Unexpected Conversation

1325 Kata
Seorang pria tengah menggendong bayi yang masih tampak tenang. Ia melangkah ke arah kediaman. Di dalam hati, perasaan bercampur menjadi satu, apalagi telah mengalami suatu peristiwa, dan sudah pasti mengubah hidup seseorang.   Aku bersyukur, semua berjalan lancar. Hanya tinggal satu lagi: meminta berkat dari Dewi Bulan. Misi harus tetap terlaksana, meskipun tampak tidak mungkin. Dunia mortal memang luar biasa indah, penuh lika-liku, dan warna. Tapi, saat melepaskan hidup abadi, maka harus berani bila kematian datang. Jika saat itu tiba, Ostara pasti sudah siap, batin Truantz.   Suasana pagi menjelang siang begitu cerah. Karena rumah itu banyak pohon, maka hawa panas jarang terasa. Fairy prince telah sampai di depan rumah, lalu segera membuka pintu. Tak disangka, ada seorang perempuan muda telah menunggu di dalam.   “Sayang,” sapa si lelaki, mengurangi keheningan.   Truantz alias Gretzh segera masuk, lalu menutup pintu. Langkah yang ada, tertuju kepada sang istri, Rhean Lutzh. Perempuan muda itu menatap pria tersayang dengan bayi mereka di dalam pelukan, bergantian.   “Hubby, sudah selesai menjemur anak kita?” balas perempuan berambut panjang brunette.   “Sudah. Dia sangat tenang dan terus tidur. Mungkin nanti akan terbangun, jika haus.” Dia berkata, sambil tersenyum. “Kamu telah membersihkan tubuh? Kalau iya, kini giliranku untuk mandi.” Perempuan cantik itu mengangguk. “Mandilah, Hubby. Biar aku menjaga Ostara.”   “Kamu sudah makan?” Pertanyaan basa-basi dilanjutkan. Pria bertubuh kekar telah berdiri di samping pasangan hidup, lalu menatap manik hijau milik sang istri. Sepasang suami-istri saling menatap, seolah tidak merasa bosan.   “Sudah, Sayang. Hubby sudah lapar? Biar nanti aku meminta maid untuk memasak.” Ibu Ostara menjawab.   “Nanti saja.” Gretzh memberikan anak mereka, yang disambut baik oleh perempuan muda tersebut. Bibir sang lelaki, pindah ke kening pasangan tercinta, lalu ke bibir. Setelah berciuman cukup lama, ia melepaskan perlahan.   Rhean begitu menikmati kemesraan tersebut, walau tidak berlangsung lama. Aku bersyukur, karena Dewa memberikan suami seperti Gretzh. Semoga kami berdua selalu bersama, bahkan saat meninggal nanti, karena tak sudi diminta menikah kembali. Mama dan papa sudah pasti tidak mau melihat anak semata wayang menjadi janda, meskipun dipisahkan oleh maut. Mereka akan memilihkan pria baru sebagai pengganti, padahal lebih memilih sendiri jika itu terjadi.   “Aku ke kamar dulu, ya,” pamit fairy prince.   “Ya, Sayang. Terima kasih telah membawa Ostara,” sahut sang istri.   “Sama-sama, Wifey.”   Pria yang memiliki sepasang mata berwarna biru, kini bergerak ke arah ruangan peristirahatan mereka. Rhean hanya memperhatikan sosok kepala keluarga, hingga masuk, dan menghilang di balik pintu. Tak lama, ia mengalihkan pandangan ke arah bayi di dalam pelukan.   “Ostara sayang, bagaimana acara mandi matahari bersama ayah? Kau tampak senang, hm? Sampai masih tidur nyenyak seperti ini. Ibu akan memberimu s**u, lalu membersihkan diri. Kamu adalah anak pintar, manis, dan menurut perkataan orang tua.” Rhean berkata lembut, seraya mendekatkan bibir ke kening si kecil.   Bayi mungil menggeliat sebentar, lalu kembali ke posisi semula. Sang ibu yang melihat hal tersebut, tersenyum bahagia. “Tubuh kecil ini masih hangat, karena kena sinar mentari. Semoga dia kelak menjadi sehat dan kuat. Kalau sudah masuk musim dingin, sudah bisa dipastikan hanya ada salju, sehingga tak bisa ke luar rumah, meskipun cuma ke pekarangan.”   ***   Di Malam Hari   Seorang perempuan muda cantik, terlihat menguap beberapa kali. Ia baru saja selesai menyusui bayi mungil tersayang. Sementara, sang suami tengah duduk di pinggir ranjang, memperhatikan dengan seksama dan tidak mengatakan apa-apa.   “Tidurlah, Wifey. Kamu sudah lelah, jangan dipaksakan.”   Rhean menoleh ke sumber suara. Ia melihat Gretzh tersenyum manis. “Ya, Hubby. Aku sebentar lagi akan berbaring. Melihat anak kita sudah kenyang dan tidur lelap, bahagia hatiku.” Sang istri pun melangkah ke tempat tidur, lalu merebahkan diri di sana. Pria penyayang keluarga itu segera melakukan hal sama, lalu menarik wanita yang dikasihi ke dalam pelukan. “Terima kasih, Sayang, sudah memberikanku keturunan cantik dan menggemaskan,” bisik Gretzh.   Raut Rhean bersemu, ketika mendengar ucapan tersebut. Ia mengangguk, seraya berkata, “Sama-sama, Hubby. Terima kasih juga telah menjadi suami dan ayah yang hebat. Aku tidak meminta hal lain, selain kita bisa selalu bersama, baik saat masih hidup, maupun ketika meninggal nanti.”   Jantung sang fairy prince berdetak lebih cepat. Pria bermata biru cemerlang tersebut tak pernah menyangka, jika belahan jiwa memiliki perasaan sedalam itu. Astaga, Rhean benar-benar tulus mencintaiku. Her sincere wish would gonna kill her. It is beyond my imagination, batin Truantz.   “Kenapa bicara seperti itu, Wifey?” pancing sang suami.   Wanita yang tiga hari lalu baru melahirkan langsung bungkam. Kepala langsung menunduk, seakan takut pasangan hidup akan marah atau murka dengan ucapan yang dilontarkan. Lelaki tampan itu berusaha ingin mengetahui isi hatinya. “Kenapa, Sayang? Katakan saja, jangan takut.   “Hm, aku ....” Keraguan hinggap, sehingga membuat Rhean ragu-ragu.   Suasana menjadi hening, karena anak tunggal di keluarga Lutzh memilih menggantung perkataan, meskipun sudah dua kali ditanya oleh kepala keluarga Statzh. “Aku tidak akan marah atau mengejekmu, Wifey. Kita suami-istri, jadi apa pun yang ada di dalam benak, sebaiknya disampaikan.”   “Sayang—" “Ya?”   “Kau janji, tidak akan menertawakan atau marah, jika aku mengatakan hal yang sebenarnya.”   “Tentu saja tidak. Selama apa yang dikatakan bukan tentang perselingkuhan.”   “Aku tidak pernah berselingkuh!” protes Rhean. Dia memukul perut suami yang sixpack. Pria itu malah tertawa tanpa suara, karena berhasil memancing istri tercinta.   “Kalau tidak berselingkuh, jadi apa yang mengganjal di hati? Katakan terus-terang, siapa tahu ada jalan ke luar.”   “Begini—” Perempuan itu menarik napas dalam, lalu mengembuskan perlahan. “Ini dikatakan, bukan untuk menjelekkan keluarga sendiri, tapi ... bila suatu hari nanti kau meninggal dan aku masih hidup, maka orang tua akan mencari laki-laki lain, sebagai suami pengganti.”   Jantung Truantz merasa nyeri. Di dalam hati, timbul rasa tak rela, jika sang istri dimiliki oleh lelaki lain. Inikah yang menjadi alasan kenapa Rhean berkata ingin sehidup semati? Mertua memang terkenal tamak, pemaksa, dan suka menyiksa. Untung saja, anak gadis mereka menjadi pasanganku, sehingga bisa terbebas dari buaya darat.   “Lalu?”   “Aku berpikir, lebih baik kita sehidup semati, sehingga Ostara tidak perlu menderita, karena memiliki ayah tiri. Sekali lagi, ini bukan untuk menjatuhkan keluarga, tapi hal itu nyata terjadi.”   Suasana kembali hening, karena fairy prince tidak menyahut. Sementara, wanita yang baru tiga hari menjadi ibu itu merasa cemas, karena takut pasangan marah, kecewa, atau lebih buruk memilih berpisah. “Wifey, kalau kita meninggal secara bersamaan, siapa yang akan menjaga putri kecil?” tanya Gretzh, tiba-tiba.   Perempuan bermata hijau itu tak bisa menjawab. Dia menjadi serba salah. Percakapan tentang kematian malah menyeruak, padahal bukan itu tujuan semula. “Aku tidak tahu, Hubby. Semoga saja, ketika hal itu terjadi, Ostara telah menikah, dan kita meninggal dalam usia tua,” jawab Rhean.   “Semoga saja begitu. Mari kita tidur, karena hari sudah semakin malam,” ajak si lelaki, dengan nada lembut. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan, karena tidak ingin terlarut dengan ucapan tulus dari pasangan resmi.   “Ya, Hubby. Selamat malam,” sahut Rhean, seraya menutup kedua mata.   “Selamat malam, Wifey.”   ***   Truantz sengaja membuka jendela yang ada di kamar, supaya bisa melihat keadaan langit di luar. Istri cantik nan lemah lembut telah tertidur pulas, sehingga tidak mengetahui, apa yang akan suami lakukan. Sementara itu, bulan purnama muncul dari balik awan. Sinarnya begitu jelas memancar, sehingga membuat si lelaki gembira.   Aku harus meminta bantuan Dewi Aletzhia. Karena dialah yang menguasai bulan, magick, dan dunia malam. Semoga beliau berkenan dimintai bantuan. Tapi, sebelum memanggil, harus membuat perisai, supaya tidak ketahuan oleh siapa pun, termasuk Rhean, pikir fairy prince, serius.   Ayah kandung Ostara mengambil sebuah gelas yang diletakkan di atas meja, tak jauh dari sana, lalu berjalan ke arah tempat tidur khusus bayi, seraya mengucapkan spell, “Agrutx verdux saghtux vexth loghtzx!”   *** Istilah bahasa asing: 1. Agrutx verdux saghtux vexth loghtzx! = Buatlah tempat ini menjadi tak terlihat!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN