Setelah mendapat kesempatan, rasanya harus dipikir berulang-ulang. Hanya untuk mencari jawaban, apakah harus melangkah atau mundur saja? -Kang Dani Seblak- Waktu yang mengharuskan duduk di samping Darwin membuat Dayana menghela napas putus-putus. Tatapan Darwin masih tajam penuh dendam, sedangkan Doyoung sibuk dengan panggilan ponselnya seakan takkan memberi waktu istirahat untuknya. Masih dalam keadaan sunyi, akhirnya Dayana mencoba memberanikan diri bersuara. "Kasih aku kesempatan, Yah, buat ... Kang Dani jelasin tentang dia," ucap Dayana, matanya tidak berani menatap Darwin langsung. Darwin menoleh tak suka. "Tidak perlu, aku sudah tahu semua tentang lelaki itu!" "Tapi, Ayah hanya mendengar dari orang lain tanpa bertanya langsung kep—" "Ucapan orang lain itu selalu benar, sedangka

