Di tempatnya berdiri, seraya sesekali menyesap sampanye, mata abu-abu Hanae bergerak fokus mengikuti setiap gerak-gerik Judith Spencer. Mungkin ia penasaran, atau malah mengagumi. Tidak ada yang benar-benar tahu seperti apa pikiran terdalam Hanae.
Avery yang mengerti tingkah istrinya, akhirnya tidak tahan untuk bicara. “Apa yang kau lihat, Hanae? Kau tampak tertarik dengan wanita itu.”
Hanae mengedikkan bahu. “Tidak tahu. Tapi aku pernah melihatnya waktu pergi ke butik bersama Lilian. Saat pertama berjumpa, aku sampai terpanah. Kenapa bisa ada wanita secantik itu.”
“Ibumu juga cantik.”
“Ibuku yang tercantik,” sahut Hanae seraya terkekeh.
“Ingat Hanae, wanita cantik biasanya menyimpan racun yang bisa membahayakan orang lain. Jangan terlalu melihat fisik seseorang, atau kau akan tertipu tanpa sadar.”
Hanae mendongak, menatap Avery yang tampak serius menasihatinya. Ia pun mengernyitkan dahi. “Kau sepertinya sangat berpengalaman dengan wanita cantik, My Lord.”
Seraya memalingkan wajah, Avery berdehem. “Itu hanya masa lalu.”
Hanae manggapinya dengan senyum kecil. “Aku tidak akan kaget jika ada sepuluh atau lebih wanita yang mengaku pernah berhungan denganmu, My Lord. Meskipun orang-orang selalu mengatakan bahwa Anda seperti santo, tapi tidak begitu di mataku.”
Menghela napas kecil, Avery pun merangkul pundak Hanae yang lembut. “Sangat sulit menyembunyikan hal-hal seperti itu darimu, Istriku.”
“Mataku ini memiliki kekuatan super.”
Setelah mengernyit karena melihat betapa serius istrinya berucap, Avery tidak bisa menahan tawanya. Ia terkekeh geli sambil terus menerus mengatakan bahwa Hanae aneh, Hanae pintar tapi aneh. Bahkan tanpa sungkan, ia mengecupi puncak kepala istrinya meskipun mereka ada di tempat umum.
Pemandangan seperti itu tentu sangat langka di kalangan bangsawan. Seharusnya, pasangan suami istri tidak boleh menunjukkan kemesraan di depan umum, karena dianggap tidak sopan dan terlalu v****r. Tapi, mau bagaimana lagi, Avery tidak bisa menahan diri. Dia suka memperlakukan Hanae seperti itu, di manapun dan kapan pun dia ingin. Jika tidak tersampaikan, badannya akan merinding dan gemetar. Mirip orang yang sedang kecanduan obat terlarang.
Sayangnya, kemesraan manis dan sedikit memuakkan itu berakhir dengan terlalu cepat. Sebab, tiba-tiba saja seorang wanita anggun nan memikat menghampiri keduanya.
Bibir wanita itu semerah anggur, tubuhnya molek dan sangat anggun. Ketika berada di depan pasangan Viscount dan Viscountess Goderich, wanita itu menyapa dengan agak tidak tahu malu. “Selamat malam, Viscount Goderich. Sudah lama saya tidak melihat Anda.”
Avery yang sudah mengenal wanita itu pun membalas dengan sopan. “Selamat malam, Lady Spencer.”
Wanita itu, Judith Spencer tersenyum semanis madu. Ia mengulurkan tangannya yang bersarung hitam jaring-jaring, menunggu kecupan sopan santun dari Avery. “Senang bisa bertemu Anda di tempat seperti ini.”
Demi kesopanan, Avery pun memberikan kecupan singkat di punggung tangan wanita itu. Senyumnya ramah tapi tampak mengada-ada. “Demikian juga dengan saya, My Lady.” Setelah itu, sebelah tangan Avery merangkul pundak Hanae yang ada di sampingnya. Penuh percaya diri, ia berkata, “Dan perkenalkan, ini istri saya. Hanae Robinson, Viscountess Goderich.”
Masih tetap tersenyum, Judith Spencer menekuk kakinya singkat. “Salam kenal, My Lady. Saya Judith Spencer, teman lama Viscount Goderich.”
Hanae pun melakukan hal yang sama. “Senang bertemu dengan Anda, Lady Spencer. Selain menjadi teman Viscount Goderich, semoga Anda juga mau menjadi teman saya.”
Tersenyum miring di balik kipasnya, Judith berkata lembut. “Tentu saja, My Lady. Tentu saja. Saya harap, pertemanan kita bisa seakrab pertemananku dengan suami Anda.”
Terkekeh kecil, Hanae pun berucap, “Ya, My Lady.”
Usai perkenalan singkat itu, Judith Spencer segera pamit pergi. Tampaknya ingin kembali menjadi ratu di tempat dansa.
Sementara itu, Hanae yang masih berada di tempat yang sama, hanya memandangi Judith dengan tatapan sulit dideskripsikan. Avery tentu menyadari hal itu dan merasa dia akan dibakar dengan kejam oleh istrinya.
“Apa dia salah satu wanita yang pernah berkencan denganmu?” tanya Hanae tiba-tiba.
Tanpa mau menyangkal, Avery mengangguk. “Benar.”
“Sepertinya, dia berusaha membuatku cemburu dengan mengatakan hal-hal seperti tadi.”
Tanpa berkata apa pun, Avery semakin lekat memandangi istrinya. Cukup lama dia memandang wajah serius Hanae yang seperti itu, dan entah mengapa merasa senang karena sepertinya istrinya sedang cemburu. “Apa kau cemburu?” tanya Avery tanpa ragu.
Hanae terkekeh tapi mengangguk. “Mana mungkin aku tidak cemburu. Tapi tenang saja, aku tidak mudah terpancing.”
Avery mengangguk bangga. “Begitulah seharusnya istriku.”
“Tapi aku akan menunggu cerita lengkapnya nanti saat kita sudah ada di rumah.”
Satu alis Avery naik dengan agak meragu. “Hoo … kau mau menginterogasiku ya.”
“Itu hal wajar yang dilakukan istri ketika sedang cemburu, kan?”
Tanpa bisa menyangkal, Avery mengiyakan.
Tidak ingin berlama-lama membicarakan hal yang menyebalkan, Avery pun mengajak Hanae pergi ke lantai dansa. Ia ingin menikmati malam pesta dengan gembira bersama istri tercinta.