*بـــــــسم اللّـــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم*
⚠Ambil baiknya, buang buruknya⚠
⚠Jangan ngejudge suatu cerita sebelum kamu mebacanya sampai tamat⚠
?Selamat Membaca?
???
"Ran, mata kamu sembab banget, kamu habis nangis? Kenapa? Ada masalah apa, Ran? Kamu bisa cerita sama aku," tanya Raka beruntun, ia terus mengikuti Rania sejak perempuan itu turun dari mobil yang mengantarnya. Rania yang merasa risih, tidak menghiraukan sama sekali perkataan Raka, semakin hari, sikap Raka semakin membuatnya rasah, bahkan Rania tidak suka jika terus-terusan bertemu dengan Raka. Menurutnya, sekarang Raka bukanlah laki-laki yang pantas untuk dia banggakan lagi, semua ucapan manis yang keluar dari mulutnya, hanya fiksi semata.
"Ran, tunggu!" karena terus diabaikan, Raka menarik tangan Rania dengan telak, memaksa tubuh gadis itu untuk terhenti di tempatnya.
Rania mendesis pelan, Semalaman ia sudah lelah menangis, lalu sekarang harus bertemu lagi dengan Raka. Sumpah, ini adalah hal yang paling menjengkelkan.
"Apa?"
"Kamu kenapa nggak jawab semua pertanyaan, aku? Kalau kamu ada masalah, cerita sama aku. Aku ini pacar kamu, Rania." Raka berucap penuh penekanan. Mendengar pernyataan Raka, sontak Rania membulatkan kedua bola matanya. Pacar?
"Raka, aku mohon. Jauhin aku, kita itu udah putus, berhenti ngaku-ngaku kalau kamu itu pacar aku!" protes Rania tak terbantahkan. Jika dulu Rania merasa bahagia saat dikejar-kekar Raka, tapi tidak dengan sekarang. Semuanya benar-benar sudah berubah semenjak kejadian itu.
Dulu, jika Raka tidak mengabarkannya lewat pesan pribadi, pasti ia sudah galau akut, jika Raka tidak muncul seharian saja, Rania sudah sedih dan terus memikirkan laki-laki itu. Setiap pagi, Rania selalu menunggu Raka menjemputnya, duduk di atas motor sambil berboncengan mesra. Tapi, tidak dengan sekarang.
"Ran, aku tau aku salah. Aku janji aku bakal berubah jadi laki-laki baik, aku nggak bisa kalau kamu jauhin kayak gini, aku sedih, Rania. Kamu boleh tanya sama mama aku, selera makan aku ikut ilang, aku jadi nggak semangat lagi belajar," kata Raka hiperbolis. Ia akan melakukan cara apa pun agar Rania mau kembali padanya.
Rania menggelengkan kepalanya tidak percaya, omongan Raka terlalu Bulshit! Rania menjadi semakin dibuat geli.
"Udah, Raka. Nggak usah terlalu berlebihan. Lagipula sebentar lagi kita mau kuliah, pasti kamu bakal dapat perempuan yang jauh lebih cantik dan baik dari pada aku." Rania menarik tangannya dari Raka, kemudian melangkah pergi begitu saja. Raka hanya bisa menjangkau kepergian Rania dengan tatapan tak terbaca.
Sesulit itukah menaklukan hati, Rania? Padahal dulu ia begitu gampang untuk menjadikan Rania sebagai pacarnya.
"Kamu berubah, Ran!" hanya itu yang bisa Raka katakan. Ternyata tidak
semudah yang ia pikirkan untuk mendapatkan Rania kembali. Raka pikir, Rania tidak serius dengan ucapannya, ia pikir mantan kekasihnya itu hanya marah sesaat. Mantan? Ya Tuhan ...., rasanya Raka tidak sanggup menerima kenyataan bahwa Rania sudah menjadi mantannya.
"Kamu tenang aja, Rania. Aku bakal buktiin sama kamu, kalau kita pasti balikan lagi. Aku akan lakuin apa pun supaya kamu mau nerima aku lagi."
???
"Bi, kamu mau kan nemanin aku ke pub lagi?" tanya Rania ragu. Kondisi kantin yang cukup ramai, sempat membuat Rania waswas saat bicara, takut jika ada yang mendengar dan beranggapan yang tidak-tidak.
"Hah? Lo gila, Ran?" Bianca malah balik bertanya, bahkan ia sendiri tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Sepanjang yang ia tahu, Rania termasuk orang yang sulit untuk diajak ketempat-tempat seperti itu.
Rania hanya memasang ekspresi masam.
"Nggak, bisa!" tolak Bianca mentah-mentah. Ia masih ingat bagaimana ancaman Radit yang amat mengerikan waktu itu, bahkan tatapan Radit yang menusuk, benar-benar membuatnya takut setengah mati. Tidak berani melawan perkataan laki-laki itu.
"Loh, kok kamu nolak? Bukannya biasanya kamu yang sering ngajak aku?"
"Duh, bukan gitu, Rania...." Bianca kebingungan sendiri, ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Jika saja Radit tidak mengancam, mungkin ia bisa dengan mudah memberi tahu Rania tentang kejadian waktu itu.
"Please, ya ya ya. Temenin aku."
Rania sangat yakin kalau dia bisa menemui Senna di tempat seperti itu, lalu sangat berharap kalau Bianca mau menemaninya, sebab Rania sendiri tidak punya keberanian untuk datang ketempat itu sendirian. Sekarang, bagaimana pun caranya, Rania harus datang menemui Senna, memberi tahu wanita itu agar tidak menjadi korban kebejatan kakaknya. Rania tidak peduli jika setelah ini Radit akan membunuhnya, setidaknya ia bisa meyakinkan Senna, membuat perempuan itu mau meninggalkan Radit.
Siapa yang tega membiarkan seorang perempuan harus terjebak dalam jeratan laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti, Radit. Rania akan merasa sangat berdosa jika ia tidak mampu membuat Radit dan Senna berpisah.
"Kok lo jadi ngotot banget, sih?"
"Pokoknya ini penting, kamu harus temanin aku, Bi. Nggak mungkin kan aku minta temanin sama Alia, dia itu udah nikah."
Bianca menggigit bibirnya dibagian dalam, Bianca tidak berani jika nanti Radit mengetahui hal ini, apalagi jika tiba-tiba bertemu dengan Radit, sungguh Bianca sangat kebingungan.
"Aku ke sana nggak macem-macem, kok. Aku cuma mau cari seseorang."
"Nyari siapa? Om-om? Astaga Ran, lo bisa juga main sama om-om, sejak kapan, aduuuuh!" kata Bianca kaget.
"Sembarangan kamu kalau ngomong." Rania mendelikan mata kesal, bisa-bisanya Bianca beranggapan seperti itu.
"Ya terus mau cari siapa, dong."
"Pokoknya seseorang, sehabis pulang sekolah kita harus ke sana, kali ini aku nggak mau denger penolakan dari kamu."
"Yaudah, tapi cuma sebentar doang, kan? Nggak lama-lama?" tanya Bianca waswas. Tingkat kecemasannya semakin tinggi, apalagi paksaan Rania kali ini benar-benar aneh.
"Iya, aku janji. Kita cuma sebentar. Setelah aku nemuin orang itu, kita langsung pulang."
Bianca tidak punya pilihan lain, ia hanya berharap semoga nanti Radit tidak mengetahui hal ini.
"Rania, ternyata kamu ada di sini, sejak tadi aku nyraiin kamu tau nggak."
Rania dan Bianca saling memandang, lagi-lagi Raka muncul di hadapannya.
"Hari ini terakhir kita UN."
Baik Rania mau pun Bianca sama sekali tidak merespon apa-apa. Raka kebingunan sendiri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. s**l, bagaimana ini?!
"Gini, Rania. Kalau kamu emang merasa terganggu sama kehadiran aku, aku janji bakal ngejauh dulu, meski ini berat buat aku. Aku bakal datang buat temuin kamu lagi, saat aku udah sukses dan tunjukin sama kamu kalau aku bakal jadi laki-laki yang baik."
"Terus?" Rania hanya merespons singkat.
"Kamu mau kan nunggu, aku?"
"Gini ya, Raka. Kalau emang aku sama kamu jodoh, nanti juga pasti bakal ketemu lagi, kok. Tapi kalau harus janji buat nungguin kamu, aku nggak bisa. Aku nggak mau terlibat janji yang nggak penting."
Raka hanya diam.
"Lo denger gak tuh temen gue bilang apa? Lo sih pakek acara selingkuh-selingkuh, udah tau si Rania nggak demen cowok begitu, masih aja lo sakitin hatinya. Pokokoknya gue doain lo sama dia nggak jodoh!"
Raka membulatkan kedua bola matanya, menatap tajam ke arah perempuan cerewet itu.
"Heh, sembarangan lo. Cabut nggak doa lo yang jelek tadi!" kata Raka geram, tapi Bianca malah membuang muka.
???
Memasuki pub, Bianca menyembunyikan wajahnya di bahu Rania, sambil sesekali mengintip ke depan, mencari sosok Radit yang mungkin saja sudah menguasai tempat itu. Rasa panik semakin besar tatkala Bianca benar-benar melihat Radit yang tengah bermesraan bersama kekasihnya itu.
Bianca meneguk salivanya.
"Mampus, gue!" kata Bianca pelan. Tubuhnya sudah terasa gemetaran.
Sementara Rania cepat-cepat masuk ke dalam keramaian orang-orang yang sedang berjoget ria, jangan sampai Radit melihatnya.
"Ran! Gue takut sama kakak lo, dia galak, nyeremin kayak singa." Biaca berteriak, berusaha mengalahkan dentuman musik nan keras.
"Dia nggak bakal liat kita, kamu tenang aja."
"Emang lo mau ngapain sih?"
"Aku mau nemuin cewek itu, pacarnya Kak Radit. Aku mau mereka itu putus."
"What? Lo udau gila, Ran? Ngapain lo capek-capek bikin mereka putus? Jangan-jangan lo benar-benar mau jodohin gue sama abang lo? Sumpah, Ran. Gue cuma becanda. Nggak jadi, gue nggak jadi suka sama abanh lo itu," Bianca menggelengkn kepalanya, tidak berminat lagi untuk mengenal Radit lebih dalam.
"Siapa juga yang mau jodohin kalian. Aku nggak mau dia jadi korban selanjutnya."
"Korban apaan?" tanya Bianca penasaran.
"Duh, pokoknya ada deh."
"Rani, kasih tau ih."
"Nggak bisa."
"Terus kalau lo nggak mau kasih tau, ngapain lo bawa gue ke sini!"
"Pokoknya ini masalah besar. Kamu tunggu di sini. Kalau kamu ikut, nanti kak Radit liat kamu gimana?"
"Ihsss. Iya-iya, gue tunggu di sini."
Bianca tidak punya pilihan lain. Sebenarnya ia sangat kepo luar biasa, tapi yang bisa ia lakukan sekarang hanya bisa memperhatikan Rania dan perempuan itu dari jauh.
Saat Radit benar-benar pergi, barulah Rania bisa mendekati Senna, meski dengan ketakutan yang luar biasa. Tapi sebisa mungkin, Rania berusaha tetap bersikap tenang di depan perempuan itu.
"Hai."
Senna mendogakan kepalanya, menatap Rania dengan intens. Ya, Senna ingat, dia perempuan yang sudah membuat Radit berani meninggalkannya waktu itu. Akhirnya, sekarang dia bisa bertemu. Senna tidak akan tinggal diam.
"Lo mau cari Radit? Dia nggak ada!"
"Bukan, aku ke sini mau cari Kakak."
"Nyari gue?" Senna menunjuk dirinya sendiri, Rania hanya mengangguk sebagai respons.
"Ngapain? Mau labrak gue? Mau maki-maki gue dan ngaku kalau lo pacarnya? Gini ya cewek yang nggak tau diri, Radit itu cintanya cuma sama gue. Kasian, lo cuma jadi cewek yang dipakai sebentar."
Mendengar tuduhan Senna, sebenarnya hati Rania sangat sakit. Tapi ia berusaha untuk tetap meredam emosinya.
"Pacar?" Rania tersenyum tipis.
"Aku bukan pacarnya, tapi aku adiknya."
"A...apa?!"
Sungguh, mendengar pengakuan Rania, Senna hampir jantungan. Mampus!
"A...adik?" dengan susah payah, Senna menelan ludahnya, mendadak dihantui rasa takut, takut jika adik kekasihnya itu mengadukan perbuatannya barusan. Senna takut Radit marah dan mengakhiri hubungan mereka.
"Sorry, aku gak tau kalau kamu adiknya. Ada apa?" Senna jadi mati kutu, ia merutuki dirinya sendiri. Bodoh, bodoh, bodoh!
"Nggak pa-pa, sekarang kan udah tau."
"Hmm, mau aku panggilin Radit? Tapi jangan bilang ya tadi aku marahin kamu, nanti Radit bisa ngamuk."
"Enggaj kok, tenang aja. Nggak usah panggil, Kak Radit. Aku cuma pengen ngomong sama Kak Senna."
"Ngomong sama aku? Tentang?"
"Kak Radit."
"Radit? Emang kenapa sama Radit."
"Aku mau kakak ninggalin Kak Radit."
Senna membulatkan kedua bola matanya, pembicaraan Rania sungguh di luar ekspetasinya.
"Kenapa? Kamu marah sama aku karena aku udah marah-marah? Please. Aku benar-benar nggak bermaksud bikin kamu sakit hati, jangan suruh aku buat ninggalin Radit."
"Bukan, kak. Bukan karena itu. Tapi karena Kak Radit bukan laki-laki yang baik buat Kak Senna. Kak Radit itu laki-la..."
"Playboy?" potong Senna cepat.
"Aku udah tau, kok. Sekarang Radit udah berubah, buktinya dia setia sama aku."
Rania mendesah resah.
"Apa Kak Senna tau tentang kak Radit yang menghamili perempuan?"
"Ha?"
"Jadi kemarin itu ada yang datang ke rumah, minta pertanggung jawaban Kak Radit tentang kehamilannya."
Mendengar pernyataan Rania, Senna hanya terkikih pelan.
"Terus?"
Rania sukses membulatkan kedua bola matanya. Jadi?
"Ya udah pasti kalau Kak Radit itu juga akan lakuin hal yang sama ke Kakak."
"Hmmm, gini ya. Aku tau kok Radit emang cowok playboy. Banyak cewek yang suka sama dia, bisa aja kan perempuan itu ngaku-ngaku, aku lebih percaya sama Radit, dia cinta sama aku."
Ternyata Rania salah. Tidak mudah untuk meyakinkan Senna tentang Radit. Rania sudah bingung, tidak tau lagi bagaimana caranya harus meyakinkan Senna. Padahal, ia hanya ingin Senna terbebas dari rayuan Radit yang hanya akan bertahan sesaat. Rania tidak ingin ada korban lagi, Rania tidak mau kakaknya harus berzina lagi, sungguh Rania benar-benar sudah kehabisan cara untuk menyadarkan Senna dan kakaknya itu.
???
Bersambung
Peluk jauh, Dimchellers_17, ?
Jazakillahu khairan khatsiiran ...