4. Situasi Aneh dengan Miss Denison

1354 Kata
Tanpa memikirkan apa pun mengenai skandal yang mungkin saja sudah berubah menjadi gosip panas di luar sana, Hanae mengenakan bowler yang biasa digunakan laki-laki kalangan bawah di kepalanya. Rambut marmaladenya diikat satu ke belakang, poninya yang sudah panjang hampir-hampir menutupi seluruh mata. Coat panjang berwarna abu-abu kusam dikenakan di tubuhnya yang kecil, membuatnya tenggelam dalam pakaian sederhana dan sedikit buluk itu. “Nona, apa Anda yakin mau pergi sendiri?” Seorang pelayan wanita menatap Hanae yang sedang bercermin dengan pandangan ngeri yang cukup kentara. Sedari tadi kedua tangannya saling terkait dan tampak berkeringat. Kernyitan di dahinya tidak kujung hilang. “Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Anda? Apa perlu saya meminta seorang pelayan laki-laki untuk pergi bersama Anda?” Hanae menggeleng pelan. “Hari ini waktunya mereka libur. Biarkan mereka menikmati waktu liburannya sebelum kembali bekerja esok hari.” “Bagaimana jika saya saja yang menemani Nona?” “Jika kau pergi, tidak ada yang akan mengurus rumah.” “Bagaimana dengan Tuan Samuel?” “Dia ada janji dengan teman-temannya.” “Nona ….” Mendengar betapa khawatir pelayan wanita paruh baya di depannya, Hanae terkekeh kecil. “Aku tidak akan tersesat. Aku sudah sering ke sana. Bedanya, hari ini aku harus pergi sendiri, itu saja. Apa kekhawatiranmu ini tidak berlebihan? Bukankah kau sudah sering melihatku pergi sendirian?” “Saya hanya sedang paranoid. Akhir-akhir ini banyak berita pembunuhan dan perampokan.” “Setiap hari ada berita seperti itu. Kau hanya terlalu banyak membaca novel misteri akhir-akhir ini.” Wajah pelayan wanita itu tampak terperanjat. Semburat semu merah muda merambat di pipinya yang berbintik. “Nona tahu.” “Aku tahu. Jika masih ada waktu, nanti aku akan mampir ke toko buku.” “Ke-ke toko buku?” “Ya. Membeli novel misteri. Itu kan yang kau harapkan?” Warna merah pada pipi pelayan itu semakin pekat dan menyebar. “Mengapa Nona sangat perhatian? Saya merasa sungkan.” Hanae terkekeh keras. “Bagus, bagus, rasa sungkanmu sangat bagus.” Melihat nonanya yang tertawa begitu puas, pelayan wanita itu pun tidak bisa menahan tawanya sendiri. Ah, benar-benar hari yang baik untuk berjalan-jalan dan menikmati waktu luang. . . . Melewati gang-gang kumuh dengan banyak kotoran manusia bertebaran, Hanae berjalan seraya melirik-lirik sekilas pada seorang gelandangan yang tidur nyaman di emperan. Dibandingkan London, wilayah-wilayah di Yorkshire terbilang cukup baik untuk ditinggali, kotanya bersih dan masih asri, walau mulai banyak pabrik-pabrik yang didirikan sehingga menghitamkan udara sekitar. Kebutuhan akan pekerja kelas bawah pun semakin tinggi, akibatnya, jumlah orang miskin yang tinggal di tempat kumuh semakin meningkat. Meskipun revolusi industri banyak mengubah kehidupan masyarakat Inggris dan menghasilkan borjuis-borjuis baru, sayangnya kelaparan, pemerataan pendidikan, dan bahkan sanitasi masih tidak begitu merata. Kemiskinan selalu menghantui dan menjadi permasalahan yang tiada henti untuk dipikirkan solusinya. Di masa ini, hierarki antara bangsawan dan masyarakat kalangan bawah memang tampak jelas terlihat. Hanae kadang memikirkannya, apa seterusnya, di masa depan, hal-hal seperti ini akan terus berlanjut. Ia selalu berharap ada perubahan yang lebih baik untuk umat manusia. “Ha ha ha, kenapa aku jadi berpikir seperti pejuang keadilan begini.” Di tengah lamunannya, Hanae terkekeh sendiri. Kelakuannya itu cukup menjadi perhatian untuk beberapa orang yang sempat berpapasan dengannya. Sayangnya, kebahagiaan kecil Hanae harus terhenti ketika tiga orang pria tinggi dan kurus tiba-tiba saja menghadangnya di tengah jalan, entah mereka datang dari mana. Mungkin sejak tadi bersembunyi di antara tumpukan kotak-kotak kayu, menunggu seorang pecundang untuk dipecundangi. Di tengah gang yang kecil, dihadapkan pada segerombolan perampok asing, Hanae tampak seperti hamster rumahan yang dihadang tikus got. Selain perbedaan tinggi badan mereka sangat mencolok, aura yang dikeluarkan pun benar-benar berbanding terbalik. Pada akhirnya, beberapa gelandangan yang melihat kejadian itu segera mengambil langkah seribu, tidak ingin terlibat dalam hal-hal tidak menguntungkan dan mungkin saja bisa berakibat buruk di masa depan. “Selamat pagi,” sapa Hanae riang. Wajahnya cerah seperti bunga matahari, padahal otak kecilnya sedang berperang dengan pikiran-pikiran yang penuh kemelut. Melihat bagaimana Hanae merespon kehadiran mereka, pria-pria itu malah mengernyit tidak suka. “Berikan uangmu!” Tanpa basa-basi, yang paling tinggi dan besar di antara tiga pria itu menodong dengan garang. Dua lainnya tampak hanya ikut-ikutan. “Untuk apa?” Namun, Hanae tak sama sekali gentar. Nada bicaranya terlalu tenang dan kalem, sebenarnya tidak ada nada menkonfrontasi, tapi yang mendengar malah merasa sedikit tersudut. Hal itu pula yang membuat ketiga pria semakin meninggikan emosi. Yang paling tinggi dan galak, cepat-cepat menghardik keras. “Jangan banyak tanya! Jika kubilang berikan uangmu, maka berikan!” Hanae menggaruk belakang lehernya, kejadian seperti ini sebenarnya sempat ada dalam daftar hal terburuk yang bisa terjadi padanya ketika ia sendiri. Jika sudah begini, ia harus memutar otak untuk mencari cara melarikan diri. “Hari ini aku tidak bawa banyak uang. Bagaimana jika lain kali saja?” tanyanya berbasa-basi, sedikit mengulur waktu. Tanpa banyak bicara, pria paling tinggi langsung menarik kerah coat Hanae. Matanya yang belo melotot sangat tajam. “Kau mau main-main denganku? Bocah kecil sepertimu bisa langsung hancur di tanganku!” Suasana menjadi tidak lagi kondusif. Wajah Hanae yang sedari tadi dipenuhi cengiran, seketika ikut berubah serius. “Wah, ada polisi patroli!” Tiba-tiba gadis itu berteriak lantang, mengagetkan tiga pria yang mencekalnya di jalan. Namun, saat tiga pengganggu tersebut celingukan ke sekitar, Hanae segera melakukan tendangan tepat pada ‘sesuatu yang berharga’ di antara kaki pria yang menarik kerahnya. Tanpa menunggu lama, ketika pria itu menjerit tanpa daya, Hanae segera melarikan diri. Berlari seperti kijang di padang savana. “Ha ha ha.” Di tengah-tengah pelariannya yang tidak aman, masih bisa tawa keras dilantunkan. Padahal di belakangnya, tiga orang tersebut lantas mengejar Hanae membabi buta. Seraya melihat ke sekitar, Hanae berusaha mencari cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri.  Namun, karena terlalu fokus mencari senjata apa pun itu. Di depannya ada dua cabang jalan, Hanae berbelok ke kanan. Ketika ia bermanuver dengan cepat di persimpangan gang, tubuhnya menubruk d**a kokoh seorang pria tanpa sengaja. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Hanae lantas berteriak tannpa rasa malu. “Tuan, tiga orang itu ingin merampokku. Tolong akuuu!” dan tubuhnya yang kecil lantas bersembunyi di balik tubuh tegap pria asing tersebut. Hanya saja yang tidak disangka-sangka, pria asing tersebut mengeluarkan sesuatu dari balik jas yang terlihat mahal. Setelah itu, suara dor dor dor terdengar tiga kali. Suaranya khas dan memekakkan, selanjutnya diikuti teriakan dan rintihan meminta simpati. “Ma-maafkan kami, maafkan kami. Jangan bunuh kami.” Ketika Hanae mengintip, ah … pria asing ini tanpa ragu menembaki satu demi satu tiga pria yang mengejarnya. Tembakan tersebut tidak ada yang mengenai organ vital, tapi cukup melumpuhkan. Tiga pria perampok itu pun pergi terpincang-pincang. Pria asing menoleh, memperlihatkan wajah aristokrat yang sejak tadi Hanae abaikan dan tidak dilihatnya dengan benar. “Anda baik-baik saja?” Mata bulat Hanae semakin membulat ketika tahu siapa yang sudah memberi pertolongan padanya. “Ah, Lord Avery Robinson.” Avery sempat mengernyit karena orang yang ditolongnya ternyata mengenal baik dirinya. Namun, ketika ia perhatikan lebih jeli, ternyata ia pun tahu siapa gerangan orang tersebut. “Miss Hanae Denison?” Hanae lantas tertawa bersemangat. “Iya ini saya. Benar-benar sebuah kejutan bertemu Viscount Goderich di tempat seperti ini.” Melihat bagaimana Hanae menyapanya tanpa tahu malu, dahi Avery mulai dipenuhi kernyitan. “Saya lebih tidak menyangka bisa melihat Miss Denison dengan penampilan seperti ini.” Kali ini Hanae hanya terkekeh kecil. “Anda cukup beruntung bisa melihat saya seperti ini, ha ha ha.” Sekali lagi, Avery mengernyit. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya ditertawakan Hanae. Tidak ada yang lucu, ‘kan? Kenapa wanita itu tertawa, dan sebenarnya dia tidak cukup beruntung melihat Hanae sedang berpenampilan seperti laki-laki. Lebih tepatnya, Avery tidak peduli. “Sepertinya Miss Denison baik-baik saja sekarang. Kalau begitu, saya permisi.” Hanae mengangguk kecil. “Ya, terima kasih atas bantuannya. Sampai jumpa, Viscount Goderich.” Avery tidak mengatakan apa-apa. Ia berjalan lurus ke depan tanpa berbelok ke gang. Sedangkan Hanae berbalik ke jalan semula, menuju tempat yang ingin didatanginya. Hanya saja, sebelum melangkah lebih jauh lagi, Avery tiba-tiba berhenti. Ia berbalik, lalu berbelok, langkahnya cepat untuk menyejajari Hanae yang tampak tenang berjalan. Tanpa berpikir, tiba-tiba ia berkata, “Miss Denison, biarkan saya menemani Anda.” Mendapati penawaran yang tidak disangka-sangka, mata Hanae malah memincing penuh prasangka. Namun, sesaat kemudian cengiran tengilnya kembali lagi. “Baiklah,” ujarnya riang. Usai mendapat tanggapan dari Hanae, mata Avery membulat, seakan-akan baru saja ia tersadar dari sebuah hipnotis seorang penyihir. Dalam hatinya bertanya-tanya, mengapa ia begitu mudah menawarkan diri pada seorang kenalan yang bahkan tidak begitu akrab. Selain itu, kenalannya yang ini pun punya reputasi buruk di mata masyarakat. Belum lagi, paras kenalannya ini tak serupawan para tuan puteri. ‘Aku sudah gila, rupanya’ batin Avery mengasihani dirinya sendiri. Untuk menenangkan hatinya, ia meyakinkan diri bahwa tindakannya ini adalah demi kemanusiaan. Siapa pula laki-laki waras yang tega membiarkan seorang gadis berkeliaran sendiri di perkampungan kumuh setelah melihat gadis tersebut hampir dirampok gerombolan penjahat. Selain Avery, pasti laki-laki lain pun akan menawarkan hal yang sama, ‘kan? . Sweet Continue_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN