Almost Die

1159 Kata
At The Fairy Kingdom Area   Di dalam kediaman salah seorang penduduk, tampaklah salah satu penghuni di sana. Seorang pria, namun usia masih muda, memiliki sepasang sayap di punggung, rambut pendek pirang berantakan, hidung mancung, berkulit putih pucat tengah duduk di kursi. Raut resah nan gelisah tercetak jelas, karena ia berusaha menghubungi teman baik, namun belum mendapatkan jawaban.   “Truantz, mengapa sulit sekali mengontakmu? Aku sungguh khawatir, karena dia masih berusaha mencari ke mana-mana. Bahkan, ada kemungkinan akan pindah ke dunia mortal. Ini tidak bisa dibiarkan, karena akan berakibat fatal,” gumamnya, pelan. “Apakah harus dicoba lagi? Keadaan masih genting. Tempat-tempat magickal creature seperti werewolf, mermaid pun tak luput dari pemeriksaan. Only one place left, the forbidden world.”   Sepasang mata berwarna hijau itu tampak terpejam. Mulut pun mengucapkan spell. “Avtexc liotz vra firgth nauthx luentz!” Tak lama kemudian, keanehan pun terjadi. Pemuda itu terpental sangat jauh dari tempat semula, seolah ada kekuatan tak terlihat, yang melemparkan fairy male dengan kuat.   Wajah Hitzh menjadi merah, darah segar mengucur dari hidung, nyeri tak tertahankan terasa di sekujur tubuh, terutama di area kepala. Dia tengah mencoba berdiri, akan tetapi gagal, malah jatuh terjerembab. “Ugh ... dia ... benar-benar ...,” rintih si lelaki.   Aku harus bagaimana? Truantz memang sudah memikirkan matang-matang akan segala sesuatu, termasuk akses ke sana. Tapi, kali ini sangat aneh, karena semua spell memantul kembali kepada pengirim, sehingga efeknya membuat tubuh remuk, seperti dihajar oleh sekelompok fairy. Please, any fairy help me. I am dying, batinnya..   Sepasang mata berwarna hijau itu tak sanggup untuk membuka, karena rasa nyeri hebat di sekujur tubuh, terutama kepala, sehingga perlahan-lahan tertutup. Tubuh kurus fairy male nan malang, tergeletak di lantai rumah.   Tak lama kemudian, ada yang datang ke kediaman tersebut. Tampaklah seorang fairy female dengan dua orang anak dari jenis yang sama. Mereka tampak mengetuk pintu, akan tetapi tidak ada jawaban.   “Hitzh, tolong buka pintunya. Ini aku, istrimu,” ucap si perempuan, seraya mengetuk pintu.   Meskipun sudah mencoba beberapa kali, namun tetap nihil, sehingga membuat sang pasangan menjadi heran. Sementara itu, kedua anak yang masing-masing berusia delapan dan lima tahun, tampak bingung, karena sang ayah tak kunjung muncul.   “Ibu, bagaimana kalau kita spell saja pintu ini supaya terbuka? Jangan-jangan, ada sesuatu terjadi dengan Ayah,” usul si sulung, yang memiliki rambut pirang dan bermata hijau.   “Betul, Bu. Aku takut, kalau Ayah sakit mendadak,” timpal anak bungsu, yang memiliki rambut hitam, sama seperti dirinya.   Fairy female terdiam sesaat, ketika mendengarkan ide dari anak-anak. Ia memandang baik perkataan tersebut, sehingga hal demikian bisa dilakukan. “Oke, kalian mundur dua langkah dari situ, supaya tidak terkena efek spell.” “Ya, Ibu,” sahut mereka bersamaan.   Anak pertama dan kedua langsung mengikuti perkataan orang tua, sehingga yang ada di depan, hanyalah fairy female yang telah melahirkan dan membesarkan mereka. “Hopht tre vrtuct!”   Tak lama kemudian, pintu yang semula tertutup rapat, tiba-tiba terbuka lebar dengan suara keras. Istri pemilik rumah dengan kedua anak langsung masuk ke dalam. Mereka bertiga merasa heran, sekaligus cemas, karena tak ada tanda-tanda dari kepala keluarga.   “Hitzh?” panggil perempuan peri, akan tetapi tak ada jawaban. Ia dan kedua anak kini berjalan ke arah kamar tidur masing-masing, sekaligus memeriksa. Di dalam ruangan tersebut, tetap tak ada kehadiran fairy male yang dicari-cari.   “Ayah,” ucap fairy children, namun tetap nihil. Keduanya kini keluar yang dimasuki, lalu berpindah ke kamar mandi, namun hasil yang di dapatkan pun sama. Mereka bergegas menemui sang ibu yang tampak tengah berpikir.   “Ibu, kami tidak menemukan Ayah di mana pun,” lapor si sulung.   “Betul, Bu. Apakah kita harus memeriksa ke seluruh rumah?” Si bungsu bertanya, dengan raut mau menangis.   Fairy female bermata biru itu mencoba untuk tersenyum, meskipun di dalam hati merasa takut, panik, dan ada firasat tidak enak akan suami tercinta. “Ya, coba kalian cari di dapur atau di ruangan lain. Ibu akan berusaha mencari di dalam rumah, setelah itu baru ke halaman luar.” Dia menjawab, sekaligus menenangkan kedua buah hati. “Baik, Bu,” jawab mereka serempak. Kedua anak peri itu pergi dari situ, lalu mulai memeriksa area yang diperintahkan oleh orang tua.   Sementara itu, perempuan berambut hitam terdiam sesaat, kemudian terbang rendah ke arah lain, sambil mengedarkan pandangan mata ke sekeliling. “Apakah suami belum pulang bekerja? Tapi, bukankah seharusnya sudah selesai giliran, karena mendapatkan jadwal pagi di hari ini? Aku hapal dengan semua jadwal bekerja pasangan, jadi tidak mungkin salah dalam mengingat. Kami baru saja pulang dari rumah orang tua, tapi di sini malah kosong melompong. Sungguh aneh, semoga Hitzh baik-baik saja.”   “Ibu! Ibu!” Terdengar teriakan dari arah berlawanan. Fairy female langsung menoleh, kemudian terbang ke arah sumber suara. Firasat buruk kembali menyergap, kala mendengar pekikan kedua buah hati.   Benar saja, ketika tiba di dapur, ia menemukan sang suami bersimbah darah. Dia seketika menjerit, lalu turun ke lantai, seraya memangku tubuh pasangan. “Sayang, apa yang telah terjadi padamu? Fairy mana berani melakukan hal kejam seperti ini?” Suaranya bergetar, menahan sedih, kecewa, dan amarah.   “Avtexc liotz vra firgth na Hitzh!” Wanita bermata biru itu membaca spell.   Tak lama kemudian, tampaklah kilasan-kilasan peristiwa nahas sebelum menimpa sang suami. Ia terdiam sesaat, akan tetapi buah hati tidak dapat melihat apa pun, karena efek mantra itu hanya bisa digunakan oleh fairy yang mengucapkan saja. Raut fairy children terlihat begitu merana, bahkan si bungsu menangis, karena melihat keadaan sang ayah yang begitu mengenaskan.   “Hitzh, mengapa kau nekat, Sayang? Itu sihir perlindungan kuno. Siapa pun adult fairy di negara ini mengetahui, jika berani menembus, maka nyawa menjadi taruhan, meskipun kita immortal.” Fairy female berkata sedih, ketika sudah selesai mendapatkan kilas balik secara magick. Air mata menetes tanpa bisa terkendali.   “Hartzh dan Hagtz, bawakan ramuan penyembuh yang ada di bilik r selalu Ibu gunakan ketika ada yang terluka parah, sekarang!” perintahnya, meski dengan terisak.   “Baik, Bu!” Kedua anak tersebut, langsung pergi terbang ke tempat tujuan.   “Aku akan menyelamatkanmu. Bertahanlah, Sayang. Lukatch griotx tregth!” ucap sang istri ke tubuh suami.   Perlahan-lahan, darah yang masih mengalir di tubuh korban, kini membeku, sehingga tidak memancar lagi keluar. Tangan kanan memegang da*da fairy male yang dikasihi, untuk merasakan detak jantung, dan ternyata masih ada tanda-tanda kehidupan, meskipun lemah. Hati Vathzga, istri Hitzh, menjadi luar biasa lega.   “Terima kasih, Dewi Avtagh,” kata ibu dua orang anak tersebut, penuh syukur. Air mata masih turun di pipi wanita cantik itu. Ia merasa tak berdaya, karena pasangan terbaring lemah, bahkan ada kemungkinan kehilangan suami, jika terlambat datang ke rumah.   *** Istilah bahasa asing:   1. Avtexc liotz vra firgth nauthx luentz! = Tunjukkan padaku apa yang terjadi di dunia manusia! 2. Hopht tre vrtuct! = Wahai pintu terbukalah! 3. Avtexc liotz vra firgth na Hitzh! = Tunjukkan padaku apa yang terjadi pada Hitzh! 4. Lukatch griotx tregth! = Darah berhentilah mengalir! 5. Dewi Avtagh adalah Dewi kesembuhan dan obat-obatan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN