14. Perubahan

1531 Kata
*بـــــــسم اللّـــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم* ⚠Ambil baiknya, buang buruknya⚠ ⚠Jangan ngejudge suatu cerita sebelum kamu mebacanya sampai tamat⚠ ?Selamat Membaca? ??? Senna terusik, dia membuka kedua matanya yang dirasa berat. Namun ia paksakan untuk lekas bangun. Setelah pandangannya lumayan jelas, Senna edarkan pandangan ke segala penjuru kamar. Sepi. Sunyi. Benaknya mulai bertanya-tanya, mengapa dia ada di sini? Ingatan Senna kembali ke fragmen kemarin. Senna ingat, kemarin dia diajak Radit pergi ke hotel. Ya, pasti ia sekarang sedang berada di kamar hotel. Senna bergegas turun dari ranjang. Tangannya terulur mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas. Dia mulai menghubungi Radit. Senna kecewa, Radit malah meninggalkannya sendiri di sini bahkan tanpa pamit. Di luar dugaan, ternyata ponsel Radit tidak aktif. Senna mendecak. Ini aneh, tidak biasanya Radit mematikan ponselnya. Biasanya dia selalu ada ketika Senna menghubungi. Tak ingin berlama-lama di sini, Senna memutuskam untuk keluar, dia ingin mencari Radit. Tapi, saat baru melangkah, dia merasakan nyeri di bagian k*********a. Merasa ada yang tidak beres, Senna memutuskan untuk ke toilet dulu. Haidnya pasti datang, sebab ia merasakan vaginanya basah. ??? Seperti biasa, tempat pertama yang Senna kunjungi untuk mencari Radit adalah pub. Senna yakin Radit pasti ada di sana. Senna yang sudah mengganti pakaian di rumah mulai memasuki pub yang lumayan ramai. Benar saja, matanya langsung menangkap sosok Radit yang sedang duduk santai di atas sofa. Ketika Senna akan melangkah mendekat, seorang perempuan sudah lebih dulu duduk di sebelah Radit, dan perempuan itu mulai merayu. Yang lebih parah, Radit malah membalas rayuan wanita yang berusaha mendekatinya itu. Lelaki itu tersenyum ramah dengan gerakan mata lihai khas playboy. Senna menyipitkan mata, bagaimana mungkin Radit seperti itu? Bukankah dia sudah berjanji untuk berhenti menggauli wanita-wanita seperti mereka? Dan akan memberikan cinta sepenuhnya pada Senna? Ketika Radit akan menyentuh pipi gadis di sebelahnya, refleks Senna menghampiri mereka. Dia tidak akan tinggal diam. "Radit!" Aktivitas mesra Radit dan perempuan tadi terhenti. Otomatis keduanya mendongkak, Senna memasang wajah marah. "Dia siapa?" tanya Senna pada Radit dengan nada keras. "Bukan siapa-siapa," jawab Radit enteng seraya melepas rangkulannya pada gadis yang kini terlihat bingung. "Minggir," ucap Senna kepada perempuan yang duduk di sebelah Radit. "Minggir!" ulangnya lagi. Awalnya dia menolak, tapi Senna terus mendesaknya dengan bentakan-bentakan kasar. Mau tidak mau, wanita itu pun pergi dengan satu delikan mata pertanda kesal. Giliran Senna yang duduk di sebelah Radit, bersiap menginterogasinya. "Kamu kok gitu, sih? Bukannya kamu udah janji buat nggak genit lagi sama mereka? Mana janji kamu?" "Aku laki-laki normal, Sen. Wajar aku khilaf. Lagian dia yang ngedeketin aku duluan." Radit membela dirinya. "Ya tapi kamu bisa kan ngejauh?" "Aku males pindah. Udahlah lupain." "Oke, kali ini aku maafin kamu. Tapi plis, untuk nanti kamu harus bisa jaga jarak sama cewek lain. Aku mohon sama kamu." "Hmmm..." Senna tercenung. Sesingkat itukah respons Radit? "Hape kamu kok nggak aktif?" "Batrenya habis." "Terus, kenapa kamu tinggalin aku di hotel sendirian?" Ini pertanyaan yang sedari tadi ingin Senna lontarkan. "Aku bukannya ninggalin kamu. Waktu malem kamu tidur. Ya kali aku tidur juga di kamar yang sama. Nanti kalau aku kebablasan gimana?" tanya balik Radit dengan nada tak biasa. Senna mengernyit melihat perubahan Radit. Bahkan dia tidak tersenyum sama sekali. Dari tadi dia seolah bersikap cuek dan tidak peduli. "Sayang...." "Hm?" "Kamu kenapa, sih? Kok kayak beda gitu?" "Beda gimana?" "Ngejawabnya cuek banget." "Terus aku harus gimana? Emang gitu, kan? Udah deh kamu nggak usah mikir aneh-aneh. Yang penting sekarang kamu tau, alasan aku tinggalin kamu di hotel." Senna mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Benar juga apa yang dikatakan Radit, seharusnya dia tidak perlu berpikir macam-macam. Radit juga benar, dia memilih pulang daripada tidur satu kamar dan itu akan menimbulkan hal yang tidak diinginkan. "Emmm, makasih, ya buat kemarin." Senna lebih merapatkan lagi posisi duduknya di sebelah Radit, kemudian memeluk lengan sang pacar dengan mesra. Kemarin sewaktu di hotel Radit benar-benar telah membuat Senna bahagia. Mereka berpesta dan Radit menghadiahinya dengan berbagai perlakuan romantis layaknya seorang perempuan yang diistimewakan oleh kekasihnya. "Aku seneng banget, karena kamu udah bikin hari-hari aku lebih berwarna. Aku sayang kamu." Sedangkan Radit hanya memasang tampang datar. Bahkan ia sama sekali tidak merespons Senna. "Radit?! Kok diem aja, sih? Kamu marah?" "Enggaak." Radit menjawab dengan aksen rendah. Senna termenung sejenak. Ia merasakan ada yang tidak beres pada Radit. Sikap ramah, romantis, dan hangatnya sirna begitu saja. ??? Hari ini Rania lulus. Di sekolahnya mengadakan acara kelulusan, dan pihak sekolah mengundang para orang tua untuk mengambil hasil kelulusan putra-putrinya. Berkali-kali dibunuh oleh harapan, menjadikan Rania takut untuk berharap lagi. Dia pernah membaca salah satu postingan dalam istagram 'Aku pernah merasakan kepahitan di dunia. Dan yang paling menyakitkan adalah, berharap pada manusia. Ali bin Abi Thalib.' Semenjak membaca kutipan itu, Rania enggan berharap lagi pada ibu dan kakaknya. Mungkin benar, berharap hanya akan membuat seseorang terluka dan kecewa. Bukan orangnya yang salah, tapi harapannya. Rania pun memutuskan mengajak pembantunya untuk mendatangi sekolah. Dia tidak mau meminta tolong pada ibunya. Kalaupun ibunya mau, Rania tidak yakin kalau perempuan itu akan menepati janji. Yang ada Rania akan kembali merasakan sakit. Walau dengan hati berat dan sakit, Rania bisa melewatinya. Dia akan berusaha untuk tidak mengeluh. Setidaknya, ia bisa lulus dengan nilai memuaskan dan bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dia ingin membuktikan pada keluarganya, bahwa ia mampu berjuang dan menjadi pribadi baik. Mungkin hanya dengan menuntut ilmu, dia bisa membanggakan orang tuanya. Tidak seperti teman-teman lainnya, Rania tidak ikut memeriahkan acara kelulusan seperti mencoret-coret baju dengan piloks atau lain sebagainya. Dia memilih pulang. "Ran, ayolah, ini acara kelulusan. Masa sih nggak ikut? Seru, lho!" ajak Bianca antusias. Di bajunya sudah ada tanda tangan teman-temannya. "Enggak ah, aku pulang aja. Pengin cepet-cepet sampai rumah dan bilang sama ibu aku, kalau aku lulus," ucap Rania sambil tersenyum. "Ahhh, nggak seru lo, Ran!" Bianca berdecak kesal. Padahal teman terbaiknya sekarang ini hanya tinggal Rania, sementara Alia sudah hilang kabar. "Maaf, ya. Habisnya, aku nggak mau buang-buang waktu kayak gitu. Kita juga udah mau masuk perguruan tinggi, jadi nggak baik lakuin hal yang nggak ada manfaanya kayak gini." Bianca semakin sebal. Akhir-akhir ini ia merasa kalau sikap Rania semakin berubah. "Yaudah." "Jangan marah, ya." "Hmm," Bianca hanya merespons singkat, kemudian pergi begitu saja. Rania hanya bisa menjangkau kepergian Bianca, kemudian menundukkan kepala. "Bibik bangga sama Non." Bi Nani mengusap bahu Rania. Rania hanya tersenyum singkat. "Tapi aku nggak enak sama Bianca, Bi. Dia kayak marah gitu sama aku." "Jangan khawatirin itu, Non. Kalau emang dia itu teman yang baik, dia nggak mungkin pergi cuma karena penolakan ini. Non Rani mau berubah menjadi yang lebih baik aja itu udah bagus, jadi Non harus tetap bisa buang semua rasa nggak enak itu." Rania mengangguk, kemudian kembali berjalan meninggalkan gedung sekolahnya. Di sini, selama tiga tahun sudah ia menuntut ilmu, hingga dipertemukan dengan berbagai macam karakter manusia. Mulai dari teman yang begitu konyol, guru yang baik bahkan sampai guru yang pemarah. Rania tidak akan pernah melupakan masa remajanya yang amat menyenangkan di sini. Sejujurnya, melepas seragam putih abu-abu ini, ada kesan tersendiri yang membuat dadanya terasa pedih, sekarang dia harus menentukan hidup dan masa depannya, tidak bisa lagi bersantai-santai dan menghabiskan waktu yang tidak ada gunanya. "Rania, tunggu!" Langkah Rania terhenti saat seseorang memanggilnya dengan sedikit berteriak, diputarnya badannya, lalu ia bisa melihat sosok Raka yang tengah berlari ke mendekatinya. "Selamat, ya. Kamu bisa jadi salah satu siswi yang bisa dapetin nilai bagus." Raka mengulurkan tangan dengan semangat, berharap perempuan itu mau membalas uluran tangannya. "Makasih, ya." Melihat ekspresi Rania yang beberapa detik tidak menjabat tangannya, dengan gerakan kaku Raka kembali menarik tangannya. "Kita bakal satu kampus lagi kayaknya." "Oh, ya?" Raka hanya mengangguk-anggukan kepala. "Ini adalah kebetulan yang paling menyenangkan." "Hmm," "Oh iya, kamu pulang sama siapa?" "Sama, Bibik." "Bukan, maksud aku naik apa?" "Naik taksi." "Aku antar aja, ya? Kebutulan aku bawa mobil, lho." "Hmm, nggak usah. Kamu pulang aja. Kalau kamu nganterin aku pulang, Mama kamu pulang sama siapa?" "Mama aku itu bawa mobil lain, Ran. Diantar sama sopir, jadi aku bebas dong mau nganterin kamu?" tanya Raka. "Nggak usah, Raka. Please, jangan paksa aku." "Tapi..," "Aduh, Den. Kenapa sih dari tadi maksa Non Rani terus? Kan Non Rani nggak mau, jadi jangan maksa terus," ucap Bi Nani gemas. "Udah, Bi. Kita pulang aja." Rania menarik tangan Bi Nani. Raka terpaksa membiarkan Rania pergi. Tapi, Raka berjanji, setelah ini dia tidak akan pernah menyerah. "Itu anak siapa sih, Non. Kok urakan banget jadi laki-laki, Bibik nggak suka liatnya, dia kayaknya bukan anak baik-baik." "Itu mantan pacar aku dulu, Bik." "Cowok yang bikin Non Rani sakit hati? Kenapa nggak bilang sama Bibik? Harusnya tadi Bibik omelin dia, Non." "Udah, Bi. Biarin aja, lagi pula aku udah lupa sama dia." Bi Nani hanya menganggukkan kepala. Bi Nani senang dengan perubahan Rania sekarang, anak perempuan itu semakin bersikap tenang, bisa menanggapi masalah dengan elspresi tenang. "Semoga Ibu bangga sama aku ya, Bi." "In syaa Allah, Non. Nggak ada orang tua yang nggak bangga saat anaknya bisa mendapatkan nilai terbaik kayak gini. Bibi aja udah kagum banget sama, Non. Apa lagi Nyonya." "Aamiin..." ??? Jazakillahu khairan khatsiiran ... Peluk jauh, Dimchellers_17 Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN