19. Kunjungan Kak Samuel

1087 Kata
Dokter pribadi keluarga Robinson mengatakan bahwa Hanae tidak mengalami luka yang serius. Sebenarnya cukup serius, karena darah yang keluar dari kakinya ternyata lebih deras daripada yang dibayangkan. Namun, Hanae sendiri hanya cengar-cengir ketika dokter mengobatinya. Tulangnya pun tidak apa-apa, tidak ada yang patah. Hanya mungkin akan terlihat lebam pada kulitnya, dan luka luarnya perlu diobati selama beberapa hari sampai sembuh. Lilian tidak henti-hentinya menggumamkan berbagai macam doa. Wajah paniknya yang luar biasa itu bahkan membuat orang yang melihat akan merasa kasihan. Entah sudah berapa sapu tangan yang basah oleh air matanya. Di kamar Hanae saat itu memang semuanya berwajah panik. Termasuk di dalamnya adalah Grace Robinson, Avery, dan Olive. Satu-satunya yang tampak biasa saja adalah sang dokter, dan satu-satunya yang terlihat bahagia hanya Hanae. Ah, otak Hanae mungkin sudah berpindah ke siku. Tidak heran jika anak itu bisa santai tanpa beban meskipun kakinya terbalut perban. Usai dokter pergi, Lilian segera duduk di tepi ranjang seraya menggenggam tangan Hanae. Wajahnya yang putih tampak memerah, dan iris hijaunya berlinangan air mata. “Maafkan aku. Ini semua salahku kau jadi begini.” Berkali-kali ia mengucapkan hal itu, hampir-hampir menjadi mantra jika tidak ada yang mengingatkannya untuk berhenti. “Bukan masalah. Hal seperti ini bisa menimpa siapa saja.” Hanae menyeringai lebar. Bukan tidak merasa sakit, hanya saja tersenyum adalah sikap yang paling bisa diandalkannya ketika ada masalah seperti sekarang. Namun, Lilian menggeleng. “Ini memang salahku,” kukuhnya. “Seharunya kau tidak perlu menolongku. Sekarang gara-gara aku, kau terluka.” Kalimat Lilian itu, sebenarnya tidak disukai Hanae. Sambil menutup mulut rapat, ia hanya menatap Lilian dengan pandangan nanar yang sulit diartikan. “Lilian,” panggilnya dengan suara yang hampir mendesis. Lilian berhenti mengoceh, ia memandang Hanae dengan mata yang tampak menyipit, takut. “Cukup ucapkan terima kasih, dan berhentilah meracau.” Lilian tersentak, ia menunduk, mengangguk. “Terima kasih sudah menolongku,” ucapnya parau. Hanae bernapas lega. Itulah yang ditunggu Hanae sejak tadi, sebuah ucapan terima kasih. Dia tidak suka racauan tidak berguna, lebih suka jika kebaikannya dibalas dengan apresiasi sederhana. “Sama-sama.” Hanae menepuk puncak kepala Lilian lembut. Ketika Lilian mendongak, ia tersenyum karena melihat Hanae tersenyum. Avery mengernyit melihat tindak-tanduk istrinya. Beberapa detik tadi ia seperti tidak melihat Hanae, seperti melihat orang lain berwajah Hanae. Oh, tentu itu Hanae. Hanae dan kelakuannya yang kadang membuat orang lain merinding. Hanae yang sebenarnya punya sejuta sifat berbeda. Avery menyadarinya. Sejak awal sudah menyadarinya. Ia pun kerap mengawasi Hanae yang seperti itu, dan mengambil kesimpulan bahwa Hanae itu ternyata tidak secerah kelihatannya. Hanae memang ramah, dan menyenangkan. Namun, terkadang wanita itu bisa jadi sangat berhati dingin. Sepertinya Avery perlu mengawasi istrinya lebih sering lagi. Hanaenya masih sulit untuk dimengerti. . . . Keesokan harinya, Lilian dan George harus kembali ke London karena pekerjaan George yang tidak bisa ditinggalkan. Charles pun ikut dalam perjalanan putrinya itu, bermaksud untuk menetap di townhouse-nya selama beberapa hari untuk urusan pekerjaan di parlemen. Avery sedang cuti selama seminggu ini, sehingga ia tidak ikut ayahnya. Sebelum pergi, Lilian berubah menjadi adik ipar yang manis dan ramah. Ia bahkan menyarankan kepada Hanae agar saling bertukar surat secara rutin. Demi menyenangkan Lilian, Hanae menyetujui usulan tersebut. Tidak ada salahnya berkirim surat pada adik ipar sendiri. Mungkin perubahan kecil tersebut bisa menjadi jalan baginya untuk mengakrabkan diri dengan Lilian. Meskipun Hanae juga tidak begitu simpati apakah dia bisa akrab atau tidak dengan keluarga Avery. Hanae hanya berpikir, jika ia akrab dengan orang-orang terdekat Avery, mungkin suaminya itu akan lebih bahagia. Kemudian pukul sebelas siang, ketika Hanae sedang menikmati waktunya bersantai dengan membuat puisi dan minum teh bersama Avery, seorang pelayan datang menginformasikan sebuah kunjungan. Cepat-cepat Hanae pergi ke depan rumah, Avery mengikuti di belakang. Dari teras berkanopi, Hanae melihat dua buah kereta kuda yang datang serempak. Satunya adalah kereta kuda berlambang, sedangkan yang satu lagi adalah kereta pengantar barang. Dari dalam kereta kuda mewah berlambang, Samuel Denison keluar. Mata abu-abunya langsung mengenali penampakan adiknya. “Woo Samuel? Kau datang mengunjungiku? Aku tau, aku tahu, kau memang tidak bisa jauh dariku, ‘kan?” Hanae berujar histeris di depan rumah, mengabaikan beberapa pelayan yang melihatnya sembari mengernyit. Mungkin baru pertama kali melihat seorang nona bangsawan yang terlalu banyak tingkah. Langkah Samuel cepat dan lebar ketika menaiki tangga, menghampiri Hanae. Lalu tanpa segan, dia menjitak kepala adiknya saat sudah berhadapan. Pelayan yang melihat hanya melotot sambil terbengong, shock melihat betapa kejamnya Samuel Denison pada adiknya sendiri. “Apa yang kau lakukan sampai kakimu cedera, hah?! Jangan bilang kau bermain-main dan melukai dirimu sendiri!” Suara keras Samuel membuat semua orang terdiam. Bahkan pelayan yang menurunkan peti-peti besar dari atas kereta kuda menghentikan kegiatan mereka. Hanae nyengir kecil, Avery mendebas pelan. “Dia menolong adikku, Sam. Jangan sekasar itu pada Hanae. Jika kau lupa, dia sekarang istriku.” Samuel bertatapan mata dengan Avery selama sekian detik, ia kemudian membuang napas penat. “Maafkan aku. Meskipun tahu dia sudah menjadi istri seseorang, tapi sulit rasanya tidak memarahinya,” ujarnya tampak menyesal. Meskipun begitu wajahnya yang keras itu masih tersisa di sana, masih menyimpan beberapa persen kemarahan untuk Hanae. Avery mengangguk pengertian, lalu tersenyum samar. “Jadi, kau ke sini bukan untuk sekadar menjenguk Hanae, ‘kan?” Sudut mata Avery mengarah ke tempat kotak-kotak besar yang diurus pelayan. “Ya. Lebih tepatnya, aku mengantarkan barang-barang si tengil ini.” Jempol tangan kiri Samuel mengarah pada adiknya yang sedang tersenyum lebar. “Aku tidak mau rumahku dipenuhi barang-barangnya,” lanjutnya. Namun, Hanae menyahutnya dengan riang. “Terima kasih, Sam. Kau memang kakak paling pengertian.” Sebelah alis Avery naik ke atas, tampak penasaran. “Barang-barang apa?” tanyanya kemudian. “Novel berhargaku.” “Novel busuknya.” Hanae dan Samuel berpandangan, saling tersenyum, tetapi mata mereka menyimpan aroma permusuhan yang kental. “Ha ha ha, beraninya kau mengatakan novel buatanku busuk.” Hanae tertawa dibuat-buat, sebelah tangannya menepuk lengan Samuel sekuat tenaga. Cukup keras untuk membuat lengan Samuel nyeri, dan telapaknya sendiri juga ikut nyeri. “Ha ha ha, karena novelmu memang semuanya busuk.” Samuel melakukan hal yang sama, dan pukulannya tampak terlalu keras sampai berhasil membuat Hanae sedikit terhuyung menyamping, Avery menahannya dengan merangkul lembut pundak Hanae. “Wahaha, kau memang definisi pria kurang ajar yang sesungguhnya. Level kurang ajarmu sudah mencapai tingkat makrifat. Dewa saja sulit menandinginya.” “Tenang, aku masih jauh di bawahmu. Kau yang terbaik, Adikku.” “Ha ha ha.” Dua orang itu tertawa mengada-ada, berbarengan, dan seirama. Tawa yang cukup menakutkan untuk didengar. “Kalian berdua ini, hentikan.” Avery menginterupsi. Meskipun melihat Hanae dan Samuel berkelahi cukup menyenangkan, tetapi ia tahu diri bahwa sekarang bukan waktu yang tepat. “Kau pasti lelah, Sam. Ayo, masuk dan nikmati secangkir teh di dalam,” ajaknya. Samuel mengangguk. Hanae menggandeng lengan Avery ketika akan melangkah ke dalam rumah, dan dia berjalan hampir melompat-lompat jika saja tidak ingat pergelangan kakinya sedang terluka. Avery yang tahu keriangan di wajah Hanae, mendadak ingin menggendong istrinya, lalu membawanya berlari ke ruang tamu di mana mereka akan menyambut Samuel dengan kudapan manis dan teh panas. Avery tahu, Hanae pasti akan menyukai ide itu, tapi sepertinya bukan untuk dilakukan sekarang. Lain kali saja, pikirnya. . Sweet Continue_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN