8. Butuh Perhatian

1838 Kata
*بـــــــسم اللّـــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم* ⚠Ambil baiknya, buang buruknya⚠ ⚠Jangan ngejudge suatu cerita sebelum kamu mebacanya sampai tamat⚠ ?Selamat Membaca? ??? “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya.” [HR. Bukhari dan Muslim] ??? Di dalam ruangan ujian, Rania hanya bisa mendesis. Sesekali perempuan itu menyandarkan punggungnya pada bahu kursi. Bukan karena soal ujian yang membuatnya seperti kesulitan untuk menyelesaikannya. Melainkan karena Radit yang terus melintas di dalam benaknya, membuat Rania sama sekali tidak konsentrasi mengerjakan soal ujian yang tertancap dilayar komputer. Padahan ini adalah ujian UN, seharusnya ia bisa melupakan semua masalah demi memokuskan diri untuk menghadapi ujian. Tapi, lagi-lagi perempuan kemarin begitu menganggu otaknya. Rania tidak mungkin bisa membiarkan kakaknya lari dari tanggung jawab, bagaimanapun dia juga seorang perempuan, ia bisa mengerti bagaimana dibuang saat sudah tidak dibutuhkan lagi. Dari ujung ruangan sebelah kiri, Raka terus memperhatikan Rania, benak Raka terus bertanya-tanya, apakah perempuan itu galau karenanya? Dalam satu menit Rania bisa bergerak sebanyak sebelas kali, ternyata diam-diam, Raka dengan konyol menghitung setiap gerak-gerik mantan pacarnya itu. Ya, meski Raka tidak pernah menganggap Rania mantannya, bagi Raka, Rania tetap pacarnya. Menganggap bahwa mereka saat ini hanya sekedar bertengkar biasa, cemburu sosial. "Ran, kenapa?" tanya Bianca cemas, kerena kebetulan Rania dan Bianca duduk bersebelahan. Rania hanya mengelengkan kepalanya sebagai respons. Bianca mengangkat kedua alisnya, meski tahu bahwa temannya itu sedang tidak dalam keadaan baik. ??? Rania berjalan menggapai ujung koridor, sejak tadi kepalanya mendadak pusing, bahkan sesekali langkah itu terhenti sejenak. Bianca memandang Rania lagi, ia sudah yakin kalau Rania pasti dalam keadaan tidak baik, apalagi bibir gadis itu sudah pucat pasi. "Ran, lo sakit?" "Nggak, aku cuma pusing aja." "Tapi wajah lo pucet banget, lho." Bianca sangat mencemaskan, Rania. Tak lama setelah itu tubuh Rania tumbang, Bianca memekik karena kaget. Untung saja ia masih bisa menangkap tubuh Rania agar tidak terempas di atas ubin yang keras. "Ran, Rania ... Bangun!" Bianca berusaha menyadarkan Rania, tapi hasilnya nihil, Rania sudah terlanjur jatuh pingsan. Untung sekolah masih cukup ramai, hingga beberapa murid bisa membantu Bianca membawa Rania ke ruangan UKS. Sementara itu, Raka lewat di tempat yang sama, ia juga melihat tubuh Rania diangkat menujuru UKS, tiba-tiba saja Raka menjadi cemas, ia benar-benar tidak menyangka kalau Rania bisa pingsan. Apakah dia sakit? Benak Raka terus bertanya-tanya, karena selama pacaran, ia tidak pernah mendengar kabar Rania sakit, bahkan dia terlihat sangat sehat. Tapi, Raka merasa semenjak ia putus dengan Rania, perempuan sering melamun. Raka menyesal, karena setelah putus dari Rania, ia tidak pernah menemukan pacar seperti Rania perempuan yang paling pengertian, tidak seperti yang lain, selalu ingin menang sendiri. Raka sudah langsung mengambil keputusan, ikut masuk ke dalam ruangan UKS, di sana terlihat Bianca dengan membalurkan minyak kayu putih ke hidung Rania. Melakukan pertolongan pertama agar Rania segera sadar. "Aduh, Ran. Kenapa sih lo pake acara pingsan segala." Ucap Bianca panik, sementara itu, Rania sama sekali belum merespons apa-apa. "Bianca, mending lo duluan pulang, biar gue yang ngurusin, Rania." "Lo?" tanya Bianca sambil membulatkan kedua bola matanya. "Nggak, nanti Rania marah sama gue, lagian ngapain lo sok ngasih perhatian, lo udah putus sama dia." "Gue nyesel, gue baru sadar ternyata gue cinta banget sama Rania, sekarang aja gue panik banget, tolong lo ngertiin gue, gue janji setelah ini gue nggak bakal sakitin Rania, gue mau balikan sama dia." "Ha?" Bianca terkejut mendengat pernyataan Raka yang terdengar klise. "Nggak usah banyak gaya." Karena malas meladeni Raka, akhirnya Bianca mengalah. Membiarkan Rania dan Raka tetap di ruangan itu. Bianca sebenarnya juga ingin hubungan Raka dan Rania kembali seperti dulu, karena Bianca cukup mengagumi cara berpacaran Rania yang suka malu-malu. Saat Bianca benar-benar pergi, Rania mulai membuka mata, Rania membulatkan kedua mantanya. "Raka?" "Alhamdulillah, Rania. Akhirnya kamu sadar juga, kamu nggak pa-pa, kak?" tanya Raka khas seperti orang cemas, wajahnya ikut mendukung ekspresi yang entah nyata atau hanya sekedar drama receh biasa. "Aku baik-baik aja." Rania terlihat masih enggan menatap Raka, ia masih kecewa karena Raka sudah berani memiliki pacar simpanan. "Aku khawatir banget sama, kamu. Saat liat kamu pingsan tadi, rasanya aku langsung pengen bawa kamu ke rumah sakit," kata Raka hiperbolis. Rania malah tergelak sendiri, dasar laki-laki. "Aku baik-baik aja, sekarang aku mau pulang." Saat Rania turun dari atas bragkar, kepalanya kembali terasa pening, dengan cepat Raka menahan tubuh Rania agar tidak tumbang. "Makanya hati-hati, kalau kamu jatuh gimana?" Sumpah, seandainya saja Rania bisa berjalan sendiri dengan normal, dia tidak akan pernah sudi dekat-dekat dengan Raka. Apalagi membiarkan laki-laki itu menyentuh lengannya. "Aku antar kamu pulang." "Nggak usah, aku bisa nunggu jemputan aku." "Gimana kalau dia telat? Kamu itu lagi sakit, aku nggak mau nanti kamu kenapa-kenapa, lebih cepat sampai di rumah itu lebih baik." Rania mengembuskan napas pelan, jika saja dia tidak sakit, dia pasti akan menolak mentah-mentah ajakan Raka. Untuk kali ini, ya hanya hari ini Rania terpaksa untuk menerima tawaran mantan kekasihnya itu. "Aku antar pulang, ya." "Yaudah," kata Rania pada akhirnya. Mendengar jawaban Rania, Raka ber yes-yes ria, dengan begitu dia bisa menjalin hubungan dekat lagi dengan Rania. "Sini aku bantu." "Nggak usah, aku bisa sendiri." "Oke." Raka memgangkat tangannya, Ia mundur bebera langkah, ternyata tidak semudah itu melunturkan gengsi Rania. Raka tau, dalam hati perempuan itu pasti sangat bahagia saat ia memberinya perlakuan yang begitu lembut. Saat di atas motor, tidak ada sepatah kata pun yang Rania lontarkan, diam adalah opsi paling baik. "Ran, kamu masih marah sama aku?" "Marah? Buat apa?" Rania sedikit berteriak karena bunyi kendaraan di jalanan berhasil mengalahkan suaranya. "Karena kejadian beberapa hari yang lalu." "Enggak." "Jadi, maksudnya kamu maafin aku?" "Nggak baik musuhan sama orang, mending berteman." "Dulu awaknya kita juga teman, apa nanti bisa berubah lagi? Hehe." Rania mendelikan matanya. Sumpah demi Tuhan, Rania tidak akan pernah membiarkan nama laki-laki itu masuk kembali ke dalam hatinya. Saat sampai di depan rumah, Rania kangsung turun dari motor Raka, tidak ingin terlalu lama-lama bersama, Rania langsung masuk setelah mengucapka terima kasih. Tapi, ia merasa tangannya ditahan, mengharuskan mau tidak mau ia harus terhenti di tempatnya. "Jangan lupa, minum obat, makan dan istirahat. Nanti aku bakal berdoa sama Allah, semoga kamu cepat sembuh." "Makasih buat doanya, tapi kamu nggak usah capek-capek doain aku, sekarang aku udah baik-baik aja." Raka tersenyum, lalu menganggukan kepalanya. Tiba-tiba saja Raka menjadi canggung, ia merasa Rania mulai berubah, semarah itukah ia saat Raka khilaf dan berpaling? "Nggak pa-pa, aku akan tetap doain kamu, semoga hati kamu balik lagi kayak dulu. Aku janji, aku bakal berubah supaya kamu nggak kepikiran dan sakit kayak gini." "Ha?" Rania semakin bingung, apa hubungannya? ??? "Aku nggak suka sama Senna, meski dia keponakan aku, tapi mulutnya udah kelewatan!" "Kamu harus bisa maklumi Senna, Sar. Dia itu sudah seperti anak kita sendiri, jadi sudah tugas kita untuk tetap menjaganya meski tingkah lakunya buruk. Cobalah kamu mau bersikap lembut pada Senna, aku yakin dia pasti akan menghormati kamu." "Apa? Bersikap lembut? Waw!" Sarah bertepuk tangan, seolah-olah ini adalah sebuah pertandingan yang lucu. "Seumur hidup aku tidak akan sudi bersikap baik sama anak kurang ajar itu. Aku tau aku nggak bisa kasih kamu anak, tapi dia nggak usah ngungkit-ngungkit ketidak sempurnaan aku!" Ilyas mendesah, rasanya sulit sekali untuk memberi nasihat kepada istrinya itu. Dia terlalu keras kepala, tidak pernah mau mengalah. "Tidak usah diambil hati, Sarah. Aku yakin, dia nggak serius saam ucapan dia." "Belain aja terus, makanya anak itu selalu ngelunjak!" "Aku bukan belain dia, Sarah. Aku cuma bilang kebenaran." "Kebenaran yang mana? Kebenaran kalau anak itu tidak tau diuntung? Kurang ajar dan suka pulang seenaknya kayak anak orang kaya? Maaf, Ilyas, aku tidak sebodoh itu untuk berlaku baik sama anak setan itu." "Jaga ucapanmu, Sarah? Dia anak dari kakakmu, jangan mengatakan hal yang buruk tetang anak, karena itu akan menjadi doa." Ilyas tidak suka Sarah memandang Senna serendah itu. Ilyas sangat menyayangi Senna, ingin anak perempuan tumbuh menjadi anak yang baik, betah di rumah dan bisa menjadi anak perempuan lugu seperti yang lainnya. "Halah, aku tidak peduli." "Terserah kamu, kalau sampai Senna tidak betah lagi di sini. Aku akan pergi meninggalkamu!" kata Ilyas dengan telak. Tidak ada main-main dalam ucapannya. Mendengar perkataan Ilyas yang seperti itu, tiba-tiba saja tunuh Sarah menegang, ia tidak siap ditinggalkan. ??? Rania hanya bisa menagis di dalam kamarnya. Dalam kondisi sakit seperti ini, tidak ada satupun yang menemaninya, ibu atau pun kakak yang mungkin bisa memanjakannya. Hanya dalam keadaan sakit seperti ini. Rania sangat membutuhkan mereka. Tapi, angan-angan itu hanya akan tetap menjadi bayangan yang tidak akan pernah bisa ia kejar. Ibunya akan tetap hidup dengan dunianya, dan kakaknya juga akan tetap hidup dengan dunia yang ia anggap surga. Lagi-lagi, air mata Rania lolos begitu saja. Hati siapa yang tak iba saat kondisi lemah tidak ada yang mempedulikan, menyuapi makan atau hanya sekedar menemani di saat tidur. Setidaknya itu saja sudah cukup bagi, Rania. Sejak tadi, Rania tidak mau makan, semua makan terasa sangat pahit. Bahkan saat Rania meminta sup ayam, berharap bisa menikmati makan, tapi semuanya tetap sama, lidahnya tidak bisa menerima dengan baik makanan yang masuk. Rania kesal sendiri. Mungkin jika dia mati, tidak ada yang mau peduli. Tidak akan ada yang merasa kehilangan. Tidak lama setelah itu, Rania bisa mendengar sebuah pesa w******p telah masuk kedalam handphonen-nya. Di bukanya layar destop, di sana tertera nama Raka. Sang mantan kekasih. 'Gimana keadaan kamu? Udah baikan? Udah makan? Aku harap kamu baik-baik aja, ya.' Rania tidak membalas apa-apa, semakin enggan saja dengan laki-laki itu. 'Perasaan aku nggak enak, aku selalu kepikiran sama kamu, Ran.' Lagi-lagi Raka mengirim pesan, mengharuskan mau tidak mau Rania harus membalasnya. 'Nggak pa-pa.' 'Jangan lupa minum obat, kamu juga istirahat, ya. I miss you,' Tanpa diduga, setelah itu Raka mengirim emotion berbentuk ciuman, sungguh Rania geli sendiri. Jika dulu hatinya berbunga-bunga, tapi tidak dengan sekarang. Ia sudah terlanjur kecewa dan tahu bagaimana watak Raka yang sebenarnya. Jadi, dia tidak akan pernah mau peduli lagi dengan perkataan receh Raka yang tidak bermanfaat. 'Rania, tadi ada gempa ya?' 'Ha? gempa? Enggak tuh,' balas Rania. Sejak tadi, dia tidak merasakan kejadian apa pun 'Oh, aku salah ya? Mungki dunia aku yang gempa karena nggak ada kamu, hehe. Becanda, nggak lucu ya?' Setelah membaca pesan itu, Rania membuang HPnya kesamping, hingga tergeletak begitu saja di atas kasur. Lebih baik tidur dari pada membaca pesan yang tidak jelas itu. "Non Rani, minum ini dulu ya, biar badannya enakkan." Bi Nani masuk ke dalam kamar sambil membawakan Rania secangkir wedang jahe panas. Rania tersenyum, pembantunya itu memang selalu perhatian. Ia selalu berusaha melakukan apa pun agar Rania bisa segera pulih, membuatkan makanan apa pun yang bisa Rania makan, selalu berusaha membuat Nona mudanya itu mengisi perutnya. Rania sangat menyayangi, Bi Nani. Tidak mau kehilangan perempuan yang sudah menemaninya selama ini. "Terima kasih banyak, Bi." Bi Nani nanya menganggukan kepalanya. ??? Bersambung Jazakillahu khairan khatsiiran ... Peluk jauh, Dimchellers_17 ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN