnya. Yang Avery tidak habis pikir adalah mengapa Nyonya itu, Nyonya Denison yang wajah ayunya seperti malaikat, begitu tega pada putri kandungnya. Hanae adalah darah dagingnya, seseorang yang memujanya melebihi apa pun di dunia.
Jika wajah Hanae memang mirip papanya, apakah pantas seorang ibu bersikap demikian?
Ah, Avery benar-benar kehabisan akal. Dia tidak akan paham jalan pikiran Nyonya Denison, karena Avery tidak pernah mengenal orang seperti itu. Grace—ibunya—adalah wanita penyayang, yang bahkan senakal apa pun Avery berkelakuan, selalu ada cinta di setiap hukuman yang diberikan.
“Beliau adalah Nyonya Belle Denison. Ibu Nona Hanae.”
Avery menoleh, rupanya Ferkula tengah berdiri di sampingnya, sama-sama mendongak menatap potret malaikat bersurai pirang yang bahagia dengan bunga-bunga.
“Belle … nama orang Perancis?”
Ferkula mengangguk. “Ibu Nyonya Belle adalah orang Perancis,” jelasnya.
Seharusnya, saat ini Avery marah karena Ferkula lancang berbicara dengannya tanpa permisi. Namun, sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengurusi hal seremeh tata krama majikan dan pelayan. Nyonya Belle di dalam lukisan, adalah pembahasan yang tidak bisa diabaikan. “Namanya memang sesuai dengan parasnya,” tuturnya. “Tapi dia ….” Mulut Avery langsung mengatup, tidak ingin meneruskan kalimat jahat yang bisa saja terlontar dan terdengar menyakitkan.
“Apa Nona Hanae menceritakan masa kecilnya pada Anda?”
Avery mengangguk.
Ferkula tersenyum kecut, gurat-gurat keriput di wajahnya tampak menyedihkan. “Meskipun begitu, Nona Hanae tetap saja mencintai ibunya sepenuh hati. Padahal, sangat sulit untuk tetap menyukai seseorang yang selalu membuat Anda sengsara.”
Avery tidak tahu harus berkomentar seperti apa. Ucapan Ferkula sepenuhnya benar. Untuk sesaat, keadaan menjadi sangat hening.
“Apakah di Yorkshire, Nona Hanae bahagia?” tanya Ferkula tiba-tiba.
Avery tidak cepat menjawab, sebenarnya tidak tahu harus menjawab bagaimana. “Dia memang tampak selalu bahagia. Tapi … siapa yang tahu isi hatinya,” jawabnya kemudian.
“Saya dengar … saya dengar Nona selalu mendapat gunjingan di Yorkshire. Saya juga mendengar bahwa beliau tidak punya teman.” Ferkula menunduk, menyembunyikan rasa prihatin dan simpati yang selalu merongrong batinnya ketika mengingat sang nona. “Saya mendengar berbagai berita tidak menyenangkan mengenai keberadaan Nona di Yorkshire. Seandainya saya bisa disana dan memeluknya … seandainya saya bisa mengatakan bahwa ada seseorang yang pasti mau menjadi temannya. Saya yang tua ini pun, akan senang hati menjadi temannya.”
Avery tersenyum sekilas, sempat juga merasa bahwa hati Ferkula ternyata lebih lembut dari kelihatannya; seperti kue sus. “Dia punya banyak teman.” Avery memulai. “Sekarang, dia memiliki aku sebagai temannya. Adikku, temanku, bahkan beberapa gadis mulai membuka hati untuknya. Hanae memiliki banyak teman. Termasuk kau di dalamnya, Ferkula.”
Ferkula menghapus air mata yang beberapa saat lalu mengalir tak tertahan. Dengan mata yang agak memerah, wanita tua itu berhasil menghadiahkan senyum tulus untuk suami sang majikan. “Terima kasih banyak, My Lord. Saya bersyukur Nona Hanae menikah dengan pria seperti Anda.” Ferkula membungkuk sejenak.
Avery tersenyum tipis, merasa tersanjung. Namun, jika Avery boleh mengatakannya dengan lantang, seharusnya ia yang berterima kasih karena Hanae mau menikah dengan pria seperti dirinya. Sangat bersyukur karena bisa bertemu Hanae lebih cepat. Seandainya Hanae menikah dengan orang lain sebelum ia sempat mengenal, urg, Avery tidak suka membayangkannya.
“Ferkula, bisa kau siapkan kuda untukku?”
Ferkula mengangguk sopan, tampak mengerti jika Avery tidak ingin melanjutkan percakapan melankolis ini. “Tentu, My Lord.” Setelah itu, ia segera pergi. Meninggalkan Avery yang kembali memandangi lukisan cantik Mama Hanae, Lady Belle Denison yang memesona.
“Anakmu, akan menjadi bunga yang sebenarnya.” Mata hijau cerah yang berkerlipan seolah bersitatap langsung dengan emerald di dalam potret. Menantang gambar bisu yang nyatanya sudah tidak ada urusan apa-apa di dunia. Gambar yang mati, sama seperti model di dalamnya, sudah lama mati.
.
Sweet Marmalade_