Keesokan paginya, saat Maura baru saja keluar dari kamarnya, ia terkejut melihat sebuah undangan di atas meja. Undangan tersebut adalah untuk pertunangan antara Dewa dan Keyla. Maura merasa hatinya kembali tertekan. Pengkhianatan yang baru saja dia ketahui tampaknya semakin memburuk dengan berita ini. Dia merasa bingung dan cemas tentang bagaimana mengatasi situasi ini, terutama sekarang ketika Dewa tampaknya melangkah ke arah komitmen baru dengan Keyla tanpa mengetahui kebenaran yang ada. Maura duduk di sofa, terus memegang undangan itu dengan tangan gemetar. Dia merenung, berpikir apakah ini adalah kesempatan untuk mengungkapkan kebenaran yang dia ketahui. "Jika ini adalah pertunangan antara Mas Dewa dan Keyla, mungkin inilah saatnya aku untuk berbicara," pikirnya. "Aku tidak bisa m

